Cerita Pahit di Balik Banjir Aceh: Ditemukan Ribuan Ton Kayu Ilegal Jadi Dalang Kehancuran

Minggu, 21 Desember 2025

Kayu ilegak ditemukan di hutan Aceh (acehonline)

Kabar kurang sedap datang dari bumi Serambi Mekkah. Forum Konservasi Leuser (FKL) baru saja mengungkap indikasi kuat bahwa bencana banjir yang melanda Aceh belakangan ini bukan sekadar faktor alam.

Berdasarkan penelusuran tim di lapangan, maraknya aksi penebangan liar di wilayah hulu menjadi pemicu utama yang memperparah situasi dan merugikan masyarakat luas.

Tim FKL telah menyisir sejumlah titik di pedalaman hulu Aceh Tamiang yang berbatasan langsung dengan Aceh Timur.

Hasilnya sangat memprihatinkan, ditemukan jejak kerusakan hutan yang masif di area yang seharusnya menjadi daerah resapan air.

Hal ini membuktikan bahwa ekosistem Leuser sedang tidak baik-baik saja akibat tangan-tangan tidak bertanggung jawab.

Jejak Gergaji Mesin di Jantung Hutan Leuser

Pemandangan di Kampung Batubedulang, Kecamatan Bandarpusaka, Aceh Tamiang, benar-benar menyayat hati. Pascabanjir bandang akhir November 2025 lalu, terlihat tumpukan kayu dalam jumlah yang tidak main-main.

Diperkirakan ada ribuan ton kayu yang menumpuk dan menciptakan kehancuran luar biasa bagi pemukiman warga di sekitarnya.

Saat tim sampai di perbatasan Simpangjernih dan Batubedulang, mereka menemukan bukti autentik berupa bekas gergaji mesin pada batang pohon yang berserakan.

Ribuan ton batang kayu tersebut merupakan sisa pembalakan liar yang sengaja ditinggalkan para pelaku di tengah hutan tanpa memikirkan risiko bencana yang mengintai.

Dampak Fatal Pembalakan Liar bagi Warga

Aktivitas ilegal ini diduga sudah berlangsung sejak lama, di mana kayu-kayu yang dianggap tidak layak jual dibiarkan menumpuk begitu saja di lantai hutan.

Saat curah hujan tinggi, tumpukan kayu ini terbawa arus banjir yang sangat kuat, menghantam kawasan pemukiman, dan mengubah sistem lahan di Leuser menjadi sangat rentan terhadap bencana tanah longsor.

Muncul kekhawatiran besar bahwa jika praktik penebangan pohon ini tidak segera ditindak tegas secara hukum, banjir yang rutin menghantam Aceh Tamiang tidak akan pernah menemui titik terang.

Monitoring penyebab bencana ini dilakukan secara intensif oleh FKL sembari menyalurkan bantuan kepada para korban yang terdampak di berbagai wilayah.

Gerak Cepat Penyaluran Bantuan ke Pedalaman

Guna meringankan beban warga, FKL mengerahkan sepuluh unit mobil double cabin setiap harinya untuk menerobos medan berat di pedalaman.

Wilayah jangkauan bantuan ini mencakup Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, hingga Aceh Tengah.

Langkah ini menjadi bukti kepedulian nyata di tengah kondisi infrastruktur yang luluh lantah akibat terjangan air dan kayu.

Bantuan yang disalurkan pun tidak main-main dan sangat relevan dengan kebutuhan masa kini.

Selain bahan pangan, warga mendapatkan lampu panel surya, perangkat Starlink untuk akses komunikasi, tandon air bersih, hingga kelambu untuk mencegah penyakit.

Upaya ini dilakukan agar masyarakat di pelosok tetap bisa bertahan di tengah masa pemulihan pascabencana.

Statement:

Perwakilan Forum Konservasi Leuser (FKL)

“Temuan ribuan ton tumpukan kayu yang hanyut beserta bekas gergaji mesin di batang pohon ini merupakan sisa pembalakan liar yang sengaja ditinggalkan. Aktivitas tersebut menyebabkan lahan di Leuser menjadi rentan longsor dan memperparah dampak banjir bandang,” ungkap  saat melakukan monitoring di wilayah hulu.

3 Poin Penting:

  • Penebangan liar di hulu Aceh Tamiang dan Aceh Timur teridentifikasi sebagai penyebab utama parahnya dampak banjir bandang di Aceh.

  • Ditemukan ribuan ton limbah kayu sisa pembalakan liar yang terbawa arus dan menghancurkan pemukiman warga serta merusak struktur lahan.

  • FKL melakukan aksi tanggap darurat dengan mengirimkan bantuan logistik dan teknologi (Panel Surya & Starlink) ke daerah-daerah terisolasi menggunakan kendaraan khusus.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir