Internet bukan hanya mengubah cara masyarakat mendapatkan informasi, tetapi juga melahirkan berbagai kosakata baru yang semakin akrab dalam percakapan sehari-hari.
Media sosial menjadi ruang berkembangnya istilah-istilah unik untuk menggambarkan tren konten, kebiasaan pengguna, hingga pola komunikasi di dunia digital.
Beberapa di antaranya bahkan mulai digunakan dalam percakapan di luar platform media sosial.
Istilah seperti ragebait dan doomscrolling mungkin sudah sering terdengar. Namun, masih ada sejumlah kosakata lain yang menarik untuk dipahami, terutama karena berkaitan dengan cara kita mengonsumsi informasi.
Mengenali istilah tersebut bukan sekadar mengikuti tren bahasa, melainkan juga membantu pengguna lebih kritis dalam memahami perilaku digital yang terjadi di sekitar mereka.
Mengenal Istilah yang Menggambarkan Konten Digital
Pertama, ada ragebait, yaitu konten yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan atau reaksi emosional audiens demi meningkatkan interaksi.
Menurut Cambridge Dictionary, istilah ini merujuk pada materi yang dirancang untuk membuat orang marah. Bentuknya bisa berupa video kontroversial, pernyataan provokatif, hingga unggahan yang sengaja memancing perdebatan.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung terpancing memberikan komentar sebelum memeriksa konteks dan kebenaran informasinya.
Berikutnya adalah AI slop, istilah untuk menggambarkan konten buatan kecerdasan artifisial (AI) yang diproduksi secara massal, tetapi memiliki kualitas rendah atau minim nilai informasi.
Fenomena ini semakin relevan ketika konten otomatis membanjiri lini masa berbagai platform. Tantangannya bukan hanya membedakan konten buatan manusia dan AI, tetapi juga memastikan informasi yang disampaikan memiliki sumber jelas dan tidak menyesatkan.
Dari Brainrot hingga Aura Farming
Istilah ketiga, brainrot, digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten internet yang dianggap absurd, dangkal, atau kurang bermakna.
Oxford University Press bahkan memilih brain rotsebagai Word of the Year 2024. Meski terdengar mengkhawatirkan, istilah ini bukan diagnosis medis yang menyatakan otak seseorang benar-benar mengalami kerusakan.
Penggunaannya lebih dekat dengan kritik terhadap kebiasaan mengonsumsi konten secara berlebihan.
Sementara itu, lore-dumping merujuk pada kebiasaan menyampaikan banyak informasi latar belakang atau detail cerita sekaligus. Istilah ini sering ditemukan dalam utas panjang, video penjelasan, maupun pembahasan karakter dan fenomena populer.
Ada pula aura farming, bahasa gaul untuk menggambarkan tindakan yang sengaja dilakukan seseorang agar terlihat keren, karismatik, atau memiliki daya tarik tertentu di depan kamera.
Keduanya menunjukkan bagaimana bahasa internet berkembang mengikuti gaya bercerita dan pencitraan di media sosial.
Doomscrolling dan Pentingnya Literasi Digital
Kosakata keenam adalah doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir layar tanpa henti untuk membaca berita buruk atau informasi bernada negatif.
Aktivitas ini dapat membuat seseorang terus terpapar kabar yang memicu kecemasan dan kelelahan emosional.
Salah satu langkah sederhana untuk menguranginya adalah membatasi waktu penggunaan media sosial, memilih sumber berita tepercaya, serta memberi jeda dari konsumsi informasi ketika mulai merasa terbebani.
Keenam istilah tersebut memperlihatkan bahwa memahami bahasa internet juga berarti memahami dinamika perilaku penggunanya. Pernyataan ini merupakan pesan editorial, bukan kutipan langsung dari narasumber.
Pada akhirnya, literasi digital tidak cukup hanya dengan mengetahui kosakata terbaru, tetapi juga perlu dibarengi kemampuan berpikir kritis, menjaga etika berinteraksi, dan mengelola waktu di ruang digital.
3 Poin Penting:
- Ragebait, AI slop, dan brainrot menggambarkan fenomena konten digital, mulai dari unggahan provokatif hingga konsumsi konten berkualitas rendah secara berlebihan.
- Lore-dumping dan aura farming berkaitan dengan cara seseorang menyampaikan cerita serta membangun citra di media sosial.
- Doomscrolling merupakan kebiasaan mengonsumsi berita negatif tanpa henti sehingga penting untuk membatasi waktu layar dan memilih sumber informasi tepercaya.



