Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh The Nature Conservancy (TNC) dan dipublikasikan di jurnal Nature Communications meninjau kembali efektivitas reforestasi sebagai solusi perubahan iklim.
Hasilnya menunjukkan bahwa reforestasi bukanlah “solusi ajaib” dan lahan yang benar-benar cocok untuk penanaman kembali pohon jauh lebih terbatas dari perkiraan sebelumnya.
Apa Itu Refirestasi?
Reforestasi adalah proses menanam kembali pohon di area yang sebelumnya merupakan hutan, tetapi telah mengalami kerusakan atau kehilangan vegetasi.
Tujuan utama dari reforestasi adalah untuk mengembalikan ekosistem hutan yang hilang, baik karena penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan lahan untuk pertanian, maupun bencana alam.
Secara sederhana, reforestasi fokus pada pemulihan hutan yang sudah ada sebelumnya. Hal ini berbeda dengan aforestasi, yaitu penanaman pohon di area yang sebelumnya belum pernah menjadi hutan.
Reforestasi dianggap sebagai salah satu solusi penting dalam mengatasi perubahan iklim karena memiliki banyak manfaat, di antaranya:
- Menyerap Karbon: Pohon menyerap karbon dioksida dari atmosfer, yang membantu mengurangi gas rumah kaca.
- Melindungi Keanekaragaman Hayati: Mengembalikan habitat alami bagi satwa liar yang kehilangan tempat tinggal.
- Mencegah Erosi Tanah: Akar pohon membantu menahan tanah agar tidak longsor, terutama di area perbukitan.
- Menjaga Kualitas Air: Hutan berfungsi sebagai penyaring alami yang menjaga kebersihan sumber air.
Cakupan Reforestasi dan Potensi Konflik
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti dampak sosial, potensi konflik dengan masyarakat, konservasi air, dan bahkan faktor albedo (kemampuan permukaan memantulkan cahaya matahari), para peneliti mengidentifikasi hanya 195 juta hektare lahan yang paling sesuai untuk reforestasi.
Angka ini 71-92% lebih rendah dari estimasi studi-studi sebelumnya yang cenderung mengabaikan ekosistem padang rumput alami dan hak atas tanah.
Meskipun demikian, jika lahan seluas 195 juta hektare tersebut dihijaukan kembali, diperkirakan mampu menyerap 2,2 miliar ton karbon dioksida per tahun, jumlah emisi yang setara dengan seluruh emisi Uni Eropa.
Temuan ini menegaskan bahwa reforestasi adalah tindakan yang baik, namun harus dilakukan secara selektif dan bukan menjadi satu-satunya fokus dalam menghadapi krisis iklim.
Studi ini menyimpulkan bahwa harapan berlebihan terhadap reforestasi dapat menimbulkan bias. Penanggulangan perubahan iklim hanya dapat diatasi dengan pendekatan multi-solusi, di mana prioritas utamanya tetap pada upaya mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis.



![spaceX elon musk [dok. instagram]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/SpaceXs-Elon-Musk-announced-that-the-Starship-rocket-will-make-its-first-flight-to-Mars-by-the--e1771222510226-300x168.jpg)