Sosok Lamine Yamal tiada hentinya mencuri perhatian publik sepak bola dunia berkat performa fantastisnya di lapangan hijau.
Bintang muda milik Barcelona dan Timnas Spanyol tersebut kerap membuat pencinta bola penasaran terkait agama serta keyakinan yang dipeluknya.
Berbagai gesture religius, sikap di luar lapangan, hingga nama lengkapnya memang sangat identik dengan ajaran Islam, sehingga isu mengenai identitas agamanya terus menjadi bahan perbincangan hangat.
Rasa penasaran publik kian memuncak saat wonderkid berusia 19 tahun itu sukses membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026 usai mengandaskan perlawanan Argentina di partai final.
Di saat rekan-rekan setimnya sibuk berkonfrontasi dengan pemain lawan di tengah euforia kemenangan, Yamal justru tertangkap kamera memilih duduk bersimpuh dan berdoa sebagai wujud rasa syukur.
Momen emosional tersebut dinilai sangat lekat dengan kebiasaan umat Muslim dalam memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Garis Keturunan Maroko dan Tradisi Sujud Syukur
Asal-usul keluarga Lamine Yamal menjadi salah satu petunjuk kuat mengenai latar belakang keyakinannya yang kian benderang.
Sang ayah, Mounir Nasraoui, serta neneknya, Fatima Romani, merupakan warga keturunan Maroko asal kota Larache yang dikenal sebagai pemeluk agama Islam taat.
Sejak kecil, Yamal dibesarkan di bawah asuhan sang nenek di kawasan Rocafonda, Spanyol, yang secara konsisten menanamkan nilai-nilai keagamaan serta ajaran Islam dalam kehidupannya sehari-hari.
Aksi bersujud di atas rumput hijau ternyata bukan kali pertama ditunjukkan oleh pemain yang membawa Spanyol melibas Arab Saudi dengan skor 4-0 di fase grup Piala Dunia 2026 itu.
Sejak membela Barcelona hingga tim nasional, Yamal konsisten memperlihatkan gestur syukur khas Muslim setiap kali mencetak gol atau merayakan kemenangan penting.
Tidak hanya itu, keberaniannya mengibarkan bendera Palestina dalam parade juara La Liga juga makin mempertegas kepedulian sosialnya terhadap isu-isu dunia Islam.
Kedisiplinan Jalani Puasa Ramadhan di Tengah Laga Ketat
Komitmen keagamaan pesepak bola bernilai kontrak fantastis ini juga teruji saat harus menjalankan ibadah puasa Ramadhan di tengah padatnya kompetisi.
Yamal secara terbuka membagikan pengalamannya dalam mengatur pola makan, istirahat, dan waktu ibadah agar performanya di lapangan tetap optimal bersama FC Barcelona.
Kedisiplinan bangun dini hari untuk sahur serta menyempatkan waktu salat di sela-sela latihan menjadi rutinitas wajib yang dijalaninya tanpa mengganggu profesionalisme di lapangan.
Pihak klub tempatnya bernaung pun memberikan dukungan penuh terhadap kebutuhan spiritual bintang mudanya tersebut selama bulan suci.
Yamal mengaku sudah sangat terbiasa mengombinasikan kewajiban keagamaan dengan tuntutan fisik sebagai atlet profesional tingkat dunia.
Pengakuan jujur dari sang wonderkid ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa ibadah puasa dapat menurunkan performa bertanding seorang pesepak bola top Eropa.
Pengakuan Tegas dan Respon atas Tindakan Rasisme
Kepastian mengenai agama Lamine Yamal akhirnya terkonfirmasi secara langsung melalui pernyataan resminya di media sosial.
Reaksi tegas tersebut dipicu oleh insiden bernada rasisme dan pelecehan agama yang dilakukan oknum suporter saat laga uji coba Internasional.
Yamal tanpa ragu memasang badan dan mengecam keras nyanyian ofensif yang mendiskreditkan umat Islam, sekaligus memproklamasikan identitas keyakinannya kepada publik dunia.
Melalui unggahan tersebut, Yamal menegaskan bahwa toleransi antarumat beragama harus dijunjung tinggi dalam dunia olahraga maupun kehidupan bermasyarakat.
Sikap berani dan tegas yang ditunjukkannya tidak hanya menuai simpati dari para penggemar sepak bola global, tetapi juga makin memantapkan posisinya sebagai figur teladan generasi muda.
Publik kini tak perlu berspekulasi lagi karena sang megabintang secara terbuka telah menyatakan rasa bangganya sebagai seorang Muslim.
Statement:
Lamine Yamal
“Saya lebih banyak beristirahat, dan saya makan serta minum dengan baik sebelum puasa dimulai. Itu membantu saya tetap kuat selama pertandingan. Hari ini saya bangun pukul empat pagi dan makan enak. Kemudian saya bisa bangun lebih siang daripada yang lain karena saya melewatkan sarapan bersama tim. Kemudian saya pergi berlatih, dan kemudian saya pergi ke kamar untuk melanjutkan salat.”
“Begitu seterusnya hingga tiba saatnya untuk berbuka puasa. Puasa tidak memengaruhi permainan saya. Saya sudah terbiasa. Klub juga mendukung saya dan memahami kebutuhan saya.”
“Saya seorang Muslim, Alhamdulillah. Kemarin di stadion, terdengar nyanyian ‘siapa pun yang tidak melompat adalah Muslim’. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan dan bukan ditujukan secara pribadi kepada saya, tetapi sebagai seorang Muslim, itu tetap tidak sopan dan tidak dapat ditoleransi.”
3 Poin Penting:
-
Pengakuan Resmi Identitas Agama: Lamine Yamal secara terbuka menegaskan bahwa dirinya adalah seorang Muslim (Alhamdulillah) usai menanggapi aksi rasisme dan nyanyian ofensif oknum penonton di stadion.
-
Keluarga dan Pengasuhan Islami: Yamal dibesarkan oleh neneknya, Fatima Romani, yang merupakan pemeluk Islam taat asal Maroko, serta rutin merayakan kemenangan dengan bersujud dan menyuarakan dukungan bagi Palestina.
-
Disiplin Beribadah saat Bertanding: Yamal tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan salat secara disiplin tanpa mengganggu performanya bersama Barcelona dan Timnas Spanyol hingga berhasil menjuarai Piala Dunia 2026.



