Dunia konservasi internasional baru saja mendapat kabar super fantastis yang membikin bangga sekaligus haru.
Sejumlah satwa langka ikonik asal Indonesia, mulai dari Badak Sumatera, Rusa Bawean, Trenggiling Malaya, hingga Echidna Paruh Panjang Attenborough, resmi terpilih masuk ke dalam daftar spesies prioritas Phoenix Species Project.
Inisiatif konservasi global skala raksasa ini digagas langsung oleh aktor pemenang Oscar, Leonardo DiCaprio, berkolaborasi dengan miliarder pendiri Amazon, Jeff Bezos.
Melalui kemitraan strategis antara organisasi Re:wild dan Bezos Earth Fund, proyek filantropi ini menggelontorkan dana hibah awal bernilai fantastis mencapai 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,2 triliun.
Alokasi dana segar ini dikucurkan khusus untuk mendanai upaya pemulihan 100 spesies paling terancam punah di dunia yang tersebar di 30 negara.
Phoenix Species Project bahkan dicatat sebagai komitmen filantropi terbesar sepanjang sejarah yang difokuskan menyelamatkan satwa berstatus Critically Endangered (Kritis Terancam Punah) dan Extinct in the Wild (Punah di Alam Liar).
Komitmen Jangka Panjang Dampingi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal
Pendekatan aksi yang diusung dalam Phoenix Species Project terbilang cukup berbeda bila dibandingkan dengan skema hibah konservasi biasa.
Program ini tidak mengadopsi model bantuan jangka pendek yang serba cepat habis, melainkan menyediakan suntikan dana berkelanjutan dalam kurun waktu jangka panjang.
Langkah ini ditempuh demi memberikan kepastian pemulihan bagi keanekaragaman hayati yang sudah sangat kritis di ambang batas kepunahan.
Dalam eksekusinya di lapangan, proyek raksasa ini bakal mengandalkan kolaborasi erat bersama masyarakat adat, komunitas lokal, jajaran ilmuwan, hingga para pegiat lingkungan di berbagai penjuru dunia.
Kelompok satwa dan tumbuhan yang dilindungi pun sangat beragam, mencakup mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, hingga flora unik yang tersebar di habitat hutan hujan tropis, lautan lepas, danau air tawar, hingga kawasan dataran vulkanik.
Empat Satwa Endemik Indonesia yang Menjadi Fokus Utama Pemulihan
Empat fauna kebanggaan Indonesia menjadi sorotan utama dalam daftar penyelamatan Phoenix Species Project.
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) menjadi salah satu penerima perhatian tertinggi lantaran populasinya yang kian tergerus dan kini hanya tersisa di beberapa kantong hutan Sumatera.
Selain itu, ada Trenggiling Malaya (Manis javanica) yang masuk daftar fokus karena menjadi salah satu koruptor mamalia yang paling banyak diburu serta diperdagangkan secara ilegal di kancah internasional.
Tak ketinggalan, ada Echidna Paruh Panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi), yakni mamalia bertelur sangat langka yang menghuni kawasan Pegunungan Cyclops, Papua, serta Rusa Bawean yang merupakan spesies endemik Pulau Bawean, Jawa Timur.
Keempat satwa kebanggaan Nusantara ini diprioritaskan agar populasinya dapat tumbuh kembali serta terbebas dari ancaman kepunahan total di habitat aslinya.
Misi Penyelamatan Global Menyeluruh Mencakup Fauna Mancanegara
Selain mengamankan keanekaragaman hayati asal Nusantara, proyek Phoenix Species Project juga menjangkau keberlanjutan spesies terancam dari negara-negara sahabat.
Pada kategori mamalia, terdapat lemur berjambul kuning dan indri dari Madagaskar, babi hutan Visayan dari Filipina, hingga tikus Cozumel asal Meksiko.
Di sektor unggas, ada burung kakapo asal Selandia Baru serta night parrot asal Australia yang sempat dikira telah punah.
Sektor amfibi, reptil, hingga ikan air tawar juga tak luput dari jangkauan proyek ini, seperti kura-kura bercangkang pipih, iguana merah muda Galapagos, hingga pari purba bowmouth guitarfish yang kerap diburu siripnya.
Rangkaian program kerja yang akan dijalankan mencakup penangkaran intensif, translokasi satwa, pengendalian spesies invasif, penanganan penyakit, hingga restorasi habitat asli secara masif.
Harapan Besar Pemulihan Ekosistem dan Mitigasi Krisis Iklim Dunia
Konsorsium pendanaan sebesar Rp3,2 triliun ini bersumber dari gabungan Bezos Earth Fund sebesar 100 juta dolar AS serta Re:wild sebesar 100 juta dolar AS yang didukung oleh Leonardo DiCaprio, Age of Union, dan Todd Graves Family Foundation.
Inisiatif ini juga dirancang untuk mendukung penuh pencapaian Target 4 Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework demi menghentikan laju kepunahan keanekaragaman hayati di planet Bumi.
Bergabungnya lebih dari 100 mitra lokal dan internasional menjadi tumpuan agar Phoenix Species Project berjalan tepat sasaran.
Melindungi keberadaan satwa-satwa kritis ini dipandang bukan sekadar menyelamatkan satu spesies semata, melainkan juga menjaga keutuhan hutan, lahan basah, serta lautan tempat mereka hidup.
Dengan ekosistem yang pulih, rantai kehidupan alam dapat kembali seimbang sekaligus menjadi benteng alami dalam menghadapi ancaman krisis iklim global.
Statement:
Leonardo DiCaprio, Aktor & Pendiri Re:wild
“Spesies yang berada di ambang kepunahan merupakan penopang berbagai ekosistem penting. Ketika kita melindungi spesies tersebut, kita juga melindungi hutan, lahan basah, padang rumput, dan lautan yang menjadi habitatnya. Phoenix Species Project berpotensi mengubah cara dunia melakukan konservasi sekaligus membantu menghadapi krisis iklim.”
Vivek Menon, Ketua IUCN Species Survival Commission
“Melindungi spesies berarti menjaga kehidupan di Bumi. Investasi besar ini akan mempercepat penyelamatan puluhan spesies yang kini berada di ambang kepunahan.”
3 Poin Penting:
-
Inisiatif Filantropi Rp3,2 Triliun: Leonardo DiCaprio dan Jeff Bezos meluncurkan Phoenix Species Projectdengan dana awal 200 juta dolar AS untuk menyelamatkan 100 spesies paling terancam punah di dunia.
-
Empat Satwa Indonesia Masuk Prioritas: Badak Sumatera, Trenggiling Malaya, Echidna Paruh Panjang Attenborough, dan Rusa Bawean resmi menjadi prioritas utama pemulihan populasi dan habitat.
-
Pendanaan Jangka Panjang & Kemitraan: Program mengusung pendanaan jangka panjang yang melibatkan masyarakat adat, ilmuwan, serta lebih dari 100 mitra global untuk merestorasi ekosistem dan menekan krisis iklim.



