Belakangan ini, jagat maya dihebohkan oleh video viral sejumlah turis asing yang mencoba meniru posisi deep squat atau jongkok dalam ala masyarakat Asia.
Menariknya, sebagian besar dari bule tersebut justru kehilangan keseimbangan, limbung ke samping, jatuh ke belakang, hingga harus berpegangan ke dinding.
Fenomena kocak ini langsung memicu pertanyaan besar di kalangan netizen: mengapa sebagian orang bisa melakukan gerakan jongkok ini dengan sangat mudah, sementara yang lain harus bersusah payah setengah mati?
Bagi masyarakat di Indonesia, China, Jepang, dan sebagian besar wilayah Asia, posisi jongkok hingga pinggul berada di bawah lutut sudah menjadi bagian dari kearifan lokal sehari-hari.
Posisi ini jamak kita temui saat buang air besar dengan kloset jongkok, ketika asyik nongkrong santai bersama teman-teman, atau saat menunggu kedatangan bus.
Gerakan dasar ini sejatinya merupakan salah satu mobilitas tubuh yang paling mendasar untuk menunjang aktivitas fisik manusia.
Rahasia Anatomi Tubuh dan Hilangnya Fleksibilitas Akibat Kursi Modern
Secara ilmiah, gerakan Asian squat menuntut kelenturan yang jauh lebih besar pada area pinggul, lutut, dan pergelangan kaki dibandingkan dengan gerakan olahraga biasa.
Jika diperhatikan, anak-anak cenderung dapat dengan mudah mengambil posisi alami ini tanpa perlu bersusah payah karena kelenturan sendi mereka yang masih prima.
Sayangnya, perubahan anatomi dan hilangnya kemampuan fisik ini perlahan terjadi pada orang dewasa seiring bertambahnya usia.
Faktor utama berkurangnya kekuatan otot ini disebabkan oleh gaya hidup modern yang didominasi oleh aktivitas duduk, seperti penggunaan kursi kerja dan kloset duduk.
Keberadaan fasilitas serbanyaman tersebut membuat tubuh jarang melatih peregangan sendi secara ekstensif dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, otot tubuh menjadi kaku dan kemampuan fleksibilitas alami yang kita miliki sejak kecil perlahan bisa lenyap.
Rutinitas Harian di Asia yang Menjaga Otot Sendi Tetap Lentur
Mengapa orang Asia relatif lebih mudah mempertahankan kemampuan berjongkok dalam ini? Jawabannya terletak pada kebiasaan serta aktivitas harian yang masih kental dengan budaya tradisional, seperti di Jepang.
Di sana, banyak kegiatan sehari-hari yang mengharuskan mereka melepas sepatu, berjongkok di atas tikar tatami, lalu duduk untuk menikmati hidangan. Gerakan-gerakan repetitif inilah yang secara tidak langsung melatih kekuatan otot pinggul dan kaki secara konisten.
Selain itu, keberadaan toilet jongkok di fasilitas umum maupun rumah tinggal di Asia menjadi faktor krusial yang menjaga fungsi sendi tetap aktif.
Karena dipaksa berjongkok setiap kali ke toilet, masyarakat Asia secara otomatis melakukan latihan mobilitas tanpa mereka sadari. Hal ini sangat berbeda dengan kultur negara Barat yang hampir sepenuhnya mengandalkan kloset duduk dalam aktivitas sanitasi mereka.
Tips Berlatih Jongkok Secara Bertahap Tanpa Risiko Cedera Fisik
Bagi kamu yang merasa tubuhnya mulai kaku dan ingin menguasai kembali gerakan berharga ini, para pakar mengingatkan agar tidak melakukannya secara berlebihan.
Menolak gravitasi secara ekstrem tanpa persiapan matang justru bisa memicu cedera otot atau sendi yang serius. Kamu disarankan untuk memulai latihan ini secara bertahap dengan memanfaatkan bantuan perabotan rumah, seperti memegang kursi atau meja dapur.
Turunkan badan secara perlahan hanya sejauh batas kenyamanan tubuhmu, lalu lakukan rutinitas ini beberapa kali setiap hari selama beberapa minggu.
Perlu diingat pula bahwa struktur antropometri setiap orang berbeda, seperti pemilik tulang paha panjang yang cenderung lebih sulit menjaga keseimbangan.
Tujuan utama latihan ini bukanlah estetika gerakan yang sempurna, melainkan demi menjaga kebebasan bergerak dan kemandirian mobilitas hingga masa tua nanti.
Statement:
Prof. Christopher Powers, Spesialis Gerakan Manusia di University of Southern California
“Anda tidak dapat melakukan apa pun tanpa melakukan jongkok. Duduk di kursi, keluar dari mobil, menggunakan toilet, membungkuk untuk mengambil sesuatu dari lantai. Seiring bertambahnya usia, kita kehilangan kelenturan pada sendi, tulang belakang, pinggul, dan terutama pergelangan kaki.”
“Hal itu semakin membatasi kemampuan kita untuk melakukan jenis squat ini. Squat pada kedalaman apa pun akan bermanfaat, tapi jangan menganggap jongkok dalam sebagai tujuan utama, khususnya bagi orang yang sudah mengalami nyeri lutut, pinggul, atau punggung.”
Matt Hsu, Pelatih Mobilitas dan Pendiri Upright Movement
3 Poin Penting:
-
Penyebab Perbedaan Keseimbangan: Kemudahan masyarakat Asia melakukan deep squat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan harian seperti penggunaan toilet jongkok dan tradisi duduk di lantai, berbeda dengan turis barat yang terbiasa dengan kursi dan kloset duduk.
-
Manfaat Kesehatan Jongkok Dalam: Latihan posisi jongkok penuh secara rutin terbukti secara medis mampu meningkatkan fleksibilitas, memulihkan mobilitas sendi, serta mengurangi potensi nyeri punggung seiring bertambahnya usia.
-
Latihan Bertahap Aman Cedera: Menguasai kembali Asian squat harus dilakukan secara bertahap menggunakan alat bantu pegangan untuk menghindari cedera lutut atau pinggul, serta disesuaikan dengan variasi anatomi tubuh masing-masing individu.


![obat obatan herbal [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/obat-herbal-doktersehat-300x200.jpg)
![hati hati Hantavirus [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/2026-05-13-hantavirus-terdeteksi-di-indonesia-wna-jalani-isolasi-di-rspi-sulianti-saroso-300x169.jpg)