Waduh! Dewi Perssik Kena Rujak Netizen Gara-Gara Komentar Soal Banjir Aceh

Selasa, 23 Desember 2025

Dewi Perssik (IG @dewiperssik9)

Dunia hiburan tanah air lagi-lagi heboh setelah pedangdut kenamaan Dewi Perssik mendadak jadi sasaran empuk hujatan netizen.

Pasalnya, pelantun lagu “Mimpi Manis” ini ikut memberikan komentar terkait bencana banjir besar yang melanda Provinsi Aceh baru-baru ini.

Bukannya mendapatkan simpati, pernyataan Depe justru dianggap tidak sensitif dan kurang empati oleh sebagian besar pengguna media sosial, terutama para warga yang terdampak langsung di wilayah Serambi Mekkah.

Bencana banjir tersebut memang bukan main-main karena melanda beberapa kabupaten sekaligus, mulai dari Aceh Tengah, Aceh Timur, hingga Aceh Utara, dan Singkil.

Kondisi masyarakat yang sedang berjuang di tengah genangan air membuat netizen sangat reaktif terhadap komentar figur publik yang dirasa tidak membantu situasi.

Alhasil, kolom komentar sang pedangdut pun dibanjiri kritik pedas dari warganet yang menilai ia seharusnya lebih bijak dalam menyuarakan pendapatnya di platform digital.

Dampak Banjir Besar yang Melumpuhkan Banyak Wilayah

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa banjir yang terjadi sejak akhir November tersebut telah melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial di banyak titik.

Wilayah seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tenggara mengalami dampak yang cukup parah dengan ribuan warga yang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Di tengah perjuangan para relawan dan pemerintah daerah dalam menyalurkan bantuan logistik, isu yang menyangkut komentar publik figur pun menjadi bumbu pedas yang semakin memanaskan suasana.

Netizen berpendapat bahwa saat terjadi bencana nasional, yang paling dibutuhkan adalah aksi nyata atau minimal doa yang menyejukkan hati, bukan komentar yang bisa memicu polemik.

Kontroversi ini pun merembet ke berbagai akun gosip yang ikut membedah setiap kata yang keluar dari pernyataan Dewi Perssik.

Banyak pihak menyayangkan mengapa isu bencana alam yang sensitif harus tercoreng dengan perdebatan yang tidak perlu di dunia maya.

Pentingnya Menjaga Etika Berkomentar di Media Sosial

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi para selebritas lainnya agar lebih berhati-hati dalam merespons isu-isu sosial yang sedang sensitif.

Dalam era media sosial yang serba cepat, satu kalimat yang kurang tepat bisa langsung memicu gelombang “cancel culture” yang masif.

Sebagai sosok yang memiliki jutaan pengikut, setiap pernyataan Dewi Perssik memiliki dampak besar yang bisa membangun atau justru menjatuhkan reputasinya di mata publik secara instan.

Beberapa pakar komunikasi digital menilai bahwa fenomena “hujatan” ini adalah bentuk dari kontrol sosial masyarakat terhadap figur publik yang dianggap tidak memiliki kepedulian yang tulus.

Masyarakat saat ini jauh lebih kritis dan melek informasi, sehingga narasi yang dibangun di media sosial harus benar-benar didasari oleh empati dan data yang akurat.

Jika tidak, siap-siap saja menjadi target rundungan massal dari pengguna internet yang sangat vokal.

Fokus pada Pemulihan dan Dukungan bagi Korban

Di balik riuhnya hujatan terhadap Dewi Perssik, fokus utama seharusnya tetap kembali pada upaya pemulihan pascabencana di Aceh.

Pemerintah daerah dan instansi terkait terus bekerja keras untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi, mulai dari makanan hingga obat-obatan.

Solidaritas masyarakat Indonesia kembali diuji untuk tetap fokus memberikan dukungan positif bagi para korban daripada larut dalam drama selebritas yang tidak berujung.

Sinergi antara tokoh masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan untuk mempercepat proses evakuasi dan perbaikan infrastruktur yang rusak.

Diharapkan ke depannya tidak ada lagi kegaduhan serupa yang justru mengalihkan perhatian publik dari isu kemanusiaan yang lebih mendesak.

Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu mengutamakan kemanusiaan di atas segalanya saat ada saudara kita yang sedang tertimpa musibah.

3 Poin Penting:

  1. Pedangdut Dewi Perssik menerima kritik keras dari netizen karena komentarnya yang dianggap kurang sensitif terhadap bencana banjir di Provinsi Aceh.

  2. Banjir besar tersebut melanda tujuh kabupaten di Aceh sejak akhir November, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan memaksa ribuan warga mengungsi.

  3. Kontroversi ini menekankan pentingnya etika berkomunikasi bagi figur publik dalam menanggapi isu kemanusiaan agar tidak mengalihkan perhatian dari proses pemulihan bencana.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir