Sekolah Elit Tolak Makan Bergizi Gratis, Badan Gizi Nasional Tegaskan Tidak Ada Paksaan

Senin, 26 Januari 2026

Program MBG (istimewa)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah gencar disalurkan pemerintah ternyata menemui dinamika unik di lapangan.

Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, sejumlah sekolah kategori elit dengan jumlah siswa mencapai ribuan dilaporkan menolak menerima penyaluran paket makanan tersebut.

Kabar ini mencuat setelah para Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat memberikan laporan langsung kepada pihak Badan Gizi Nasional (BGN) dalam rapat evaluasi akhir pekan kemarin.

Fenomena penolakan ini menjadi bahan perbincangan hangat, mengingat program MBG sejatinya dirancang untuk meningkatkan kualitas kesehatan anak bangsa secara merata.

Meski begitu, sekolah-sekolah yang didominasi oleh siswa dari keluarga mampu tersebut merasa bahwa kebutuhan gizi murid-murid mereka sudah tercukupi secara mandiri.

Hal ini memicu diskusi mengenai efektivitas distribusi bantuan agar tetap tepat sasaran tanpa menimbulkan pemborosan anggaran negara.

Respons Badan Gizi Nasional Terkait Hak Kebebasan Sekolah

Menanggapi adanya penolakan tersebut, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang, memberikan pernyataan yang sangat menyejukkan.

Ia memastikan bahwa pemerintah tidak akan menerapkan standar ganda atau paksaan bagi institusi pendidikan yang merasa belum membutuhkan program ini.

Menurut Nanik, para petugas di lapangan, terutama jajaran SPPG, harus menghormati keputusan setiap yayasan atau pengelola sekolah tanpa perlu merasa tersinggung.

Kebijakan ini diambil agar suasana belajar mengajar tetap kondusif dan tidak terganggu oleh isu-isu administratif yang bersifat teknis.

Nanik menekankan bahwa jika sebuah sekolah merasa siswanya berasal dari latar belakang ekonomi yang sudah mapan, maka jatah makanan tersebut bisa dialokasikan ke wilayah atau sekolah lain yang jauh lebih membutuhkan.

Langkah ini dinilai lebih bijak daripada memaksakan bantuan kepada mereka yang sudah merasa cukup.

Sukarela dan Tanpa Intimidasi demi Keberlanjutan Program

Pemerintah secara tegas melarang adanya segala bentuk intimidasi terhadap sekolah-sekolah yang memutuskan untuk absen dari program MBG.

Nanik mengingatkan jangan sampai muncul narasi negatif yang menyebut sekolah tersebut tidak mendukung program pemerintah atau tidak patriotik.

Sifat dari program Makan Bergizi Gratis ini adalah sukarela dan didasarkan pada kebutuhan riil di lapangan, sehingga fleksibilitas menjadi kunci utama dalam implementasinya.

Niat tulus pemerintah melalui Badan Gizi Nasional adalah memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang kekurangan gizi atau stunting. Namun, dalam praktiknya, efisiensi distribusi harus tetap dikedepankan.

Dengan memberikan ruang bagi sekolah elit untuk menolak, pemerintah justru bisa lebih fokus menyisir daerah-daerah terpencil atau sekolah dengan tingkat ekonomi rendah yang memang sangat bergantung pada bantuan makanan bergizi tersebut.

Fokus pada Pemerataan Gizi bagi Seluruh Anak Indonesia

Meskipun ada dinamika di segmen sekolah tertentu, BGN tetap berkomitmen untuk menyukseskan program MBG di seluruh wilayah Indonesia.

Evaluasi di Banyuwangi ini menjadi pelajaran berharga bagi para pemangku kepentingan bahwa pendekatan yang humanis lebih efektif daripada pendekatan instruksional.

Koordinasi dengan Forkopimda dan yayasan pendidikan akan terus ditingkatkan guna menyelaraskan data penerima manfaat yang paling membutuhkan dukungan nutrisi harian.

Ke depannya, Badan Gizi Nasional akan terus memantau kualitas makanan yang disalurkan agar standar gizinya tetap terjaga sesuai prosedur yang ditetapkan.

Bagi sekolah yang menerima, diharapkan program ini bisa menjadi pemicu peningkatan konsentrasi dan prestasi belajar siswa.

Sementara bagi yang belum bergabung, pintu kerja sama tetap terbuka lebar jika di masa depan mereka merasa membutuhkan dukungan pemenuhan gizi bagi para peserta didiknya.

Statement:

Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional

“Para Kepala SPPG tidak boleh memaksa. Kalau ada sekolah yang tidak mau menerima MBG, karena misalnya para siswa sekolah itu anak-anak orang yang mampu, ya tidak apa-apa. Dari BGN tidak ada unsur pemaksaan sedikit pun. Niat pemerintah adalah memberikan Makan Gratis kepada seluruh anak Indonesia agar tidak ada seorang pun yang tidak mendapatkan gizi yang baik, namun penerimaannya tetap bersifat sukarela.”

3 Poin Penting:

  • Prinsip Sukarela: Badan Gizi Nasional menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak bersifat wajib dan tidak boleh ada paksaan atau intimidasi terhadap sekolah yang menolak.

  • Tepat Sasaran: Penolakan dari sekolah elit di Banyuwangi diterima dengan baik agar alokasi gizi dapat dialihkan secara lebih efektif kepada anak-anak yang memang membutuhkan bantuan nutrisi.

  • Dukungan Pemerintah: Fokus utama BGN tetap pada pemerataan gizi nasional tanpa memberi label negatif kepada institusi pendidikan yang memutuskan untuk tidak ikut serta dalam program tersebut.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir