Search
Search
Search

Warung Nunung Tiga Kali Dikirimi Bungkusan Diduga Tanah Kuburan, CCTV Tetap Tak Dipasang

Kamis, 8 Oktober 2026

Foto Tanah Kuburan di warung komedian Nunung (dok. detikcom)

Bungkusan yang diduga berisi tanah kuburan kembali menjadi perhatian setelah tiga kali ditemukan di sekitar warung milik komedian Nunung Srimulat di Perumahan Griya Mutiara, Sawahan, Ngemplak, Boyolali.

Meski kejadian tersebut berulang, Nunung justru memilih tidak memasang kamera pengawas atau CCTV untuk mencari tahu siapa pihak yang meletakkan bungkusan tersebut.

Adik Nunung, Danar Adi, mengatakan keputusan itu diambil karena sang kakak tidak ingin membuat orang lain menjadi pihak yang dicurigai.

Nunung juga menilai rekaman CCTV belum tentu menyelesaikan persoalan jika pelakunya berhasil diketahui.

Warung Sedang Sepi

Danar menjelaskan, keberadaan bungkusan tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi warung Nunung yang belakangan terlihat lebih sepi. Berdasarkan pantauan detikJateng pada Selasa (6/10), aktivitas di warung tersebut memang tampak lengang.

Namun, keluarga Nunung memilih tidak langsung menghubungkan kondisi usaha dengan bungkusan yang ditemukan.

Nunung disebut tetap berusaha berpikir positif dan memilih melakukan berbagai upaya untuk menjaga usaha tersebut. Sikap tersebut membuat keluarga lebih memilih pendekatan spiritual daripada memperbesar dugaan yang belum terbukti.

Pengajian Jadi Bentuk Ikhtiar

Sebagai bentuk ikhtiar, Nunung menggelar pengajian dan mendatangkan ustaz ke warungnya. Kegiatan tersebut juga diisi dengan khataman Al-Qur’an bersama.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga ketenangan sekaligus menghadapi situasi yang sedang terjadi dengan cara yang diyakini keluarga.

Sementara itu, juru parkir di sekitar warung, Bagyo, mengaku sudah tiga kali menemukan bungkusan berisi benda yang diduga tanah dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Ia mengaku tidak mengetahui siapa yang meletakkan benda tersebut.

Pakar Jelaskan dari Sisi Budaya

Fenomena tersebut turut mendapat perhatian dari Kepala Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Sahid Teguh Widodo.

Ia menjelaskan bahwa sebagian masyarakat Jawa masih mengenal konsep gugon tuhon, yakni kepercayaan terhadap pantangan atau hal-hal tertentu yang diyakini dapat membawa dampak buruk.

Menurutnya, makam juga kerap dipandang sebagai tempat yang memiliki nilai sakral sehingga benda yang dikaitkan dengan tanah kuburan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi orang yang mempercayai hal tersebut.

Jangan Langsung Kaitkan dengan Sepinya Usaha

Sahid menilai keyakinan seseorang dapat memengaruhi cara mereka memahami kejadian yang berlangsung di sekitarnya.

Ketika seseorang percaya bahwa benda tertentu membawa pengaruh negatif, kondisi usaha yang kebetulan sedang sepi dapat dianggap memiliki hubungan dengan benda tersebut, meski hubungan sebab-akibatnya belum terbukti.

“Kita tidak menutup mata, barangkali ada. Saya sendiri tidak percaya. Tapi bagi orang yang berkenaan itu kan merasa tidak nyaman,” tuturnya. Ia menilai dampak keyakinan tersebut sangat bergantung pada orang yang mempercayainya.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak langsung mengambil kesimpulan bahwa bungkusan tersebut menjadi penyebab kondisi usaha yang sedang menurun.

Tetap Tenang dan Lanjut Beraktivitas

Sahid menyarankan orang yang menemukan benda semacam itu untuk tidak terus-menerus memikirkannya. Menurutnya, benda tersebut dapat disingkirkan dan aktivitas sehari-hari tetap dijalankan seperti biasa.

Hingga kini, belum diketahui siapa yang meletakkan bungkusan tersebut maupun apa motif di baliknya. Keluarga Nunung pun memilih tetap tenang dan melanjutkan usaha sambil melakukan ikhtiar melalui kegiatan keagamaan.

Di tengah misteri yang belum terpecahkan, kisah ini menjadi pengingat bahwa informasi mengenai benda yang diduga berkaitan dengan kepercayaan tertentu sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai fakta tanpa bukti yang jelas.

Statement:

Danar Adi, adik Nunung

“CCTV-nya Gusti Allah, percaya Gusti Allah.”

“Mbak Nunung cuma bilang, namanya usaha, ayo kita ikhtiar bareng-bareng.”

Prof. Sahid Teguh Widodo, PUI Javanologi UNS

“Memang inilah, secara umum masyarakat kita Jawa itu kan masih mengenal gugon tuhon.”

“Menurut saya ya dikirimi begitu ya buang saja, tidak usah digagas.”

3 Poin Penting:

  • Warung Nunung dilaporkan tiga kali menerima bungkusan yang diduga berisi tanah, tetapi hingga kini belum diketahui siapa yang meletakkannya.
  • Nunung memilih tidak memasang CCTV dan mengambil langkah spiritual dengan mengadakan pengajian serta khataman Al-Qur’an di warung.
  • Pakar Javanologi menjelaskan fenomena tersebut dalam konteks gugon tuhon, tetapi mengingatkan agar benda tersebut tidak langsung dikaitkan sebagai penyebab sepinya usaha tanpa bukti.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan