Laporan State of Global Climate dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengonfirmasi bahwa tahun 2024 menjadi tahun kalender pertama di mana suhu bumi naik lebih dari 1,5°C di atas era pra-industri, mencetak rekor tahun terpanas dalam 175 tahun terakhir.
Kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi mencapai 1,55 ± 0,13°C. Namun, WMO juga mencatat delapan tanda kritis krisis iklim lain yang semakin mengkhawatirkan.
Salah satu tanda utamanya adalah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang mencapai tingkat tertinggi dalam 800.000 tahun terakhir. Konsentrasi CO2 di tahun 2024 bahkan mencapai 430 ppm, jauh di atas tingkat pra-industri.
Selain itu, kandungan panas di lautan juga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pengamatan, yang berimbas pada degradasi ekosistem laut, cuaca ekstrem, dan kenaikan permukaan air laut yang mencapai level tertinggi sejak pencatatan satelit dimulai.
Ragam Fenomena Lainnya
Lebih lanjut, laporan ini menyoroti peningkatan keasaman lautan yang terus berlanjut. Kondisi ini membahayakan ekosistem laut dan produksi pangan dari perikanan, serta memicu pemutihan terumbu karang.
Fenomena lain yang sangat terlihat adalah keseimbangan massa gletser yang mengalami kondisi paling negatif, mengancam ketersediaan air bersih bagi 2 miliar penduduk dunia.
Terakhir, WMO juga mencatat luas permukaan es di lautan yang terus menyusut. Di Arktika, luas es laut harian minimum mencapai tingkat terendah ketujuh, sementara di Antartika, luas es minimum turun di bawah 2 juta km2 selama tiga tahun berturut-turut.
Kondisi ini ditambah dengan frekuensi dan dampak peristiwa cuaca ekstrem yang semakin parah, seperti Topan Yagi dan Badai Helena, yang mengakibatkan jumlah pengungsian tertinggi dan kerugian ekonomi yang masif di berbagai belahan dunia.


