Bicara soal pahlawan, mungkin pikiran kita langsung tertuju pada bambu runcing atau medan perang. Tapi, buat anak muda zaman sekarang yang nggak bisa lepas dari gadget dan informasi, ada satu sosok “OG” (Original Gangster) yang berjuang bukan pakai pedang, melainkan lewat goresan pena.
Yup, dia adalah Raden Mas Djokomono alias Tirto Adhi Soerjo (TAS). Kalau sekarang kita punya influencer atau content creator yang vokal di media sosial, Tirto adalah pelopornya di era 1900-an.
Tirto bukan cuma sekadar wartawan biasa. Di tengah tekanan kolonial Belanda, dia berani mendobrak batas dengan mendirikan Medan Prijaji pada 1907.
Ini bukan sembarang koran, guys. Medan Prijaji adalah surat kabar nasional pertama yang pakai bahasa Melayu dan semua krunya adalah orang asli pribumi.
Bayangkan, di zaman itu dia sudah punya visi “dari rakyat untuk rakyat” sebelum istilah itu keren seperti sekarang.
Pena Tajam sang Pahlawan dan Jejak Digital Masa Lalu
Gaya menulis Tirto itu “pedas” banget, bahkan kalau dia hidup di era sekarang, mungkin tulisan-tulisannya bakal sering trending atau malah kena “cancel” oleh pemerintah kolonial.
Dia pun nggak segan-segan mengkritik pejabat Belanda yang semena-mena.
Akibat keberaniannya itu, dia harus merasakan pahitnya pengasingan ke Pulau Bacan, Maluku Utara. Tapi, justru dari sana namanya makin melegenda sebagai jurnalis yang nggak bisa dibeli.
Kisah hidupnya yang sinematik ini bahkan bikin sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer jatuh cinta dan menjadikannya inspirasi utama tokoh Minke dalam Tetralogi Buru.
Menariknya, semangat Tirto inilah yang menjadi cikal bakal perayaan Hari Pers Nasional (HPN) yang kita peringati setiap 9 Februari.
HPN bukan sekadar seremoni, tapi pengingat bahwa pers adalah pilar demokrasi yang dibangun dengan keringat dan air mata sang pionir ini.
Organisasi dan Pergerakan: Lebih dari Sekadar Tulisan
Tirto juga seorang social entrepreneur pada masanya. Dia nggak cuma sibuk nulis, tapi juga mendirikan Sarekat Prijaji pada 1906.
Tujuannya mulia banget, yaitu bikin lembaga dana pendidikan (studiefonds) buat anak-anak pribumi yang nggak mampu.
Dia pengin bangsa Indonesia—yang dulu dia sebut “bangsa yang terprentah”—bisa pintar dan lepas dari penjara kolonial lewat jalur pendidikan dan asrama murah.
Nggak berhenti di situ, Tirto juga terlibat dalam pembentukan Sarekat Dagang Islamiyah (SDI-ah) di Bogor. Dia pengin pedagang lokal bisa bersaing sama pedagang asing.
Bahkan, dialah sosok di balik layar yang membantu Haji Samanhudi meresmikan organisasi di Solo yang kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI).
Visinya jelas: pers dan organisasi adalah senjata utama untuk membentuk pendapat umum dan menggerakkan massa.
Warisan untuk Generasi Z dan Alpha
Meskipun Tirto meninggal dalam kondisi depresi di Batavia pada 1918, warisannya abadi. Pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional pada 1973 dan Pahlawan Nasional pada 2006.
Buat kita yang hidup di era banjir informasi, Tirto mengajarkan satu hal penting: integritas.
Menjadi jurnalis atau penyebar informasi bukan cuma soal cari views atau likes, tapi soal membela kebenaran dan menjadi penyambung lidah mereka yang tertindas.
Menyambut Hari Pers Nasional, yuk kita ambil spirit dari Sang Pemula. Di tengah maraknya hoaks dan berita clickbait, kita butuh sosok-sosok jurnalis muda yang punya ketajaman pena seperti Tirto.
Dia membuktikan bahwa bahasa dan informasi adalah alat propaganda paling ampuh untuk membawa perubahan. Jadi, jangan cuma jadi konsumen konten, tapi jadilah penggerak yang cerdas dan kritis seperti sang legenda dari Blora ini.
Kutipan:
Ki Hajar Dewantara (1952)
“Kira-kira pada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang ia pegang… Ia boleh disebut pelopor dalam lapangan journalistik.”
3 Poin Penting:
-
Pionir Pers Pribumi: Tirto Adhi Soerjo mendirikan Medan Prijaji, surat kabar nasional pertama yang dikelola sepenuhnya oleh pribumi dan menggunakan bahasa Melayu sebagai alat pemersatu.
-
Aktivis Pergerakan Nasional: Selain jurnalisme, ia aktif mendirikan organisasi strategis seperti Sarekat Prijaji dan Sarekat Dagang Islamiyah untuk memajukan pendidikan serta ekonomi kaum bumiputra.
-
Bapak Pers Nasional: Keberaniannya mengkritik kolonialisme membuatnya diasingkan, namun dedikasinya diakui negara hingga ia ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional dan Pahlawan Nasional.



