Search

Stop Naikin Gajah! BKSDA Bali Ajak Turis Beralih ke Wisata Etis yang Lebih Manusiawi

Senin, 22 Desember 2025

Wisata Gajah (ist)

Isu kesejahteraan satwa liar kini tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan pelancong dunia, termasuk di Indonesia.

Sebagai rumah bagi gajah sumatra yang statusnya terancam punah, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola pariwisata hewan.

Di Bali sendiri, meski bukan habitat asli, terdapat 84 ekor gajah yang tinggal di berbagai fasilitas wisata. Kini, kesadaran wisatawan yang makin tinggi mulai mengubah arah industri pariwisata menuju interaksi yang lebih minim kontak dan lebih menghargai kebebasan hewan.

Perubahan besar ini didorong oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bali yang secara tegas meminta pengelola wisata untuk mulai meninggalkan atraksi menunggang gajah.

Aktivitas menunggang gajah sudah lama dikritik karena dianggap sebagai salah satu praktik paling kejam dalam dunia pariwisata satwa.

Selain beban kerja yang berlebihan, penggunaan sadel yang tidak pas sering kali menyebabkan cedera tulang punggung permanen pada mamalia besar ini.

Alasan di Balik Larangan Menunggang Gajah

Praktik menunggang gajah sering kali melibatkan penggunaan bullhook atau pengait besi secara berlebihan untuk mengontrol pergerakan gajah.

Hal ini memicu luka fisik pada area sensitif seperti telinga dan kepala, serta tekanan psikologis yang berat bagi satwa.

Tak hanya itu, banyak gajah di tempat wisata yang dipelihara di atas permukaan beton atau substrat anorganik lainnya.

Kondisi ini sangat merusak kesehatan kaki gajah dan membatasi mereka untuk melakukan perilaku alami seperti merumput atau sekadar bergerak bebas.

Selain masalah fisik, gajah-gajah ini sering kali kehilangan hak dasarnya untuk bersosialisasi dan mendapatkan rangsangan lingkungan yang cukup.

Diikat dalam waktu lama dan dipaksa melayani turis berturut-turut tanpa istirahat menjadi pemandangan miris yang ingin dihapus oleh pemerintah.

Melalui standar baru, diharapkan gajah tidak lagi dipandang sebagai objek hiburan semata, melainkan makhluk hidup yang patut mendapatkan penghormatan dan hak hidup yang layak di fasilitas penangkaran.

Inspirasi Wisata Etis dari Tetangga Asia Tenggara

Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menekankan pentingnya mencontoh model pariwisata etis yang sudah mulai berkembang di negara Asia Tenggara lainnya.

Di Thailand, misalnya, terdapat tempat perlindungan gajah di mana turis hanya diperbolehkan mengamati atau membantu memberi makan tanpa adanya aktivitas menunggang.

Langkah ini terbukti tidak hanya meningkatkan kesejahteraan hewan, tetapi juga memberikan pengalaman yang lebih mendalam dan edukatif bagi para wisatawan yang datang.

Transformasi menuju wisata etis ini diharapkan bisa segera terwujud di Bali. Meskipun hasil investigasi dari beberapa lembaga swadaya masyarakat menunjukkan bahwa banyak fasilitas di Bali dan Lombok masih jauh dari standar kesejahteraan ideal, BKSDA berkomitmen untuk terus memberikan panduan teknis.

Tujuannya jelas, yakni menciptakan ekosistem pariwisata di mana gajah bisa hidup tanpa rantai dan tanpa beban pekerjaan berat yang menyiksa fisik mereka.

Peran Penting Wisatawan dalam Memilih Destinasi

Para wisatawan memegang kunci utama dalam perubahan ini melalui pilihan destinasi mereka. Dengan menghindari tren perjalanan viral yang melibatkan eksploitasi hewan, publik secara tidak langsung menekan pengelola wisata untuk segera berbenah.

Wisatawan diajak untuk lebih kritis dalam menilai fasilitas wisata satwa sebelum berkunjung. Dukungan terhadap program konservasi yang benar-benar mengedepankan aspek biologis dan psikologis gajah akan sangat membantu kelangsungan spesies gajah sumatera di masa depan.

Investigasi rahasia yang dilakukan sebelumnya memang memberikan rapor merah bagi sejumlah tempat hiburan satwa di Bali dan Lombok karena belum memenuhi kebutuhan dasar hewan.

Namun, dengan adanya pengawasan ketat dan dorongan dari pemerintah, peluang untuk perbaikan masih terbuka lebar.

Mari kita dukung pariwisata yang lebih berkelanjutan dengan menjadi turis cerdas yang peduli pada hak-hak satwa, agar keindahan alam Indonesia tetap bisa dinikmati tanpa menyakiti penghuninya.

Statement:

Ratna Hendratmoko, Kepala BKSDA Bali

“Pengelolaan gajah harus dilakukan secara beradab, hormat karena mereka adalah hewan, diciptakan oleh Tuhan secara setara. Kami berharap mereka secara bertahap mengurangi dan akhirnya menghentikan penggunaan menunggang gajah secara berkala.”

3 Poin Penting:

  1. BKSDA Bali secara resmi mengimbau pengelola tempat wisata untuk menghentikan atraksi menunggang gajah demi meningkatkan kesejahteraan satwa.

  2. Praktik menunggang gajah dan penggunaan bullhook terbukti memberikan dampak buruk secara fisik dan psikologis bagi gajah sumatera yang terancam punah.

  3. Wisatawan diminta berperan aktif mendukung pariwisata etis dengan memilih fasilitas yang tidak mengeksploitasi hewan demi konten viral.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan