Search

Senja di Kafe tapi Adab di Rumah Jebol: Fenomena Anak Muda Lupakan Hukum Sakral Magrib

Senin, 29 Juni 2026

Sejak di Cafe (tribunnews Depok)

Ada sebuah memori kolektif yang super disiplin yang dulu pernah dialami oleh hampir semua anak yang tumbuh di tengah masyarakat kita, yakni hukum tidak tertulis menjelang datangnya waktu magrib.

Dulu, penanda waktu senja itu ditaati bagaikan kompas hidup yang sangat mutlak. Sebelum kumandang azan menggema, anak-anak sudah harus menghentikan segala jenis permainan luar ruang dan wajib berada di dalam rumah demi berkumpul bersama pelukan hangat keluarga.

Namun, kalau kita berselancar melihat realitas hari ini, aturan adat tidak tertulis itu seolah-olah menguap tanpa bekas digilas zaman.

Tengok saja sudut-sudut kota urban saat matahari mulai tenggelam dan berganti malam. Ketika muazin mengumandangkan panggilan ibadah, meja-meja di kedai kopi (coffee shop) dan kafe estetik justru baru mulai dipadati oleh gerombolan anak muda.

Fungsi rumah pun mengalami penyusutan makna yang tragis, sering kali hanya menjadi tempat menumpang tidur dan mandi, sementara kafe telah diambil alih menjadi “ruang tamu” baru untuk eksistensi mereka.

Runtuhnya Falsafah Adat Bujang Berine Beru Berama di Era Modern

Pergeseran kultur tongkrongan ini sebenarnya bukan sekadar masalah selera tempat kongko, melainkan sebuah sinyal runtuhnya otoritas paling mendasar dalam hidup kita, yaitu institusi keluarga dan tatanan adat.

Padahal, masyarakat Gayo sejak zaman leluhur telah mematri sebuah falsafah luhur yang sangat mendalam: “Bujang berine, beru berama” yang berarti anak laki-laki milik ibunya dan anak perempuan milik ayahnya.

Peribahasa ini menegaskan adanya pengawasan ketat, tanggung jawab penuh, serta otoritas mutlak orang tua dalam menjaga moralitas serta kehormatan anak-anak mereka.

Ketegasan orang tua zaman dulu yang sangat disiplin saat senja tiba sejatinya lahir dari visi yang jelas untuk menempa mental anak agar kuat, tahu batas kesopanan, dan bermanfaat bagi lingkungan.

Sayangnya, atas nama modernitas dan dalih kebebasan mengekspresikan diri, tatanan luhur itu kini terasa makin mendekati punah dan kehilangan taringnya.

Kafe-kafe malam hari ini telah menjelma menjadi “zona bebas nilai” yang membuat anak-anak muda merasa bisa lepas seutuhnya dari pengawasan domestik rumah.

Matinya Gotong Royong Moral dan Krisis Adat di Ruang Publik

Runtuhnya tatanan adat ini diperparah pula oleh hilangnya sistem kontrol sosial yang dulu sangat erat di tengah kehidupan masyarakat komunal.

Jika dulu membesarkan anak adalah tanggung jawab bersama satu kampung—di mana tetangga berhak menegur keras anak keluyuran—kini perilaku gotong royong moral itu sudah mati.

Masyarakat modern telah berubah menjadi individualis dengan prinsip kaku “urus saja urusan masing-masing”, sehingga anak muda merasa bebas tanpa pengawas seolah tidak ada hukum adat yang mengikat mereka di tanah leluhur.

Tragedi terbesar dari semua pergeseran ini bermuara pada satu hal krusial, yaitu terkikisnya adab dan sopan santun di dalam dada generasi muda akibat liarnya dunia digital.

Banyak remaja yang merasa lebih pintar dari orang tuanya hanya karena memiliki akses informasi tanpa batas di internet, sehingga memandang remeh nasihat dari rumah.

Mereka menjadi keras kepala, berani membantah dengan ketus saat dilarang keluyuran malam, dan sibuk mengejar validasi semu di meja kafe demi menjaga gengsi di depan teman-temannya.

Mengembalikan Kewibawaan Rumah dan Jam Sakral Keluarga

Menghadapi runtuhnya adab dan hilangnya kontrol sosial ini, tidak sedikit orang tua hari ini yang mulai lelah, kalah berargumen, hingga akhirnya memilih pasrah dan angkat tangan.

Ketika kendali dari ruang tengah rumah sudah jebol, maka secara otomatis lampu-lampu kafe dan kerasnya jalanan malam yang akan mengambil alih pendidikan karakter anak-anak.

Kita tentu tidak bisa menghentikan laju waktu atau meruntuhkan kafe yang menjamur, namun kita wajib menyelamatkan moralitas anak yang ada di dalam rumah kita sendiri.

Solusi terbaik harus dimulai dengan menghidupkan kembali roh kewibawaan orang tua serta menetapkan “Jam Sakral Keluarga” di mana gawai diletakkan setelah senja.

Anak muda harus disadarkan bahwa segelas kopi paling mahal di tempat nongkrong estetik tidak akan pernah bisa membeli rida dan keberkahan dari ayah dan ibu yang mereka tinggalkan.

Menjadi generasi modern yang gaul tidak boleh membuat kita kehilangan identitas diri, sebab ilmu setinggi apa pun akan menjadi sampah jika tidak dibarengi dengan adab dan rasa hormat kepada orang tua.

3 Poin Penting:

  • Pergeseran Fungsi Rumah: Kafe kini telah mengambil alih peran rumah sebagai “ruang tamu” baru bagi anak muda, yang sering kali mengabaikan batas waktu magrib demi eksistensi sosial.

  • Krisis Adat dan Adab: Falsafah luhur seperti Bujang berine, beru berama dan sistem pengawasan sosial komunal mulai luntur, memicu runtuhnya moralitas dan kepatuhan remaja terhadap orang tua.

  • Pentingnya Kendali Keluarga: Diperlukan langkah tegas dari orang tua untuk menghidupkan kembali “Jam Sakral Keluarga” tanpa gawai demi menyelamatkan karakter anak dari liarnya pengaruh jalanan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan