Siapa sangka sesuatu yang biasanya dianggap memalukan justru bisa menjadi sumber penghasilan miliaran rupiah?
Stephanie Matto, model, bintang reality show, YouTuber, dan TikToker asal Amerika Serikat, pernah menghebohkan publik lewat bisnis menjual kentut dalam stoples kaca.
Dari usaha yang tidak biasa tersebut, Matto mengaku berhasil meraup sekitar USD200 ribu atau setara Rp3,5 miliar.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana kreativitas, personal branding, dan rasa penasaran publik bisa dimanfaatkan menjadi peluang bisnis, meski produknya terdengar tidak masuk akal bagi sebagian orang.
Nama Matto semakin dikenal setelah tampil dalam reality show 90 Day Fiancé. Ia kemudian memanfaatkan popularitasnya untuk membangun bisnis yang mengandalkan keunikan dan perhatian media.
Namun, di balik angka pendapatan yang fantastis, muncul pertanyaan penting: apakah semua tren yang menghasilkan uang layak dipertahankan?
Kisah Matto menjadi pengingat bahwa viralitas memang dapat mendatangkan keuntungan, tetapi pelaku bisnis tetap perlu mempertimbangkan risiko kesehatan, keberlanjutan usaha, dan dampak jangka panjang dari keputusan yang diambil.
Sempat Dilarikan ke UGD, Kesehatan Jadi Harga yang Mahal
Bisnis tersebut ternyata membawa konsekuensi bagi kesehatan Matto. Ia pernah dilarikan ke unit gawat darurat (UGD) pada Hari Natal setelah mengalami gejala yang menyerupai serangan jantung.
Menurut pengakuannya, dokter kemudian menyatakan bahwa ia mengalami sakit perut akibat penumpukan gas yang parah.
Dokter juga memperingatkannya bahwa aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi permintaan pelanggan dapat membahayakan kondisi fisiknya.
Pengalaman ini membuat Matto menyadari bahwa model bisnis yang dijalankannya tidak bisa terus dipertahankan dengan cara yang sama.
Dalam wawancaranya dengan Business Insider, Matto menjelaskan alasan di balik perubahan tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa inovasi bisnis bukan hanya tentang mencari cara untuk mendapatkan lebih banyak uang, melainkan juga memahami batas kemampuan diri.
Bagi siapa pun yang ingin membangun usaha dari tren viral, kesehatan seharusnya tetap menjadi prioritas, bukan sesuatu yang dikorbankan demi memenuhi permintaan pasar.
Dari Stoples Fisik ke NFT, Strategi Baru Mengubah Sensasi Jadi Aset Digital
Alih-alih meninggalkan bisnisnya sepenuhnya, Matto memilih mengubah pendekatan. Ia mendapat gagasan dari seorang seniman digital untuk mengembangkan stoples kentut menjadi karya seni berbasis non-fungible token (NFT).
NFT merupakan aset digital yang kepemilikan atau keunikannya dicatat menggunakan teknologi blockchain.
Bagi Matto, pendekatan ini menawarkan cara untuk melanjutkan identitas bisnisnya tanpa harus terus memproduksi produk fisik yang berdampak pada kesehatannya.
Strategi tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah ide yang awalnya bersifat sensasional dapat dikemas ulang mengikuti perkembangan teknologi.
Pada 5 Januari 2022, Matto meluncurkan koleksi NFT bernama Fart Jars, dengan harga awal US$186 atau sekitar 0,05 Ethereum per NFT.
Menurut penjelasannya, koleksi itu menghadirkan animasi dan fitur tambahan yang dapat diakses pembeli. Beberapa token juga menawarkan hadiah yang dapat ditukarkan, termasuk pakaian dalam bertanda tangan dan stoples kentut fisik yang diklaim langka.
Meski konsepnya terdengar unik, calon pembeli aset digital tetap perlu memahami bahwa harga NFT tidak otomatis meningkat seiring popularitas pembuatnya.
Nilai jual kembali, permintaan pasar, dan manfaat nyata dari sebuah koleksi digital tetap menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan.
Kreativitas Menghasilkan Uang, tetapi Jangan Tertipu Hype
Matto juga mengaku semakin tertarik mempelajari dunia kripto setelah mengembangkan proyek tersebut.
Di situs resminya, proyek Fart Jars dipromosikan sebagai koleksi NFT generatif dengan mekanisme deflasi, hadiah yang bisa ditukarkan, dan akses ke saluran Discord pribadi bagi pemegang NFT.
Namun, klaim promosi semacam itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah aset akan menguntungkan.
Dari sudut pandang bisnis, kisah Stephanie Matto memperlihatkan dua hal sekaligus: kekuatan membangun merek yang berbeda dan pentingnya mengambil keputusan secara rasional.
Kreativitas memang bisa membuka peluang pendapatan dari pasar yang tidak terduga, tetapi tidak semua produk viral memiliki prospek jangka panjang.
Konsumen perlu memeriksa manfaat, risiko, mekanisme transaksi, dan kredibilitas proyek sebelum membeli aset digital. Sementara itu, pelaku usaha dapat mengambil pelajaran dari kemampuan Matto mengubah model bisnis ketika menghadapi kendala.
Intinya, inovasi yang baik bukan sekadar menciptakan sensasi, melainkan menemukan cara yang lebih aman, realistis, dan berkelanjutan untuk mengembangkan usaha.
Statement:
3 Poin Penting:
-
Bisnis unik mendatangkan keuntungan: Stephanie Matto mengaku meraup sekitar US$200 ribu dari penjualan kentut dalam stoples sebelum mengembangkan koleksi NFT Fart Jars.
-
Kesehatan mendorong perubahan strategi: Setelah mengalami masalah kesehatan yang dikaitkan dengan penumpukan gas, Matto memikirkan ulang model bisnisnya dan beralih ke produk digital.
-
NFT bukan jaminan keuntungan: Popularitas dan konsep yang unik tidak otomatis menjadikan aset digital sebagai investasi menguntungkan. Calon pembeli perlu menilai risiko, utilitas, dan kondisi pasar secara kritis.



