Isu soal pergantian tabung gas elpiji (LPG) 3 kg bersubsidi menjadi gas alam terkompresi atau compressed natural gas(CNG) 3 kg belakangan ini sukses bikin masyarakat, terutama anak muda yang baru mandiri, jadi ketar-ketir.
Namun, para ekonom menyarankan agar pemerintah tidak gegabah dalam memutuskan kebijakan ini secara penuh.
Alih-alih mengganti secara total, ‘CNG eceran’ ini lebih baik diposisikan sebagai alternatif energi bagi masyarakat selain gas minyak cair yang selama ini kita gunakan.
Ekonom dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, berpendapat bahwa rencana masifikasi CNG melalui tabung 3 kg ini tidak realistis jika tujuannya adalah substitusi penuh Gas Melon dalam waktu singkat.
Menurutnya, transisi energi dari LPG ke CNG butuh persiapan matang yang nggak main-main.
Pemerintah perlu memikirkan ekosistem yang jauh lebih kompleks agar masyarakat tidak merasa terbebani dengan aturan baru yang tiba-tiba muncul di tengah kondisi ekonomi yang dinamis.
Ekosistem Distribusi Masih Menjadi Tantangan Besar
Syafruddin menilai pengembangan CNG membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih rumit, mulai dari biaya kompresi yang efisien hingga tabung dengan standar keselamatan tinggi.
Jaringan distribusi CNG saat ini belum bisa menandingi LPG 3 kg yang sudah menjamur sampai ke tingkat warung klontong dan pangkalan di pelosok desa.
Jika dipaksakan ganti total, masyarakat berisiko menghadapi kelangkaan energi dan beban adaptasi baru dalam aktivitas harian mereka yang sudah padat.
Strategi yang paling masuk akal adalah mengimplementasikan CNG secara terbatas terlebih dahulu, misalnya di wilayah yang dekat dengan sumber gas atau sentra industri kecil.
Dengan menempatkan CNG 3 kg sebagai opsi pilihan, pemerintah memberikan ruang bagi warga untuk memilih energi yang paling sesuai dengan akses dan kantong mereka.
Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif untuk mengurangi risiko penolakan sosial yang biasanya muncul saat ada perubahan kebijakan energi secara masif.
Tekan Angka Impor Gas Demi Ketahanan Energi Nasional
Di sisi lain, program masifikasi CNG ini sebenarnya punya sisi positif sebagai instrumen diversifikasi energi untuk memperkuat pemanfaatan gas domestik.
Saat ini, Indonesia masih sangat ketergantungan pada impor LPG yang angkanya mencapai hampir 80 persen dari total konsumsi nasional.
Dengan memaksimalkan CNG, pemerintah bisa menghemat anggaran subsidi sekaligus meningkatkan ketahanan energi tanpa harus menciptakan guncangan besar pada pola konsumsi masyarakat luas.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun akhirnya angkat bicara dan menegaskan bahwa CNG 3 kg tidak akan dicanangkan untuk menggantikan LPG 3 kg bersubsidi secara keseluruhan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa kebijakan ini akan dilakukan lewat berbagai tahapan yang terukur.
Pada tahun ini, kementerian bakal meluncurkan beberapa proyek percontohan (pilot project) untuk melihat sejauh mana efektivitas penggunaan gas alam dalam tabung kecil ini.
Tabung Canggih dan Kompor Lama yang Tetap Bisa Digunakan
Kabar baiknya buat kamu yang malas ribet, penggunaan CNG dalam tabung 3 kg ini diklaim tidak memerlukan penggantian kompor. Masyarakat tetap bisa memakai kompor LPG yang sudah ada tanpa perlu memasang alat pengonversi tambahan.
Kementerian ESDM juga sedang mengkaji penggunaan tabung tipe 4 berbahan polimer dan komposit yang sangat ringan namun punya ketahanan tekanan tinggi yang luar biasa untuk menjamin keamanan penggunaan di rumah tangga.
Secara teknis, CNG dibuat dengan mengompresi gas alam yang terdiri dari metana dan etana pada tekanan tinggi.
Meski disimpan dalam tekanan antara 200 hingga 250 bar, tabung yang dirancang memiliki toleransi keamanan hingga 650 bar, sehingga tingkat keamanannya sangat terjaga.
Dengan segala kecanggihan dan kemudahan ini, CNG 3 kg diharapkan bisa menjadi solusi energi masa depan yang lebih ramah lingkungan dan ramah di dompet tanpa harus bikin pusing urusan dapur.
Statement:
Syafruddin Karimi, Ekonom Universitas Andalas
“LPG 3 kg sudah membentuk jaringan distribusi luas sampai tingkat warung, pangkalan, dan rumah tangga. CNG belum memiliki jaringan setara. Strategi alternatif memberi ruang bagi masyarakat untuk memilih energi yang paling sesuai dengan akses, harga, keamanan, dan kebiasaan penggunaan.”
3 Poin Penting:
-
CNG 3 kg diposisikan sebagai alternatif pilihan energi bagi masyarakat, bukan sebagai pengganti total LPG 3 kg (Gas Melon) bersubsidi.
-
Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor LPG nasional yang saat ini menyentuh angka 80 persen dari total konsumsi.
-
Penggunaan CNG 3 kg tidak memerlukan penggantian kompor dan menggunakan teknologi tabung tipe 4 yang ringan serta memiliki standar keamanan sangat tinggi.



