Search

Solusi Cerdas Atasi Krisis Lahan: UGM Kenalkan Teknologi Agrivoltaic Berbasis Panel Surya

Sabtu, 27 Juni 2026

Teknologi Agrivoltaic (ist)

Sektor pertanian di Indonesia tampaknya sedang tidak baik-baik saja dan butuh sentuhan inovasi segar dari generasi muda.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sedikitnya 89,54% lahan pertanian di tanah air dinilai belum memenuhi standar produktivitas yang berkelanjutan.

Masalah pelik ini dipicu oleh penggunaan bahan kimia secara masif, pengolahan tanah serta eksploitasi air yang berlebihan, hingga konflik sosial, ditambah lagi ancaman kekeringan akibat El Nino yang diprediksi bertahan sampai awal 2027.

Melihat kondisi yang cukup mengkhawatirkan ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) langsung ambil tindakan dengan mengenalkan konsep mutakhir bernama agrivoltaic.

Inovasi teknologi hijau ini mengintegrasikan pemasangan panel surya di atas lahan pertanian aktif sebagai solusi pemanfaatan ruang yang efisien.

Terinspirasi dari kesuksesan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata yang berkapasitas ratusan megawatt, konsep ini diproyeksikan menjadi jawaban atas krisis pangan dan energi nasional.

Kolaborasi Keren Smart Farming dan Sensor Robotik di Desa Pandowoharjo

Uji coba teknologi canggih ini sudah sukses diterapkan di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan dioperasikan langsung oleh komunitas petani setempat.

Dikembangkan bersama para pakar akademis, sistem pertanian pintar (smart farming) ini bertumpu pada tiga pilar utama.

Pilar tersebut meliputi Management Information System (MIS) untuk pengambilan keputusan, pertanian presisi (precision agriculture), serta sistem optimalisasi berbasis mekanisasi robotik.

Penerapan smart farming di lahan terbuka diakui jauh lebih menantang daripada di dalam greenhouse akibat faktor cuaca yang sering kali berubah secara tidak menentu.

Oleh karena itu, para peneliti menyiasatinya dengan mengintegrasikan penggunaan drone surveillance untuk pemetaan udara dan drone sprayer untuk penyemprotan otomatis.

Alat-alat canggih tersebut dikoneksikan dengan sensor tanah portabel guna memberikan pasokan informasi kebutuhan tanaman secara akurat dan real-time.

Efisiensi Energi Skala Besar Lewat Metode Tumpang Sari Panel Surya

Menariknya, konsep agrivoltaic ini juga telah terbukti sukses diterapkan dalam skala besar oleh Solar Research Institute (SRI) asal Malaysia untuk memangkas tagihan listrik institusi.

Metode ini menciptakan hubungan simbiosis mutualisme, di mana aktivitas pertanian dapat mendukung optimalisasi panel surya, begitu pula sebaliknya.

Tanaman merambat seperti pegaga ditanam tepat di bawah struktur panel surya setinggi dada untuk mencegah terjadinya erosi tanah di area ladang surya.

Pada saat yang sama, pasokan listrik yang dipanen dari panel surya tersebut dialirkan kembali untuk menyuplai daya bagi teknologi pengontrol lingkungan di dalam rumah kaca.

Melalui integrasi sensor suhu, proses budidaya tanaman hortikultura seperti tomat ceri dapat berjalan sepenuhnya secara otomatis dan mandiri.

Implementasi nyata ini menjadi bukti otentik bahwa sektor energi terbarukan dapat berjalan beriringan dengan industri ketahanan pangan modern.

Mahasiswa KKN UGM Siap Boyong Paket Teknologi Hijau ke Daerah Pelosok

Melihat potensi dampaknya yang luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat, teknologi tepat guna ini rencananya bakal langsung diboyong oleh para mahasiswa KKN UGM ke berbagai daerah terpencil di Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung, para mahasiswa tersebut akan membawa paket kombinasi ramah lingkungan yang mengawinkan panel surya sebagai sumber energi mandiri dengan perangkat Starlink untuk membuka akses internet.

Langkah ini diharapkan mampu memicu digitalisasi perdesaan secara masif.

Namun, implementasi teknologi di tingkat akar rumput ini tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat fisik semata.

Pihak universitas menekankan pentingnya mempersiapkan kapasitas masyarakat setempat serta membangun ekosistem pendukung yang berkelanjutan agar teknologi tersebut dapat dirawat secara mandiri.

Melalui persiapan yang matang, diharapkan pasokan energi bersih dan teknologi pertanian modern ini dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat dengan harga yang sangat terjangkau.

Statement:

Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM

“Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat. Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat.”

Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., Direktur DPkM UGM

“Penerapan teknologi tepat guna di masyarakat diharapkan tidak sekedar membawa teknologi, tetapi bagaimana menyiapkan masyarakat, kemudian membuat ekosistem yang mendukung untuk terselenggaranya teknologi tersebut.”

3 Poin Penting:

  • Konsep Inovatif Agrivoltaic: UGM mengenalkan teknologi agrivoltaic yang mengintegrasikan panel surya di atas lahan pertanian sebagai solusi cerdas mengatasi krisis produktivitas lahan akibat perubahan iklim.

  • Penerapan Smart Farming Terintegrasi: Teknologi pertanian pintar ini mengombinasikan penggunaan sensor tanah, drone surveillance, dan drone sprayer untuk memantau kebutuhan tanaman secara presisi dan real-time.

  • Edukasi Lewat Program KKN: Paket kombinasi panel surya dan jaringan internet Starlink akan disebarluaskan oleh mahasiswa KKN UGM ke daerah pelosok demi membangun kedaulatan pangan dan energi dari desa.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan