Pasar Taman Puring yang berlokasi di Jalan Kyai Maja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, memang sudah lama jadi primadona bagi para pemburu barang bermerek dengan harga miring.
Pasar yang legendaris sejak tahun 1960-an ini seolah tidak lekang oleh zaman meskipun gempuran pusat perbelanjaan modern kian masif di ibu kota.
Vibes pasar ini selalu berhasil menarik perhatian anak muda yang ingin tampil modis tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Memasuki lantai dasar, suasana riuh rendah pengunjung langsung terasa, terutama di area yang menjajakan pakaian dan sepatu hits. Keramaian ini membuktikan bahwa pesona Taman Puring sebagai destinasi belanja barang berkualitas masih sangat kuat.
Namun, pemandangan ini seketika berubah drastis saat kita melangkah ke lantai dua, di mana suasana sunyi mulai menyelimuti sudut-sudut kios yang tersisa.
Nostalgia Empat Dekade Bersama Buyung Kaset
Di lantai dua, tepat di samping tangga, terdapat sebuah lapak ikonik milik Pak Buyung yang setia menjajakan kaset pita, CD, hingga piringan hitam.
Beliau adalah saksi sejarah yang telah berjualan di pasar ini sejak era 1980-an, saat dirinya masih remaja dan baru merantau. Kini, Buyung menjadi satu-satunya pedagang angkatan lama yang masih bertahan, sementara rekan-rekan seperjuangannya telah tiada atau pindah ke lokasi lain.
Keputusan Buyung untuk tetap bertahan di Taman Puring didasari oleh faktor ekonomi yang cukup pelik.
Banyak pedagang kaset lainnya memilih hijrah ke Blok M Square demi kenyamanan dan kebersihan, namun biaya sewa yang selangit menjadi penghalang utama bagi pria paruh baya ini.
Baginya, bertahan di tengah sepinya pembeli adalah pilihan yang realistis dibandingkan harus menanggung beban administrasi kios yang berat.
Koleksi Musisi Legendaris dan Jejak Ahmad Dhani
Meskipun sunyi, lapak milik Buyung merupakan gudang harta karun bagi para kolektor musik fisik. Tersedia sekitar 7.000 kaset dan 500 CD dari musisi legendaris seperti Hetty Koes Endang, Rinto Harahap, hingga artis mancanegara layaknya George Benson dan Julio Iglesias.
Harganya pun sangat bersahabat bagi kantong pelajar, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp50.000 saja per kepingnya.
Menariknya, lapak sederhana ini memiliki sejarah yang cukup mentereng di kalangan musikus papan atas Indonesia. Buyung bercerita bahwa sekitar tahun 2007, Ahmad Dhani sering berkunjung ke lapaknya untuk memborong ribuan kaset demi melengkapi koleksi pribadinya.
Bahkan, Buyung juga menawarkan beberapa unit pemutar piringan hitam klasik, seperti merk Bang & Olufsen, bagi mereka yang hobi mengoleksi audio vintage.
Asa di Balik Rencana Lelang dan Warung Nasi
Sayangnya, romantisme musik analog kini mulai meredup tergerus zaman digital yang serba praktis. Buyung kerap merasakan pahitnya berhari-hari tanpa pemasukan karena minimnya pengunjung yang melirik lantai dua.
Dalam setahun terakhir, pendapatannya dari berjualan kaset merosot tajam, sehingga ia harus menyambi membantu di warung nasi milik keponakannya di Cipete demi menyambung hidup.
Kondisi yang semakin sulit membuat Buyung mulai berpikir untuk menutup lembaran sejarahnya di Pasar Taman Puring. Ia berencana melelang seluruh koleksi kaset dan barang elektroniknya senilai Rp50 juta untuk modal membuka usaha warung nasi Padang.
Harapan besar terselip di balik rencana lelang tersebut, agar koleksi musik yang ia jaga selama puluhan tahun bisa berpindah ke tangan yang tepat.
3 Poin Penting:
-
Pasar Taman Puring tetap eksis sebagai pusat barang bermerek murah sejak 1960, namun terdapat kontras keramaian antara lantai dasar dan lantai dua.
-
Lapak “Buyung Kaset” adalah satu-satunya penjual kaset pita tersisa dari generasi 80-an yang pernah menjadi langganan musikus Ahmad Dhani.
-
Akibat penurunan minat terhadap media fisik, koleksi ribuan kaset di lapak tersebut rencananya akan dilelang seharga Rp 50 juta untuk modal usaha baru.
![olahraga padel [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Turnamen-Padel-Pertama-Di-Bandung-080225-agr-3-300x200.jpg)


