Search

Harga Emas Drop Parah: Saatnya Serok atau Pantau Dulu Pasca-Libur Imlek?

Rabu, 18 Februari 2026

emas [dok. web]
emas [dok. web]

Kabar kurang sedap datang buat para investor “logam mulia” yang sedang memantau portofolio mereka pekan ini.

Harga emas dunia dan Antam terpantau mengalami penurunan tajam dalam dua sesi terakhir, bahkan sampai menembus ke bawah level psikologis US$4.900 per ounce pada Selasa, 17 Februari 2026.

Penurunan ini dipicu oleh aksi profit taking alias ambil untung secara masif oleh para investor global yang memanfaatkan momentum setelah reli panjang beberapa waktu lalu.

Kondisi pasar yang sedang sepi akibat libur panjang Imlek di kawasan Asia, terutama Tiongkok, turut memperparah keadaan karena likuiditas pasar yang menipis.

Tiongkok sebagai konsumen emas terbesar di dunia saat ini sedang “off,” sehingga permintaan fisik melandai dan memberikan tekanan ekstra pada harga.

Fenomena ini membuat harga emas spot merosot sekitar 1,9% ke level US$4.899,50 per ounce, sebuah angka yang cukup mengejutkan bagi para pengamat pasar komoditas.

Emas Antam Ikut Terjun Bebas ke Level Dua Jutaan

Efek domino dari pasar global ini langsung terasa ke pasar domestik, di mana harga emas batangan produksi Antam ikut mengalami koreksi yang cukup dalam.

Tercatat harga emas Antam turun sebesar Rp22.000, yang membuat posisinya kini bertengger di level Rp2.918.000 per gram.

Penurunan ini tentu menjadi perbincangan hangat di kalangan anak muda yang baru memulai investasi emas sebagai instrumen safe haven untuk masa depan mereka.

Tidak hanya harga jual, harga buyback atau harga beli kembali oleh Antam juga mengalami penyusutan menjadi Rp2.706.000 per gram.

Bagi mereka yang berniat mencairkan investasi dalam waktu dekat, momen ini mungkin terasa kurang pas karena selisih harga yang melebar.

Namun, bagi para pemburu diskon investasi, penurunan ini sering kali dianggap sebagai peluang untuk menambah aset dengan harga yang lebih miring dibandingkan bulan sebelumnya.

Koreksi Teknis Setelah Rekor Tertinggi di Awal Tahun

Penurunan tajam yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan bentuk koreksi teknis setelah emas sempat mencapai puncak kejayaannya di atas level US$5.595 pada akhir Januari 2026 lalu.

Setelah mengalami kenaikan yang sangat tinggi, pasar secara alami akan melakukan penyesuaian untuk mencari keseimbangan baru.

Selain faktor teknis, sentimen pasar global yang sedang menunggu kepastian kebijakan suku bunga dari The Fed juga membuat para pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati.

Menariknya, tren negatif ini tidak hanya menyerang emas sendirian, karena komoditas perak pun ikut tertekan cukup signifikan.

Perak dilaporkan melemah hingga 2,7% dan kini berada di level US$74,55 per ounce.

Hal ini menunjukkan bahwa sektor logam berharga secara keseluruhan memang sedang mengalami fase “pendinginan” akibat dinamika ekonomi global yang dinamis serta pergeseran fokus investor ke aset-aset lainnya.

Strategi Hadapi Fluktuasi Pasar yang Agresif

Bagi para investor pemula, fluktuasi harga seperti ini memang sering kali memicu kepanikan atau fear of missing out (FOMO) saat harga sedang turun.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa investasi emas idealnya dilakukan untuk jangka panjang, sehingga penurunan harian seperti ini seharusnya tidak mengganggu strategi utama.

Memahami siklus pasar, termasuk dampak libur besar seperti Imlek, adalah kunci agar tetap tenang saat melihat grafik yang sedang memerah.

Memasuki sisa pekan ini, pasar diprediksi masih akan bergerak volatil hingga aktivitas perdagangan di Asia kembali normal sepenuhnya.

Mengamati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi hal wajib, mengingat harga emas domestik sangat sensitif terhadap kurs.

Tetap disiplin dengan rencana investasi awal adalah langkah paling bijak di tengah ketidakpastian harga yang sedang terjadi di pasar komoditas saat ini.

3 Poin Penting:

  • Harga emas dunia anjlok di bawah US$4.900 per ounce akibat rendahnya permintaan fisik selama libur Imlek di Asia dan aksi profit taking.

  • Emas Antam turun drastis sebesar Rp22.000 menjadi Rp2.918.000 per gram, dengan harga buybackyang juga ikut merosot.

  • Koreksi ini dipengaruhi faktor teknis pasca rekor tertinggi pada Januari 2026 serta penantian pasar terhadap kebijakan terbaru bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

[gas/man]

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan