Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang bersiap melakukan manuver besar di sektor lingkungan dan energi.
Proyek ambisius Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ditargetkan mulai melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada pertengahan tahun 2026.
Langkah ini menjadi angin segar buat kalian yang peduli sama isu darurat sampah di kota-kota besar karena limbah yang tadinya cuma menumpuk bakal disulap jadi energi listrik yang bermanfaat.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa proyek ini bakal fokus pada 34 kabupaten/kota yang sudah teridentifikasi punya rapor merah dalam penanganan sampah.
Proses evaluasi dan lelang proyek-proyek ini gak main-main karena langsung dikoordinasikan di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Jika semua berjalan mulus dan lahan sudah tersedia, pembangunan fisik diprediksi memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 tahun sampai benar-benar bisa beroperasi.
Prioritas 34 Wilayah dan Progres Lelang di Aglomerasi Besar
Target ambisius ini dilakukan secara bertahap, bukan serentak di semua titik sekaligus. Saat ini, pemerintah sudah memetakan 34 wilayah prioritas yang sangat membutuhkan solusi Waste to Energy (WTE).
Kabar terbarunya, empat wilayah aglomerasi besar sudah masuk dalam proses lelang oleh BPI Danantara, yaitu Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, dan Kota Bekasi.
Keempat wilayah ini dianggap paling siap untuk memulai transformasi sampah menjadi energi terbarukan.
Namun, di balik kabar gembira tersebut, ada tantangan besar yang harus dihadapi. Dua wilayah dengan timbulan sampah paling masif, yaitu Daerah Khusus Jakarta dan Bandung Raya, justru dilaporkan belum siap mengimplementasikan proyek WTE ini.
Padahal, potensi sampah di Jakarta mencapai 8.000 ton per hari dan Bandung mencapai 5.000 ton per hari. Hal ini tentu jadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah terkait agar tidak tertinggal dalam revolusi energi bersih ini.
Skema Harga Listrik dan Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Satu hal yang bikin proyek PLTSa ini menarik secara bisnis adalah penetapan harga jual listriknya. Pemerintah telah mematok angka sekitar 20 sen dolar AS per kWh.
Harga yang lumayan tinggi ini sengaja ditetapkan untuk menutup biaya investasi teknologi pengolahan sampah yang memang tergolong mahal.
Dengan harga yang kompetitif, diharapkan para investor makin tertarik buat terjun dan mendanai proyek-proyek ramah lingkungan di berbagai daerah.
Terkait biaya produksi, pemerintah bakal menghitung selisih antara harga jual listrik PLTSa dengan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) milik PT PLN (Persero). Selisih harga tersebut nantinya akan dihitung sebagai potensi subsidi yang digelontorkan negara.
Langkah ini merupakan amanat dari Perpres Nomor 109 Tahun 2025 yang mewajibkan penanganan sampah perkotaan menggunakan teknologi ramah lingkungan demi mendukung target emisi bersih Indonesia di masa depan.
Target Operasional 2027 dan Potensi Sampah Nasional
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga gak tinggal diam dengan mengidentifikasi 10 kawasan aglomerasi yang punya potensi sampah raksasa mencapai 10.000 ton per hari.
Jika konstruksi dimulai sesuai jadwal pada 2026, maka pada tahun 2027 kita sudah bisa melihat beberapa PLTSa beroperasi secara komersial.
Proyek ini diharapkan gak cuma beresin masalah bau dan tumpukan sampah di TPA, tapi juga memperkuat ketahanan energi nasional melalui sumber yang berkelanjutan.
Semangat kolaborasi antara kementerian, BPI Danantara, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama suksesnya program Waste to Energy ini.
Buat generasi muda, ini adalah bukti bahwa masalah lingkungan bisa diubah menjadi peluang ekonomi kreatif dan teknologi.
Dengan pengelolaan yang tepat, sampah yang tadinya dianggap beban bakal berubah menjadi cahaya yang menerangi kota, sekaligus menjaga bumi tetap hijau untuk masa depan kita semua.
Statement:
Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM
“Jadi diharapkan tahun 2026, pertengahan ini, sudah ada yang dilakukan groundbreaking. Pada saat groundbreaking kan biasanya penyelesaian sekitar satu setengah tahun itu sampai dengan dua tahun, apabila lahannya sudah tersedia. Untuk harga jual listrik itu kan sudah naik, itu sekitar 20 sen dolar.”
3 Poin Penting:
-
Proyek PLTSa ditargetkan mulai konstruksi pada pertengahan 2026 di 34 kabupaten/kota prioritas dan diharapkan beroperasi paling cepat tahun 2027.
-
Pemerintah menetapkan harga jual listrik dari sampah sebesar 20 sen dolar AS per kWh untuk menarik investasi teknologi tinggi yang ramah lingkungan.
-
Empat wilayah aglomerasi (Denpasar, Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi) sudah masuk tahap lelang, sementara Jakarta dan Bandung masih terkendala kesiapan implementasi.
![menteri bahlil - kesepakatan dengan rusia [dok. kementrian esdm]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/ECTJkiQChS.jpeg-300x225.webp)
![PLN tutup PLTD [dok. PLN]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/202512241642-main.cropped_1766569344-300x169.jpg)
![mengambil alih lahan tambang ilegal [dok. instagram]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Selasa-7-April-2026-Tim-Pengarah-Satuan-Tugas-Penertiban-Kawasan-Hutan-Satgas-PKH-meninjau-l-300x200.jpg)
![proyek geothermal [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2025-08-29-at-2.25.44-PM-2000x1200-1-300x180.jpeg)