Tren ‘Performative Male’ Viral, Ketika Gen Z Ubah Standar Maskulinitas

Kamis, 7 Agustus 2025

Ilustrasi cowok maskulin.

Tren performative male tengah viral di media sosial dan bahkan telah digelar dalam bentuk kompetisi, seperti yang diadakan di Taman Langsat, Jakarta Selatan, Sabtu (2/8), oleh akun X @alergikiwi. Dalam ajang tersebut, para peserta adu gaya untuk memperebutkan gelar Most Performative Male, yang akhirnya dimenangkan Keenan Avalokita, putra Dewi Lestari.

Fenomena ini menggambarkan perilaku laki-laki yang sengaja menampilkan kesan maskulin hangat, intelektual, dan peka terhadap isu feminisme demi menarik perhatian perempuan. Menurut Elle, penampilan tersebut kerap berpura-pura dan tidak mencerminkan sifat asli pelaku.

Ciri khas performative male antara lain berpakaian klasik atau vintage, memakai celana lebar, memilih totebag putih ketimbang ransel, membaca buku bertema feminisme, mendengarkan musik seperti Clairo atau Laufey, dan lebih suka minum matcha daripada kopi. Aksesori seperti gantungan kunci lucu, misalnya labubu, juga menjadi penunjang penampilan.

Tren Perubahan Standar Maskulinitas

Viralnya tren ini didorong oleh maraknya video diunggah Gen Z yang memperlihatkan perubahan standar maskulinitas. Jika dulu lelaki idaman adalah yang dingin dan dominan, kini sosok hangat dan peka justru lebih diminati.

Pergeseran ini bahkan menginspirasi munculnya kontes performative male di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini dinilai mencerminkan perubahan selera dan standar penampilan generasi muda dibanding generasi sebelumnya.

Meski dianggap lucu dan unik, tren ini memicu kekhawatiran soal krisis identitas. Banyak pria dikhawatirkan mengubah penampilan semata-mata untuk memenuhi standar tersebut tanpa mencerminkan kepribadian aslinya.

Kondisi ini berpotensi membuat perempuan kesulitan menilai sifat asli pasangan, yang bisa memicu konflik ketika hubungan sudah berkomitmen dan sifat asli mulai muncul.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir