Kabar mengejutkan datang dari raksasa otomotif asal Jepang, Honda, yang baru saja mencatatkan rapor merah dalam laporan keuangan terbaru mereka.
Tidak tanggung-tanggung, Honda resmi membukukan rugi operasional hingga 414,3 miliar yen atau setara dengan Rp 42 triliun.
Kerugian fantastis ini terjadi akibat membengkaknya biaya restrukturisasi pada lini bisnis kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang selama ini digadang-gadang menjadi masa depan perusahaan.
Kondisi finansial yang kurang sedap ini akhirnya memaksa manajemen Honda untuk mengambil langkah ekstrem demi menyelamatkan bisnis mereka.
Alih-alih nekat melanjutkan ambisi besar yang sedang goyah, perusahaan memilih untuk realistis dengan merevisi total target elektrifikasi global mereka.
Strategi bisnis pun langsung diubah haluan, di mana Honda kini memilih fokus mengalihkan investasi besar-besaran mereka ke segmen kendaraan hybrid yang dinilai lebih aman dan diminati pasar saat ini.
Strategi Baru Honda: Bye Target Ambisius, Hello Mesin Hybrid
Langkah konkret dari pengereman darurat ini ditandai dengan keputusan Honda untuk membatalkan target ambisius mereka di lantai industri EV.
Target awal yang mengharuskan penjualan EV menyumbang $20\%$dari total penjualan pada tahun 2030 resmi dicabut.
Tidak hanya itu, pabrikan berlogo huruf ‘H’ ini juga menghapus target penjualan kendaraan $100\%$ listrik atau fuel-cell yang sebelumnya dicanangkan bakal tercapai sepenuhnya pada tahun 2040 mendatang.
Dampak dari revisi besar-besaran ini juga langsung memukul sejumlah proyek strategis berskala global yang sedang berjalan.
Salah satu keputusan paling berat yang diambil manajemen adalah menangguhkan mega proyek rantai pasok EV dan baterai di Kanada yang memiliki nilai investasi fantastis mencapai 11 miliar dolar AS.
Saat ini, fasilitas produksi dan sumber daya yang ada akan dialihkan untuk mempercepat peluncuran model-model bermesin ganda alias hybrid demi membendung dominasi pabrikan asal China.
Motor Jadi Juru Selamat di Tengah Lesunya Pasar Mobil Listrik
Meskipun divisi roda empat sedang babak belur menghadapi badai restrukturisasi, Honda masih bisa bernapas lega berkat performa impresif dari lini bisnis sepeda motor mereka.
Divisi roda dua justru sukses menjadi pahlawan kesiangan dengan mencatatkan rekor volume penjualan serta laba operasional tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
Penjualan motor yang melesat tajam di negara berkembang terbukti ampuh menjadi benteng pertahanan finansial korporasi.
Badai EV Ternyata Juga Sasar Produsen Otomotif Raksasa Dunia
Fenomena lesunya pasar kendaraan listrik rupanya bukan cuma masalah domestik bagi Honda sendirian, melainkan sebuah tren pahit yang sedang menjangkiti produsen otomotif global.
Di Amerika Serikat, raksasa industri sekelas Ford, Stellantis, dan General Motors (GM) juga dipaksa gigit jari setelah mencatatkan kerugian besar.
Banyak dari mereka yang terpaksa memotong nilai aset akibat penurunan investasi EV yang dipicu oleh melemahnya permintaan konsumen serta perubahan kebijakan subsidi ramah lingkungan.
Kondisi di dalam negeri Jepang sendiri tidak jauh berbeda, di mana rival abadi Honda juga sedang sibuk mengatur ulang strategi bertahan hidup mereka.
Nissan dilaporkan harus melakukan restrukturisasi operasional secara menyeluruh demi efisiensi jangka panjang.
Sementara itu, Toyota tampaknya menjadi pihak yang paling diuntungkan karena sejak awal mereka konsisten mengambil pendekatan transisi yang lebih berimbang antara kendaraan hybrid dan full EV di pasar global.
Statement:
Eiji Fujimura (Direktur Keuangan Honda)
“Kami harus bersikap adaptif dengan dinamika pasar yang bergerak sangat dinamis. Ketika investasi EV membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan profit, bisnis sepeda motor kami di pasar domestik seperti India dan Brasil justru tampil sebagai perisai finansial yang sangat kokoh untuk menjaga stabilitas perusahaan.”
3 Poin Penting:
-
Kerugian Jumbo dan Revisi Target: Honda rugi operasional Rp 42 triliun akibat biaya restrukturisasi EV, yang berujung pada pembatalan target penjualan jangka panjang dan penundaan mega proyek baterai di Kanada.
-
Penyelamat dari Roda Dua: Bisnis sepeda motor Honda di India dan Brasil mencetak rekor keuntungan tertinggi, bertindak sebagai penyelamat stabilitas finansial di tengah keterpurukan divisi mobil.
-
Tren Global Menolak Tumbang: Lesunya pasar EV juga menghantam produsen global lain seperti Ford, GM, Nissan, dan Stellantis, membuat industri kini lebih condong ke kendaraan hybrid seperti strategi Toyota.
[gas/man]



![Astra Grup [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/1592406794752_upload_68461d5a14138280d043ebb6f33ad9b0-300x178.jpg)