Search

Takut Disadap! Militer Israel Tarik Ratusan Mobil China Karena Isu Spionase

Senin, 26 Januari 2026

Situasi kendaraan di Israel (AP photo)

Dunia otomotif dan militer lagi heboh nih! Militer Israel (IDF) secara mengejutkan menarik ratusan kendaraan dinas buatan China dari tangan para perwiranya sejak akhir 2025.

Langkah drastis ini diambil bukan karena mesinnya yang rewel, melainkan karena adanya kekhawatiran serius soal potensi spionase dan kebocoran data sensitif.

Kepala Staf Umum IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, secara langsung memerintahkan pembersihan “gadget berjalan” ini demi menjaga keamanan intelijen negara mereka yang dinilai makin terancam.

Keputusan ini dianggap sangat krusial mengingat mobil zaman sekarang sudah mirip smartphone raksasa. Sekitar 700 unit kendaraan, termasuk model mentereng Chery Tiggo 8 Pro yang jadi tunggangan para kolonel, harus dikembalikan.

Nggak cuma itu, rencana pengiriman mobil listrik BYD Atto 3 yang sudah dinanti-nanti juga resmi dibekukan.

Militer Israel tampaknya nggak mau ambil risiko data lokasi pangkalan militer atau percakapan rahasia dalam kabin “terbang” ke server di luar negeri.

Sensor Canggih yang Jadi Ancaman Keamanan Siber

Bagi para petinggi keamanan Israel dan badan intelijen Mossad, fitur canggih seperti kamera, mikrofon, dan sensor pada mobil China adalah “mata-mata” yang mengintai.

Dr. Nadia Helmy, seorang pakar politik China dari Beni Suef University, menjelaskan bahwa teknologi sistem tertutup dalam kendaraan tersebut ditakutkan bisa mengumpulkan data biometrik hingga audio secara diam-diam.

Meskipun Kementerian Pertahanan sempat mencoba mematikan fitur multimedia dan sistem e-Call, para ahli siber di sana tetap merasa langkah itu belum cukup aman.

Sebelum penarikan total ini dilakukan, IDF sebenarnya sudah menerapkan aturan super ketat. Mobil-mobil buatan China dilarang keras masuk ke area pangkalan militer atau instalasi sensitif.

Para perwira diwajibkan memarkir kendaraannya di area khusus di luar perimeter militer agar sensor kendaraan tidak bisa “memotret” kondisi dalam markas.

Namun, seiring meningkatnya tensi teknologi global, opsi parkir di luar pun dianggap sudah tidak memadai lagi untuk membendung risiko kebocoran data.

Rivalitas Teknologi yang Bikin Hubungan Global Memanas

Langkah Israel ini ternyata nggak lepas dari pengaruh sekutu dekatnya, Amerika Serikat dan Inggris, yang sudah lebih dulu waspada terhadap teknologi otomotif asal Negeri Tirai Bambu.

Washington memandang kendaraan listrik pintar China sebagai ancaman nasional dalam konteks perang dagang dan teknologi.

Akibatnya, militer Israel kini rela merogoh kocek lebih dalam untuk beralih ke merek-merek asal Jepang, Korea, dan Eropa seperti Mitsubishi, Kia, Skoda, hingga Opel demi rasa aman.

Hubungan antara Israel dan China sendiri memang terpantau makin mendingin sepanjang awal tahun 2026.

Ketegangan ini makin memuncak setelah Beijing juga membalas dengan melarang penggunaan perangkat lunak keamanan siber buatan Israel seperti Check Point dan CyberArk di perusahaan dalam negeri mereka.

Rivalitas ini menunjukkan bahwa kecurigaan spionase digital sudah menjadi “perang dingin” baru yang sangat nyata, di mana perangkat lunak dan perangkat keras dianggap sebagai senjata intelijen yang ampuh.

Sentimen Sejarah dan Pengawasan Infrastruktur Strategis

Kekhawatiran Israel bukan tanpa alasan historis. Mereka masih ingat betul dengan berbagai insiden dugaan penyadapan di masa lalu, termasuk kasus yang sempat viral soal dugaan alat penyadap dalam hadiah dari kedutaan.

Selain urusan mobil, pusat riset keamanan Israel juga terus memelototi investasi besar-besaran China di infrastruktur vital seperti Pelabuhan Haifa.

Mereka khawatir akses China di pelabuhan tersebut bisa menjadi pintu masuk untuk memantau aktivitas militer dan teknologi canggih milik sekutu mereka.

Pada akhirnya, proses penarikan total mobil-mobil ini dijadwalkan bakal rampung pada kuartal pertama 2026.

Fenomena ini jadi bukti kalau di era digital sekarang, keamanan sebuah negara nggak cuma ditentukan oleh senjata fisik, tapi juga oleh seberapa aman sistem operasi yang ada di dalam kendaraan yang kita kendarai sehari-hari.

Sepertinya, perang siber dan perebutan dominasi teknologi bakal terus bikin peta politik dunia makin dinamis dan penuh kejutan di masa depan.

Statement:

Dr. Nadia Helmy, Pakar Politik China dari Beni Suef University

“Keputusan militer Israel mencerminkan sejauh mana ketakutan bahwa teknologi otomotif China dapat dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan spionase digital Beijing. Pejabat keamanan Israel takut bahwa perangkat lunak dan sistem tertutup dalam mobil-mobil ini dapat mengumpulkan data sensitif seperti lokasi geografis hingga data biometrik.”

3 Poin Penting:

  • Penarikan Massal: IDF menarik sekitar 700 kendaraan buatan China (seperti Chery dan BYD) dari para perwira karena risiko spionase digital dan kebocoran data.

  • Kekhawatiran Teknologi: Mobil pintar dianggap memiliki sensor, kamera, dan mikrofon yang berpotensi mengirim data sensitif ke server eksternal di luar kendali pengguna.

  • Dampak Politik: Hubungan Israel-China memanas setelah kedua negara saling melarang penggunaan teknologi keamanan siber dan otomotif masing-masing demi alasan keamanan nasional.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan