Search

Warga Banyumas Kepung Kantor Bupati Tuntut Tambang Granit Gunung Slamet Ditutup Permanen

Selasa, 27 Januari 2026

Protes warga soal tambang gunung slamet (Antara Foto)

Kondisi alam di kaki Gunung Slamet lagi nggak baik-baik saja, nih. Warga Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, dan Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah, baru saja menggelar aksi besar-besaran buat memprotes aktivitas pertambangan yang makin liar.

Mulai dari tambang batu granit sampai galian pasir hitam, semuanya dituding jadi biang kerok kerusakan lingkungan yang bikin warga “overthinking” tiap kali hujan turun.

Ratusan warga Desa Baseh bahkan sampai menduduki area tambang dan mendirikan tenda-tenda perjuangan.

Mereka sudah habis kesabaran karena selama empat tahun terakhir, lanskap bukit yang tadinya hijau royo-royo berubah jadi lubang-lubang raksasa yang mengerikan.

Kerusakan ini bukan cuma soal pemandangan yang jadi jelek, tapi sudah menyentuh urusan perut dan keselamatan nyawa masyarakat desa.

Ekosistem Rusak Parah: Sawah Tertimbun dan Kolam Ikan Lenyap

Dampak dari tambang ini benar-benar bikin sedih. Bayangkan saja, sekitar 24 hektar sawah produktif sekarang malah tertimbun pasir dan kerikil hasil sisa tambang.

Nggak cuma itu, 19 kolam budidaya ikan milik warga juga hancur lebur karena sedimentasi lumpur yang masuk ke aliran air.

Air yang dulunya jernih dan jadi sumber kehidupan buat lebih dari 100 keluarga, sekarang berubah jadi keruh dan nggak layak konsumsi.

Kerusakan ekologis ini makin diperparah dengan hilangnya resapan air yang berpotensi memicu krisis air bersih jangka panjang.

Warga merasa hak atas ruang hidup mereka dirampas demi akumulasi modal pihak tertentu. Mereka menuntut pemerintah nggak cuma sekadar kasih sanksi “istirahat” sementara, tapi menutup tambang tersebut secara permanen karena risiko bencana longsor dan banjir bandang sudah di depan mata.

Gerakan Solidaritas Mahasiswa hingga Aktivis Lingkungan Bersatu

Aksi heroik warga Baseh ternyata nggak sendirian, guys. Gelombang solidaritas datang dari berbagai elemen, mulai dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Purwokerto sampai Aliansi Masyarakat Peduli Gunung Slamet.

Para mahasiswa mendesak Dinas ESDM Jawa Tengah buat lebih tegas mengawasi tambang-tambang nakal yang minim perencanaan teknis.

Mereka nggak mau Banyumas berakhir jadi lokasi bencana besar seperti yang pernah terjadi di wilayah Sumatera.

Sebagai simbol pemulihan, warga dan aktivis melakukan aksi “healing” buat bumi dengan menanam 10.000 bibit pohon di lahan kritis bekas tambang.

Aksi ini jadi pesan kuat kalau masyarakat lebih butuh oksigen dan air bersih daripada sekadar investasi yang merusak.

Mereka ingin memastikan masa depan anak cucu nanti masih bisa menikmati sejuknya udara Gunung Slamet tanpa bayang-bayang ancaman ekologis.

Evaluasi Tata Ruang dan Lemahnya Pengawasan Pemerintah

Para ahli geologi dan teknik pertambangan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) juga angkat bicara soal carut-marutnya regulasi ini.

Ada indikasi “plot twist” dalam Perda RTRW Banyumas 2025–2045, di mana kawasan resapan air malah tumpang tindih dengan izin pertambangan.

Lemahnya pengawasan di lapangan membuat perusahaan tambang sering beroperasi tanpa kaidah teknis yang benar, alias asal keruk saja tanpa memikirkan keselamatan warga sekitar.

Hingga saat ini, Dinas ESDM Wilayah Slamet Selatan kabarnya sudah memberikan sanksi penghentian sementara bagi perusahaan nakal.

Namun, bagi warga, sanksi itu belum cukup. Mereka mendesak adanya normalisasi lahan dan ganti rugi atas kerusakan sawah serta kolam yang terdampak.

Perjuangan warga kaki Gunung Slamet ini menjadi pengingat keras bahwa kelestarian alam nggak boleh ditukar dengan uang, karena sekali rusak, butuh waktu puluhan tahun buat memulihkannya.

Statement:

Budi Tartanto, Koordinator Gerakan Musyawarah Masyarakat Baseh (Murba)

“Empat tahun warga Baseh bersabar. Tambang ini meninggalkan kerusakan alam yang besar. Setiap musim hujan kami selalu cemas karena risiko bencana makin tinggi. Ini bukan hanya soal sawah dan kolam, ini ancaman ekologis. Kalau dibiarkan, Baseh bisa menghadapi krisis air bersih. Kami menuntut penutupan permanen, bukan sementara.”

3 Poin Penting:

  • Krisis Ekologis: Aktivitas tambang granit dan pasir di lereng Gunung Slamet menyebabkan kerusakan lahan pertanian seluas 24 hektar dan menghancurkan 19 kolam ikan warga.

  • Tuntutan Warga: Masyarakat mendesak penutupan tambang secara permanen, normalisasi lahan, dan ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang mengancam sumber air bersih.

  • Lemahnya Regulasi: Adanya tumpang tindih kebijakan tata ruang (RTRW) dan lemahnya pengawasan dari Dinas ESDM memicu eksploitasi yang mengabaikan keselamatan warga permukiman.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan