Sudah hampir satu bulan sejak banjir bandang dan tanah longsor menghantam Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), namun suasana di posko pengungsian masih jauh dari kata “normal”.
Sebanyak 10.887 jiwa tercatat masih bertahan di pengungsian bukan karena mereka enggan pulang, melainkan karena rumah mereka sudah tidak lagi berbentuk bangunan.
Banyak rumah warga yang hanyut disapu arus, terkubur lumpur yang lebih tinggi dari atap, bahkan ada yang lahannya mendadak berubah menjadi aliran sungai baru.
Kondisi di Kecamatan Tukka disebut-sebut yang paling parah, meski ada sedikit keganjilan dalam data awal yang dirilis.
Pantauan di lapangan menunjukkan Kelurahan Hutanabolon seolah hilang dari peta akibat sapuan material batu besar.
Warga di sana kini menghadapi dilema besar: tetap tinggal di pengungsian yang serba terbatas atau mengikuti rencana relokasi pemerintah yang jaraknya dianggap terlalu jauh dari sumber kehidupan mereka selama ini.
Dilema Relokasi dan Tangisan Warga yang Kehilangan Mata Pencaharian
Kebutuhan akan hunian baru menjadi prioritas utama yang diteriakkan warga seperti Melur Tambunan. Sambil menahan tangis, ia menceritakan bagaimana rumah sekaligus bengkel suaminya kini sudah rata dengan tanah.
Harapan mereka untuk segera mendapatkan rumah baru dari pemerintah pun masih terasa abu-abu. Meski ada janji perbaikan dan pembangunan rumah, ketidakpastian mengenai waktu pelaksanaan membuat para pengungsi merasa digantung tanpa kejelasan.
Persoalan semakin rumit karena lokasi relokasi yang ditawarkan pemerintah berada di kecamatan lain, seperti Pinangsori dan Sibabangun.
Bagi warga, pindah rumah bukan sekadar pindah atap, tapi juga soal memindahkan sekolah anak dan mencari ladang nafkah baru.
Jarak yang jauh menjadi tembok penghalang bagi mereka yang berharap bisa tetap tinggal di sekitar Kelurahan Hutanabolon, namun di lokasi yang lebih aman dari ancaman bencana susulan.
Krisis Air Bersih dan Listrik yang Belum Pulih Total
Selain masalah tempat tinggal, kebutuhan dasar seperti sembako dan air bersih kini menjadi barang mewah di beberapa titik pengungsian.
Juwita, salah satu pengungsi, membagikan cerita miris tentang warga yang terpaksa mengonsumsi air kotor yang disaring secara manual sebelum dimasak.
Listrik di beberapa area Kecamatan Tukka pun dilaporkan masih padam, menambah beban psikologis warga yang setiap malam harus bergelut dengan kegelapan dan trauma.
Di Desa Poring, warga seperti Karina memilih tetap di pengungsian karena rasa takut akan longsor susulan yang masih menghantui.
Mereka kini hanya bisa memegang janji Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, yang sebelumnya menyatakan akan memperbaiki rumah para korban.
Tanpa adanya aksi nyata di lapangan, janji-janji tersebut hanya menjadi penawar rindu yang tak kunjung membasuh luka para penyintas yang sudah lelah hidup berdesakan di posko.
Lahan Strategis di Pinangsori Jadi Opsi Hunian Baru dari Bupati
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton, telah menyiapkan langkah strategis untuk mengatasi krisis hunian ini dengan menyiapkan lahan di belakang Asrama Haji, Kecamatan Pinangsori.
Lokasi ini dipilih karena dinilai memiliki topografi yang lebih aman dari risiko longsor dan banjir bandang.
Pemerintah kabupaten memastikan bahwa hunian baru ini akan diberikan secara cuma-cuma kepada warga yang rumahnya hilang atau rusak berat akibat bencana.
Meskipun aksesnya dianggap strategis oleh pemerintah, Lurah Hutanabolon, Polman Pakpahan, menyebutkan bahwa banyak warganya yang masih bingung mengambil keputusan.
Perbedaan kecamatan menjadi alasan utama warga merasa enggan untuk langsung pindah.
Komunikasi intens antara pemerintah dan penyintas kini sangat dibutuhkan agar solusi relokasi ini tidak sekadar menjadi kebijakan di atas kertas, melainkan jalan keluar yang benar-benar bisa diterima oleh semua pihak.
Statement:
Masinton, Bupati Tapanuli Tengah
“Lahan di belakang Asrama Haji Kecamatan Pinangsori disiapkan sebagai salah satu lokasi hunian bagi warga terdampak bencana karena lokasinya yang strategis dan aman.”
3 Poin Penting:
-
Krisis Hunian Nyata: Lebih dari 10 ribu warga Tapteng masih mengungsi karena ribuan rumah rusak berat, hanyut, atau lahannya berubah menjadi aliran sungai baru.
-
Dilema Lokasi Relokasi: Pemerintah menawarkan hunian gratis di Pinangsori, namun banyak warga keberatan karena lokasi yang jauh dari sekolah anak dan tempat usaha asal.
-
Kebutuhan Mendesak: Selain kepastian rumah baru, pengungsi sangat membutuhkan air bersih, sembako, dan pemulihan aliran listrik yang masih terputus di beberapa kelurahan.
![berburu ikan sapu sapu [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/jakarta-gencar-bersihbersih-ikan-sapusapu-ternyata-ini-alasannya-cnk-300x200.webp)
![tim pencarian helikopter PK-CFX [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/01kpaxce90dmddjnkkrtyqpxv8.jpg-300x200.webp)
![lonjakan jumlah pemulung {dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/artikel-5-300x184.webp)
