Search

Dilema RDF Rorotan: Pramono Anung Tegaskan Penutupan Permanen Bukan Solusi

Minggu, 1 Februari 2026

RDF Rorotan (Dok. DLH DKI Jakarta)

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya buka suara soal kegaduhan yang terjadi di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara.

Dalam momen peresmian Taman Kelinci Roci pada Jumat, 30 Januari 2026, suasana mendadak emosional ketika seorang warga menangis di hadapan Gubernur.

Warga tersebut mengeluhkan bau menyengat yang tidak kunjung hilang dan kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang akibat operasional pengolahan sampah tersebut.

Menanggapi tuntutan warga yang meminta fasilitas tersebut ditutup selamanya, Pramono menyatakan bahwa hal itu hampir tidak mungkin dilakukan.

Menurutnya, menghentikan operasional fasilitas yang menelan biaya tinggi tersebut justru akan memicu masalah baru yang lebih rumit bagi sistem pengelolaan sampah di Jakarta.

Meski begitu, ia memastikan bahwa setiap keluhan masyarakat tetap menjadi prioritas utama untuk segera dicarikan jalan tengahnya.

Masalah Angkutan Sampah dan Pengadaan Armada Baru

Pramono menjelaskan bahwa sumber bau yang dikeluhkan warga sebenarnya bukan berasal dari proses pengolahan di dalam pabrik, melainkan dari armada pengangkut sampah. Air lindi yang menetes dari truk-truk lama menjadi biang kerok aroma tidak sedap yang menusuk hidung.

Sebagai langkah solutif, Pemprov DKI Jakarta mengklaim telah melakukan pengadaan alat transportasi pengangkut sampah baru sejak tahun 2025 guna meminimalisasi kebocoran limbah cair di sepanjang jalur transportasi.

Selama masa uji coba atau commissioning, fasilitas RDF Rorotan sebenarnya mampu mengolah ratusan ton sampah per hari tanpa kendala teknis yang berarti.

Namun, Pramono mengakui bahwa faktor eksternal seperti logistik pengiriman masih menjadi ganjalan besar. Ia menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap alur distribusi sampah agar tidak lagi mengganggu kenyamanan warga yang bermukim di sekitar wilayah Rorotan dan Cilincing.

Penutupan Sementara dan Tanggung Jawab Biaya Kesehatan

Sebagai respon instan terhadap protes warga yang sampai menitikkan air mata, Gubernur Pramono telah memerintahkan agar RDF Rorotan berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Langkah “setop” sementara ini diambil untuk mengevaluasi sistem transportasi sampah secara total.

Harapannya, jeda operasional ini bisa memberikan ruang bagi tim teknis untuk memperbaiki prosedur pengangkutan agar tidak ada lagi ceceran air lindi yang meresahkan pengguna jalan dan warga sekitar.

Terkait keluhan warga soal gangguan kesehatan dan biaya pengobatan yang harus ditanggung sendiri, Pramono menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta akan bertanggung jawab. Ia menyatakan bahwa urusan biaya medis akibat dampak operasional fasilitas publik adalah kewajiban pemerintah.

Meski warga mendesak penutupan permanen dengan alasan pencegahan penyakit, pemerintah tetap pada posisi melakukan perbaikan sistem daripada menghapus fasilitas yang sudah terlanjur dibangun tersebut.

Warisan Kebijakan dan Komitmen Mendengarkan Suara Rakyat

Pramono juga mengingatkan publik bahwa proyek RDF Rorotan ini merupakan warisan dari era kepemimpinan sebelumnya. Hal ini membuat posisi Pemprov saat ini cukup dilematis antara menjaga investasi infrastruktur yang sudah ada atau menuruti tuntutan warga yang terdampak langsung.

Namun, ia membantah jika dikatakan menutup mata terhadap penderitaan warga, mengingat ia sudah beberapa kali turun langsung menemui masyarakat untuk mendengarkan keluh kesah mereka.

Ke depannya, evaluasi izin proyek dan tata kelola limbah di Jakarta akan semakin diperketat agar kasus serupa tidak terulang di titik lain. Pramono berharap pengadaan truk sampah modern yang lebih kedap air bisa menjadi kunci utama berakhirnya drama bau di Rorotan.

Bagi warga Jakarta Utara, janji ini menjadi harapan baru agar mereka tidak perlu lagi “menabung” sakit akibat tinggal berdekatan dengan fasilitas pengolahan sampah milik kota.

Statement:

Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta

“Jadi RDF ini terus terang kan dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, ini problem-nya lebih rumit lagi, enggak mungkin. Untuk sementara ini saya minta untuk disetop. Mudah-mudahan ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini.”

3 Poin Penting:

  • Gubernur Pramono Anung menolak penutupan permanen RDF Rorotan karena alasan biaya pembangunan yang tinggi dan potensi kerumitan masalah pengelolaan sampah di Jakarta.

  • Pemprov DKI Jakarta mengidentifikasi air lindi dari truk pengangkut sebagai sumber bau utama dan telah menyiapkan armada baru untuk mengatasi masalah tersebut.

  • Operasional RDF Rorotan dihentikan untuk sementara waktu guna evaluasi sistem transportasi, sementara biaya kesehatan warga yang terdampak akan ditanggung pemerintah.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan