Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya sedang bersiap melakukan crossover paling epik tahun ini. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, melontarkan ide yang sangat out of the box dengan mengusulkan para sopir pengantar makanan memakai kostum Power Rangers.
Tujuannya mulia, yakni agar anak-anak sekolah dasar tidak lagi memandang brokoli sebagai musuh utama, melainkan sebagai sumber kekuatan layaknya pahlawan super dari era 90-an tersebut.
Dalam skenario ini, para pengemudi tidak lagi sekadar mengantar nasi kotak, tetapi bertransformasi menjadi idola yang memberikan iming-iming jajan hingga burger sebagai reward bagi mereka yang menghabiskan sayuran.
Nanik berharap, kehadiran “pahlawan bertopeng” ini bisa mendongkrak antusiasme siswa secara instan.
Bayangkan saja, suasana sekolah yang tadinya tenang mendadak riuh karena ada Ranger Merah yang turun dari mobil boks sambil membawa misi penting: memastikan kedaulatan serat di perut para siswa tetap terjaga.
Kritik DPR RI: Program Negara atau Panggung Teater Dadakan
Namun, ide kreatif yang sangat “berwarna” ini rupanya tidak langsung mendapatkan standing applause dari gedung parlemen.
Anggota Komisi IX DPR RI, Ashabul Kahfi, justru memberikan tanggapan dingin dengan menyebut usulan tersebut sebagai gimik yang tidak substansial.
Menurutnya, masalah gizi adalah urusan negara yang sangat serius dan tidak seharusnya diselesaikan dengan pendekatan teatrikal yang berisiko mengaburkan fokus utama program, yakni kualitas makanan itu sendiri.
Ashabul khawatir jika energi publik justru habis untuk membahas urusan kostum dibandingkan memantau apakah menu yang disajikan sudah benar-benar memenuhi standar kalori atau belum.
Baginya, menghadirkan negara di hadapan anak-anak haruslah melalui cara yang mendidik dan bermartabat, bukan dengan atraksi visual yang mengarah ke arah sensasional.
Kritikan ini menjadi pengingat bahwa di balik topeng pahlawan super, ada anggaran negara dalam jumlah besar yang harus dipertanggungjawabkan efektivitasnya.
Prioritas yang Tertukar: Antara Estetika Pengantaran dan Kualitas Hidangan
Wacana kostum Power Rangers ini pun memicu perdebatan mengenai skala prioritas di ruang publik. Di satu sisi, BGN ingin menciptakan suasana makan yang asyik lewat metode komunikasi ramah anak.
Namun di sisi lain, tantangan nyata seperti pemerataan layanan, keamanan konsumsi, hingga ketepatan waktu distribusi masih menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk.
Menaruh beban berat pada pundak seorang sopir berkostum ketat untuk meningkatkan nafsu makan siswa dinilai sebagai solusi yang cukup “ajaib”.
Alih-alih menyulap pengemudi menjadi pahlawan super, pihak legislatif menyarankan agar BGN lebih fokus pada edukasi gizi yang fundamental lewat kolaborasi tenaga kesehatan dan guru.
Memang benar, motivasi anak untuk makan sehat seharusnya dibangun dari pemahaman, bukan sekadar karena ingin melihat Ranger Hijau membagikan jajan tambahan.
Polemik ini seolah menunjukkan bahwa dalam birokrasi kita, batas antara inovasi kreatif dan strategi gimik terkadang setipis kertas tisu.
Etika Publik dan Kepercayaan: Menjaga Citra Program Nasional Tetap Serius
Menyampaikan gagasan ke publik memang butuh perhitungan matang, apalagi jika menyangkut program yang menjadi sorotan nasional.
Ashabul Kahfi mengingatkan agar BGN tidak berlebihan dalam melakukan pendekatan komunikasi. Program Makan Bergizi Gratis harus tetap dipandang sebagai investasi masa depan bangsa, bukan sekadar konten media sosial yang viral karena kelucuan para petugasnya di lapangan.
Integritas program ini dipertaruhkan jika hal-hal simbolis lebih dominan daripada manfaat nyata.
Akhirnya, publik hanya bisa berharap agar pahlawan yang benar-benar muncul dalam program ini bukanlah mereka yang memakai kostum spandeks, melainkan para pembuat kebijakan yang mampu menjamin nasi dan lauk di meja siswa tetap aman dan bergizi.
Kreativitas tentu boleh saja, namun jangan sampai substansi gizi nasional “melempem” hanya karena terlalu sibuk mengurus urusan fashion petugas pengantar.
Semoga saja, misi penyelamatan gizi ini berakhir dengan anak-anak yang sehat, bukan cuma anak-anak yang hafal jurus Power Rangers.
Statement:
Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala BGN
“Kami berikan pengemudi itu kostum Power Rangers, jadi antusiasme mereka itu makin tinggi. Bilang ke siswa, besok saya akan bawa Power Rangers ke sini lagi, kalau pada mau makan sayur.”
Ashabul Kahfi, Anggota Komisi IX DPR RI
“Menurut saya, program Makan Bergizi Gratis ini adalah program yang sangat serius… Negara hadir dengan cara yang mendidik, bukan dengan gimik yang berisiko disalahpahami.”
3 Poin Penting:
-
Usulan Inovatif BGN: Wakil Kepala BGN mengusulkan penggunaan kostum Power Rangers bagi sopir pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk meningkatkan minat anak makan sayur.
-
Kritik Tajam DPR: Anggota Komisi IX DPR RI menilai usulan tersebut hanya bersifat gimik, tidak substansial, dan berisiko mengalihkan perhatian publik dari esensi kualitas gizi program.
-
Fokus pada Substansi: Legislatif mendesak BGN untuk lebih memprioritaskan keamanan makanan, pemerataan layanan, dan edukasi gizi yang mendidik daripada pendekatan visual yang sensasional.

![pajak kendaraan listrik [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/60aca1286e20f-300x200.jpg)
![UU PPRT (Menaker) Yassierli. [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69e6d3254b656-300x200.jpeg)
![pembayaran pajak kendaraan [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/pemprov-dki-jakarta-tambah-layanan-samsat-hingga-sabtu-3-300x200.jpeg)