Search

Mistis Saung Ranggon: Bangunan Tertua di Bekasi yang Punya “Mata”

Kamis, 11 Desember 2025

Saung Ranggon Bekasi (ist)

Cikarang Barat mungkin terkenal dengan kawasan industrinya yang super sibuk, tapi ada satu titik di Kampung Cikedokan yang suasananya bikin bulu kuduk langsung auto merinding.

Saung Ranggon namanya, sebuah bangunan kayu yang berdiri sunyi dan seolah punya gravitasi mistis tersendiri.

Begitu langkah kaki menginjak tanahnya, udara mendadak terasa lebih berat, seolah ada ribuan mata tak kasat mata yang sedang memantau setiap gerak-gerikmu dari kegelapan.

Di sana, tinggal seorang nenek berusia 70 tahun bernama Sri Mulyati, kuncen legendaris yang memegang kunci lahir dan batin tempat itu.

Beliau sering mengingatkan kalau masuk ke Saung Ranggon bukan cuma soal izin manusia, tapi juga restu dari “penghuni” lain.

Konon, rumah panggung dari kayu ulin ratusan tahun ini adalah tempat singgah Pangeran Jayakarta dan para wali yang auranya masih sangat kental terasa hingga sekarang.

Larangan Foto Sembarangan dan Teror Kesurupan Massal

Melewati tujuh anak tangga kayu kuno, kamu akan disambut suasana yang sunyi, dingin, dan seolah waktu berjalan melambat secara tidak wajar.

Sri Mulyati selalu memberikan warning keras: jangan sombong dan jangan asal jepret kamera tanpa permisi.

Sayangnya, banyak anak muda yang meremehkan aturan ini dan akhirnya harus menanggung akibat yang sangat fatal dan mengerikan.

Pernah ada seorang pengunjung yang nekat masuk diam-diam dan asyik berfoto tanpa izin di area sensitif saung.

Tak butuh waktu lama, tubuhnya mendadak kaku, matanya melotot, dan ia menjerit histeris dalam kondisi kesurupan yang bikin suasana makin mencekam.

Sri menegaskan bahwa tempat ini tidak jahat, namun para penghuninya sangat tidak suka dengan manusia yang tidak punya etika di rumah orang lain.

Tragedi Tari Jaipong dan Sosok Berjanggut Panjang

Kisah horor lainnya datang dari rombongan pemuda yang nekat menggelar pentas seni tanpa kulonuwun kepada sang kuncen.

Saat alunan gendang dan tari jaipong dimulai di area sekitar saung, tiba-tiba satu per satu dari mereka ambruk dan menangis keras dalam nada yang tidak manusiawi.

Kesurupan massal malam itu menjadi sejarah kelam bagi siapa pun yang mencoba “pamer” kemampuan tanpa menghormati kearifan lokal Saung Ranggon.

Bahkan, ada cerita tentang seorang tukang perabot yang nekat naik sendirian dan membuka tirai pusaka tanpa izin karena rasa penasaran yang berlebihan.

Seketika, tubuh pria itu terlempar keras hingga ke bawah tangga seolah didorong kekuatan raksasa.

Dengan wajah pucat pasi dan gemetar, ia mengaku melihat sosok pria berjanggut panjang sedang duduk bersila di balik tirai, menatapnya dengan pandangan yang mengunci jiwa.

Pusaka Tersembunyi dan Rahasia Sumur Keramat Bung Karno

Di dalam Saung Ranggon, tersimpan berbagai benda pusaka mulai dari keris, belati, hingga guci misterius yang konon hanya berisi air pada waktu-waktu tertentu.

Dindingnya dihiasi foto-foto tokoh besar seperti Nyi Roro Kidul dan Walisongo, serta perlengkapan salat yang tertata sangat rapi.

Semua itu seolah disiapkan untuk menyambut pemilik aslinya yang bisa datang kapan saja dari dimensi yang berbeda.

Tak jauh dari saung, terdapat sumur keramat yang usianya jauh lebih tua dari bangunan itu sendiri, tempat yang konon pernah digunakan Bung Karno untuk bertapa mencari wangsit.

Sebelum masuk, setiap tamu wajib mencuci muka di gentong air dekat pintu masuk sebagai bentuk pembersihan diri.

Air sumur ini bukan sembarang air, karena ada sejarah panjang dan energi besar yang tersimpan di dalam kedalamannya yang gelap.

Penampakan Siti Komala dan Kereta Kencana Tengah Malam

Sumur tua itu dipercaya dijaga oleh makhluk astral cantik bernama Siti Komala atau Ibu Putri, yang sering terlihat mandi bersama tujuh bidadari pengikutnya sekitar pukul 01.30 dini hari.

Warga sekitar pun sudah terbiasa dengan aroma bunga melati yang mendadak menyerbak tajam di tengah malam.

Suasana makin mistis jika mengingat sejarah wilayah ini yang dulunya adalah hutan belantara tempat kereta kencana putih sering melintas.

Suara roda kayu dan derap kuda yang gagah sering terdengar jelas membelah keheningan malam pukul satu, meski wujud fisiknya tak pernah tertangkap mata telanjang.

Hingga kini, setiap Maulid Nabi, ritual pencucian pusaka wajib dilakukan demi menjaga keseimbangan energi. Saung

Ranggon bukan sekadar cagar budaya, ia adalah penjaga yang menuntut penghormatan tinggi dari siapa pun yang berani menginjakkan kaki di sana.

[get/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan