Kerja sama Indonesia dan Rusia nggak cuma soal dagang bilateral, tapi udah nyentuh ke arena geopolitik dan platform multilateral!
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, negesin kalau Indonesia ngasih komitmen kuat buat ngedukung program-program di bawah naungan BRICS.
Ini nunjukin posisi Indonesia yang makin strategis di panggung global.
Salah satu fokus utama Indonesia adalah partisipasi aktif di BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC). Kerja sama ini bakal fokus ke pengembangan sektor-sektor super modern kayak digitalisasi industri, teknologi mobilitas baru, transportasi tanpa awak, kecerdasan buatan, dan bioindustri.
IEAEU FTA dan Daya Saing Tarif
Selain BRICS, Indonesia juga ngasih dukungan penuh buat percepatan penyelesaian dan penandatanganan Indonesia Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (IEAEU FTA).
Perjanjian ini dipandang penting banget karena bakal membuka akses pasar yang lebih luas bagi industri Indonesia.
Agus yakin kalau IEAEU FTA bakal ningkatin daya saing tarif dan mengurangi hambatan non-tarif, ngebikin produk-produk nasional lebih gampang nembus kawasan Eurasia.
INNOPROM 2026: Panggung Pamer Kekuatan RI
Nah, puncak dari sinergi ini bakal terjadi di tahun 2026! Indonesia udah siap buat tampil sebagai Partner Country pada perhelatan INNOPROM 2026 di Rusia (6-9 Juli 2026).
INNOPROM ini loh pameran industri terbesar di Rusia. Partisipasi ini bener-bener peluang strategis buat nunjukin kekuatan industri manufaktur nasional ke pasar Rusia dan global.
Agus sampe minta dukungan penuh dari Pemerintah Rusia biar keterlibatan Indonesia sebagai Partner Country ini bisa berjalan optimal.
INNOPROM 2026 dianggap momentum penting buat ketemu langsung pelaku industri kedua negara dan nyiptain peluang kolaborasi baru yang bakal nguntungin Indonesia.
Deep Dive ke Teknologi Green dan Smart
Semua deal ini, dari BRICS sampe INNOPROM, nunjukin kalau kerja sama industri Indonesia-Rusia udah nggak cuma soal jual-beli barang lama.
Tapi udah masuk ke level transfer teknologi dan modernisasi industri. Fokus di digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), dan bioindustri lewat BCIC ngebuktikan Indonesia serius mau ngejar target jadi industri cerdas, hijau, dan inklusif. Ini langkah kece buat naikin kelas industri nasional.
Statement:
Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian
“Kami menilai BCIC merupakan platform strategis bagi transfer teknologi dan percepatan modernisasi industri nasional menuju industri yang cerdas, hijau, dan inklusif. Kami berharap perjanjian ini [IEAEU FTA] dapat segera ditandatangani dan menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan rantai pasok.”
3 Poin Penting:
-
Komitmen Kuat pada BRICS: Indonesia menegaskan komitmennya di BRICS, khususnya melalui partisipasi di BRICS Centre for Industrial Competences (BCIC) untuk transfer teknologi dan modernisasi industri di sektor AI dan digitalisasi.
-
Dukungan Penuh IEAEU FTA: Indonesia mendukung percepatan penandatanganan IEAEU FTA (Indonesia Eurasian Economic Union Free Trade Agreement) untuk membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing tarif, dan memperkuat rantai pasok.
-
Partner Country INNOPROM 2026: Indonesia akan tampil sebagai Partner Country pada pameran industri terbesar Rusia, INNOPROM 2026, yang dijadikan momentum strategis untuk memperkenalkan kekuatan manufaktur nasional ke pasar global dan mencari peluang kolaborasi baru.
![google kena gugatan [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/61076e8a5b359-300x200.jpg)

![melaksanakan ibadah haji [dok. baznas]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/file-2-300x169.jpeg)
![Jenderal Dan Caine [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Air-Force-Gen.-Dan-Caine-300x169.webp)