Duka menyelimuti dunia konservasi satwa liar di Kalimantan Selatan. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melahap kawasan Area Penggunaan Lain (APL) di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, memicu dampak fatal bagi kelestarian hewan endemik Kalimantan.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mengonfirmasi bahwa sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan terpanggang mengenaskan di lokasi kejadian.
Peristiwa memprihatinkan ini langsung menyita perhatian publik yang prihatin atas ancaman kerusakan habitat satwa dilindungi.
Penemuan Bangkai Satwa dan Kondisi Ekosistem Terfragmentasi
Berdasarkan unggahan resmi Instagram BKSDA Kalsel, tim penyelamat yang diterjunkan ke lokasi tidak hanya menemukan belasan bekantan yang hangus terbakar.
Di lokasi yang sama, tim juga mengamankan bangkai satu individu ular piton dan satu individu king kobra yang turut menjadi korban ganasnya kobaran api.
Merujuk pada keterangan Kepala Desa Balimau, kawasan tersebut sebenarnya menjadi rumah bagi sekitar 60 ekor bekantan, serta habitat bagi lutung (hirangan) dan monyet ekor panjang.
Hasil pengecekan lapangan menunjukkan bahwa habitat di sana terpisah menjadi dua kawasan yang dibatasi oleh jalan umum, yakni lahan desa seluas delapan hektare dan lahan milik warga seluas 1,3 hektare.
Hambatan Penyelamatan Diri Akibat Luapan Api dan Angin Kencang
Kondisi ekosistem yang terfragmentasi atau terpisah-pisah membuat satwa liar di area tersebut kesulitan melarikan diri saat bencana kebakaran melanda.
Ketika api membesar dan ditiup angin kencang, celah untuk menyelamatkan diri bagi kawanan bekantan makin tertutup rapat.
Terisolasinya ruang gerak satwa di lahan APL ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian mamalia bertali pusar tersebut. Api dengan cepat menjalar dan mengurung vegetasi tempat mereka mengungsi.
Penanganan Bangkai Korban dan Pengujian Medis Veteriner
Tim Penyelamatan Satwa BKSDA Kalsel bergerak cepat menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan di lokasi bencana dengan prosedur penguburan yang layak.
Penanganan ini dilakukan untuk mencegah potensi penyebaran penyakit dari bangkai satwa.
Meski demikian, BKSDA menyiagakan langkah antisipasi jika ditemukan indikasi kematian akibat faktor kejahatan lain, seperti penembakan.
Jika ada kejanggalan pada fisik satwa, bangkai akan segera dibawa ke laboratorium untuk diperiksa secara intensif oleh tim dokter hewan.
Pemetaan Bentang Alam dan Status Lahan Kawasan APL
Saat ini, petugas BKSDA masih terus melakukan analisis mendalam terhadap kondisi bentang alam serta status kepemilikan lahan di kawasan APL Desa Balimau.
Langkah verifikasi ini krusial untuk menentukan skema penanganan berikutnya bagi satwa yang tersisa.
Pemeriksaan status lahan juga ditujukan untuk mengkaji kemungkinan mitigasi bencana dan pemulihan vegetasi yang rusak akibat lalapan jago merah.
Kerusakan Vegetasi Pendukung Kehidupan Satwa Endemik
Kebakaran hebat ini merusak vegetasi penting yang menjadi sumber pakan utama bekantan dan primata lainnya. Lahan desa seluas delapan hektare yang sebelumnya ditumbuhi semak, galam, rengas, bungur, hingga halaban kini hangus tak tersisa.
Kehilangan tutupan pohon ini membuat kelangsungan hidup populasi bekantan yang tersisa berada dalam ancaman serius akibat krisis pakan dan tempat tinggal.
Perlindungan Ekosistem dan Evaluasi Mitigasi Karhutla
Tragedi ini menjadi alarm keras bagi seluruh pihak untuk makin memperketat pengawasan dan pencegahan karhutla di area-area sensitif.
Perlindungan terhadap kawasan yang dihuni satwa dilindungi harus menjadi prioritas, meskipun status lahannya berada di luar kawasan hutan konservasi murni.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat lokal, dan instansi terkait sangat dibutuhkan demi mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
Statement:
Tim Penyelamatan Satwa (Instagram BKSDA Kalsel)
“Tim menemukan 12 individu bekantan, satu individu ular piton dan satu individu king kobra. Kebakaran terjadi di tanah desa dan hak milik.”
Agus Ngurah Krisna, Kepala BKSDA Kalsel
“Jadi tidak satu hamparan habitat atau satu ekosistem yang menyatu, tetapi terpisah-pisah. Bekantan diduga sulit menyelamatkan diri karena kondisi habitat yang terbatas, sedangkan api cukup besar dan angin bertiup kencang.”
3 Poin Penting:
-
Kematian Satwa Endemik: Kebakaran hutan dan lahan di Desa Balimau, Hulu Sungai Selatan, menewaskan 12 ekor bekantan, satu ular piton, dan satu king kobra.
-
Penyebab Utama Fatalitas: Habitat bekantan yang terfragmentasi (terpisah jalan) membuat satwa sulit menyelamatkan diri saat api membesar dan ditiup angin kencang.
-
Langkah Penanganan BKSDA: BKSDA Kalsel menguburkan bangkai satwa, bersiap melakukan visum jika ada indikasi penembakan, serta memetakan status lahan APL untuk mitigasi pemulihan habitat.



