Indonesia beneran jadi rumah kedua yang nyaman buat spesies laut yang sempat dikira sudah punah selama 66 juta tahun. Kalau kalian mikir ikan purba cuma ada di film Jurassic World, kalian salah besar, Sobat!
Ikan Raja Laut atau Coelacanth adalah bukti nyata kalau keajaiban masa lalu masih berenang santai di perairan kita.
Spesies ini pertama kali menarik perhatian dunia pada tahun 1997 saat ditemukan di Manado, menjadikannya penemuan kedua setelah saudara jauhnya ditemukan di Afrika Selatan.
Ikan ini punya nama internasional Coelacanth Sulawesi (Latimeria menadoensis). Penemuannya di Sulawesi Utara sempat menggemparkan dunia sains karena fisiknya mirip banget sama nenek moyangnya dari periode Cretaceous.
Bayangkan, di saat hewan lain berevolusi jadi bentuk yang modern, ikan ini tetap konsisten dengan gaya “jadul” alias purba selama jutaan tahun. Benar-benar definisi stay humble yang sesungguhnya!
Perbedaan Vibes dengan Afrika dan Morfologi Unik Sirip Lobus
Meski satu famili, Ikan Raja Laut Indonesia punya vibes yang beda sama versinya di Afrika. Kalau di Indonesia warnanya cenderung cokelat keemasan, saudaranya di Afrika, Latimeria chalumnae, lebih didominasi warna biru keabu-abuan.
Keduanya adalah ikan bersirip lobus (sarcopterygians) berukuran raksasa yang bisa tumbuh sampai dua meter dengan berat mencapai 100 kilogram. Mereka lebih suka “nongkrong” di gua-gua laut dalam pada kedalaman 150 hingga 200 meter.
Keunikan lain dari Coelacanth adalah mereka merupakan kerabat terdekat tetrapoda, lho! Artinya, secara anatomi mereka punya ciri yang nggak ditemukan di ikan modern lainnya.
Karena habitatnya di terumbu karang dalam yang sulit dijangkau, mendokumentasikan ikan ini butuh perjuangan ekstra.
Para peneliti harus pakai teknologi canggih kayak kapal selam atau Remote Operated Vehicle (ROV) cuma buat sekadar menyapa si fosil hidup ini di kegelapan laut.
Rahasia Arlindo dan Dugaan Habitat Baru yang Lebih Luas
Ketua Kelompok Riset Iktiologi BRIN, Kunto Wibowo, meyakini kalau Raja Laut nggak cuma jago kandang di Sulawesi saja. Buktinya, sekarang spesies ini sudah ditemukan di Maluku Utara hingga Biak, Papua.
Ada dugaan kuat kalau ikan ini juga menghuni perairan selatan Jawa dan timur Sumatera yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Kenapa bisa sejauh itu? Jawabannya ada pada fenomena Arlindo atau Arus Lintas Indonesia.
Arlindo adalah sistem arus laut penting yang mengalirkan air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Jadi, kemungkinan besar ikan-ikan ini ikut terbawa aliran arus bawah air sambil melakukan migrasi vertikal.
Meski bukan tipe ikan yang hobi jalan-jalan jauh alias bermigrasi aktif, pengaruh evolusi bumi puluhan juta tahun lalu yang membelah daratan bikin ikan ini terjebak dalam isolasi perairan yang kini jadi wilayah Nusantara.
Perlindungan Penuh Buat Si Ikan yang Gak Enak Dimakan
Kabar baiknya, pemerintah kita nggak tinggal diam melihat aset berharga ini. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025, Ikan Raja Laut sudah mendapatkan perlindungan penuh.
Statusnya dilindungi secara total, jadi nggak boleh ditangkap, apalagi dimanfaatkan secara komersial. Lagipula, kalau ada yang niat makan ikan ini, siap-siap kecewa karena rasanya nggak enak akibat kandungan lemak yang sangat tinggi.
Statusnya di dunia internasional juga nggak main-main, lho. IUCN memasukkannya dalam kategori Rentan (Vulnerable) dan CITES menaruhnya di Appendix I yang artinya terancam punah.
Jadi, perdagangan internasional sangat dilarang kecuali untuk kepentingan penelitian.
Dengan segala keunikan dan sejarahnya, Ikan Raja Laut adalah pengingat buat kita semua untuk tetap rendah hati di hadapan misteri alam semesta yang luas dan belum sepenuhnya terjamah.
Statement:
Kunto Wibowo, Ketua Kelompok Riset Iktiologi BRIN
“Meski bukan ikan bermigrasi, namun dugaan itu ada karena Indonesia memiliki Arlindo, yaitu sistem arus laut penting yang mengalirkan air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia. Jadi, ikan tersebut kemungkinan besar ikut terbawa aliran. Analisis genetika menunjukkan perbedaan signifikan antara spesies Afrika dan Indonesia.”
3 Poin Penting:
-
Ikan Raja Laut atau Coelacanth Sulawesi merupakan fosil hidup yang sempat dianggap punah selama 66 juta tahun sebelum ditemukan kembali di Manado pada 1997.
-
Spesies ini memiliki keunikan morfologi berupa sirip lobus dan habitat di laut dalam (150-200 meter), serta diduga tersebar luas di perairan Indonesia karena faktor Arus Lintas Indonesia (Arlindo).
-
Pemerintah Indonesia memberikan perlindungan penuh melalui regulasi konservasi karena statusnya yang rentan dan terancam punah menurut daftar internasional IUCN dan CITES.



