Sampah Jadi Listrik di TPA Jatibarang Semarang: Bye-bye Gunungan Sampah, Selamat Datang Lahan 90 Hektare

Selasa, 3 Februari 2026

TPA jatibarang (tirto.id)

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, baru saja memberikan bocoran terkait masa depan pengelolaan limbah di Ibu Kota Jawa Tengah. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sedang tancap gas untuk merealisasikan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Jatibarang.

Meskipun secara blak-blakan Agustina menyebut Pemkot tidak akan mendapatkan setoran rupiah langsung dari proyek ini, target utama yang dikejar jauh lebih prestisius, yakni pemulihan lahan secara masif. Proyek PSEL ini diproyeksikan bakal menjadi solusi sapu jagat bagi masalah darurat sampah di Semarang.

Dengan kapasitas olah mencapai 1.000 ton sampah per hari, teknologi ini akan “melahap” kiriman sampah baru sekaligus membersihkan sisa-sisa gunungan sampah lama yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun.

Strategi ini bukan lagi soal mencari untung dari sisi finansial, melainkan investasi lingkungan demi menyelamatkan daya tampung wilayah dari krisis lahan pembuangan.

Barter Cuan dengan Pembebasan Lahan Raksasa 90 Hektare

Fokus utama dari proyek ambisius ini adalah membebaskan sekitar 90 hektare lahan di TPA Jatibarang yang saat ini terkubur oleh jutaan ton sampah.

Agustina menjelaskan bahwa tumpukan sampah yang sudah seperti “tambang” (mining) di lokasi tersebut mencapai angka fantastis, yakni sekitar 3 juta ton.

Jika PSEL berjalan lancar, seluruh tumpukan tersebut bisa dihabiskan dan lahan luas tersebut dapat kembali kosong untuk dimanfaatkan bagi kepentingan publik lainnya.

Walaupun Pemkot Semarang tidak memperoleh pendapatan asli daerah (PAD) dalam bentuk rupiah dari penjualan listriknya, benefit berupa ketersediaan lahan 90 hektare dinilai jauh lebih berharga.

Proyek ini dianggap sebagai langkah mendesak karena beban TPA Jatibarang sudah berada di titik kritis. Tanpa teknologi PSEL, penambahan lahan baru seluas 11 hektare sekalipun diprediksi akan penuh hanya dalam waktu satu tahun karena volume sampah warga yang terus meningkat setiap harinya.

Persiapan Teknis dan Menunggu Komando dari Danantara

Demi kelancaran proyek, Pemkot Semarang sudah menyiapkan berbagai aspek teknis sebagai pendukung utama. Mulai dari penyediaan lahan, armada truk pengangkut yang mumpuni, hingga skema bantuan pasokan sampah dari daerah tetangga seperti Kabupaten Kendal sudah masuk dalam rencana besar.

Kini, bola panas pelaksanaan proyek berada di tangan Danantara yang akan memproses penunjukan pihak pengelola atau pemenang tender proyek strategis ini.

Targetnya, pembangunan infrastruktur PSEL di TPA Jatibarang kemungkinan besar akan dimulai pada April 2026 mendatang. Proses pembangunan fisik hingga operasional diperkirakan memakan waktu sekitar 18 bulan setelah tahap ground breaking dilaksanakan.

Pihak Pemkot Semarang berkomitmen untuk terus mendampingi pemenang yang ditunjuk agar tahapan pembangunan berjalan sesuai jadwal demi mengurangi beban lingkungan di wilayah Jatibarang secepat mungkin.

Darurat Sampah Semarang Tidak Bisa Lagi Menunggu

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa sistem sanitary landfill yang saat ini diterapkan di TPA Jatibarang sudah kewalahan menghadapi kiriman 365 ribu ton sampah per tahun.

Secara teknis, penguburan sampah membutuhkan waktu jeda setidaknya satu tahun sebelum lahan yang sama bisa digunakan kembali. Kondisi ini membuat penumpukan sampah di permukaan tidak terelakkan, sehingga gunungan sampah akan terus menjulang tinggi jika PSEL tidak segera dioperasikan.

Agustina menekankan bahwa proyek ini tidak bisa ditunda-tunda lagi karena volume sampah tidak akan berhenti bertambah seiring waktu.

Setiap hari penundaan berarti tumpukan sampah akan semakin membesar dan berisiko menimbulkan masalah kesehatan serta lingkungan yang lebih serius.

Dengan kehadiran PSEL, Semarang diharapkan bisa bertransformasi menjadi kota yang lebih bersih dan memiliki tata kelola sampah yang modern sekaligus berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Statement:

Agustina Wilujeng Pramestuti, Wali Kota Semarang

“Jadi kalau benefit rupiah dari PSEL ini, tidak (dapat). Tapi kita akan mendapatkan lahan 90 hektare loh. Itu yang kita kejar. PSEL ini harus jalan, tidak bisa menunggu. Semakin menunggu, semakin tumpukan sampahnya semakin besar. Walaupun kita menambah 11 hektare, tidak cukup ini.”

3 Poin Penting:

  • Pemkot Semarang memprioritaskan proyek PSEL di TPA Jatibarang untuk membebaskan 90 hektare lahan dari tumpukan 3 juta ton sampah lama dan 1.000 ton kiriman sampah baru setiap hari.

  • Proyek ini tidak memberikan pendapatan langsung berupa rupiah kepada Pemkot, namun memberikan keuntungan strategis berupa pemulihan lahan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

  • Infrastruktur PSEL direncanakan mulai dibangun pada April 2026 dengan estimasi waktu pengerjaan selama 18 bulan pasca-penunjukan pelaksana oleh Danantara.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir