Bencana alam kembali melanda wilayah Jawa Barat dan memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Kali ini, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi titik lokasi terjadinya longsor besar yang menghantam pemukiman warga pada awal tahun 2026.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, langsung turun tangan meninjau lokasi dan menyoroti kerusakan ekosistem di kaki Gunung Burangrang yang diduga kuat sebagai pemicu utama bencana ini.
Kejadian yang berlangsung mendadak ini tercatat merusak sedikitnya 30 unit rumah warga serta melumat habis area perkebunan sayur yang menjadi sumber mata pencaharian utama penduduk lokal.
Kondisi geografis yang curam ditambah intensitas hujan yang tinggi membuat material tanah dengan mudah meluncur ke bawah.
Gubernur Dedi menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar faktor alam, melainkan ada campur tangan aktivitas manusia yang tidak terkontrol di area konservasi.
Ratusan Jiwa Mengungsi dan Dampak Kerusakan Masif
Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, skala dampak bencana ini cukup mengkhawatirkan.
Tercatat ada 113 jiwa dari 34 kepala keluarga (KK) yang terpaksa kehilangan tempat tinggal dan kini berada di posko pengungsian.
Para korban kini sangat membutuhkan bantuan logistik berupa makanan, pakaian, serta layanan kesehatan darurat untuk memulihkan trauma akibat kehilangan harta benda secara drastis.
Selain rumah tinggal, infrastruktur di sekitar kaki Gunung Burangrang juga mengalami kerusakan yang cukup signifikan.
Area perkebunan sayur yang biasanya hijau kini tertutup material tanah dan bebatuan, yang diprediksi akan mengganggu suplai komoditas pangan lokal untuk beberapa waktu ke depan.
BPBD terus melakukan validasi data di lapangan guna memastikan seluruh penyintas mendapatkan penanganan yang layak dan cepat selama masa tanggap darurat.
Kritik Pedas Gubernur Soal Alih Fungsi Lahan Konservasi
Dalam tinjauannya, Gubernur Dedi Mulyadi mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi hutan di lereng gunung yang kian gundul.
Alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi kawasan budidaya yang tidak sesuai peruntukan dianggap sebagai “bom waktu” yang kini meledak dalam bentuk bencana longsor.
Menurutnya, akar pohon yang seharusnya berfungsi sebagai pengikat tanah kini hilang, sehingga lereng Burangrang tidak lagi memiliki daya tahan terhadap resapan air hujan.
Sentimen ini menjadi teguran keras bagi pengembang maupun oknum yang melakukan penebangan liar atau pemanfaatan lahan secara ilegal.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan lahan di sepanjang kawasan Bandung Utara dan daerah tangkapan air lainnya.
Hal ini dilakukan untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali yang selalu mengorbankan masyarakat kecil di wilayah perbukitan.
Langkah Rehabilitasi dan Penataan Ulang Tata Ruang
Pemerintah daerah kini tengah merancang rencana rehabilitasi jangka panjang untuk warga Desa Pasirlangu.
Selain memberikan bantuan stimulan untuk pembangunan kembali rumah, Gubernur juga mewacanakan program relokasi bagi warga yang tinggal di zona merah atau area rawan bencana tingkat tinggi.
Penataan ulang tata ruang di kaki Gunung Burangrang akan menjadi prioritas utama guna mengembalikan fungsi hutan sebagai penyangga hidrologis.
Dedi Mulyadi mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama anak muda dan aktivis lingkungan, untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam Jawa Barat.
Tanpa kesadaran kolektif dalam menjaga area pegunungan, pembangunan infrastruktur semegah apa pun akan tetap rentan terhadap ancaman bencana alam.
Komitmen untuk menjaga “Leuweung” atau hutan harus kembali diperkuat demi keselamatan generasi masa depan dari ancaman bencana hidrometeorologi.
Statement:
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat
“Masalah utama yang kami lihat di lapangan adalah alih fungsi lahan di kaki Gunung Burangrang yang sangat masif. Hutan yang seharusnya menjadi pengikat tanah sudah berganti fungsi, dan inilah yang menyebabkan longsor. Kami akan tindak tegas pihak-pihak yang melanggar tata ruang agar keselamatan warga tidak terus dikorbankan.”
3 Poin Penting:
-
Skala Bencana: Longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, merusak 30 unit rumah dan berdampak pada 113 jiwa (34 KK) yang kini mengungsi.
-
Penyebab Utama: Diduga kuat terjadi akibat alih fungsi lahan hutan di lereng Gunung Burangrang yang mengganggu stabilitas struktur tanah.
-
Tindakan Pemerintah: Pemprov Jawa Barat akan melakukan audit penggunaan lahan dan mempertimbangkan relokasi warga dari zona rawan bencana.
![banjir kampung cogreg [dok. tribun]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/BANJIR-TANGERANG-6H8.jpg-300x169.webp)
![Banjir di U-turn Samsat Jakarta Barat [dok. X/@TMCPoldaMetro]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/full_1772943230180953_806b21a990_berita_pusat-pemberitaan-300x168.webp)
![bantargebang tim sar [Metrotvnews.com/Antonio]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69ad6b9a64b72-300x225.jpg)
![sungai dengkeng [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/KALI-DENGKENG-MELUAP-1-300x200.webp)