Search

Kejutan Konservasi Dunia! Hiu Gangga yang Nyaris Punah Ditemukan Lagi di Sungai Sesayap

Jumat, 29 Mei 2026

Hiu (freepik)

Konservasi lingkungan internasional mendadak gempar oleh sebuah kabar yang bener-bener gokil dan di luar prediksi.

Spesies hiu air tawar paling langka di dunia, Hiu Gangga (Glyphis gangeticus), kedapatan muncul kembali di area Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.

Penemuan maut ini berhasil diabadikan oleh tim peneliti gabungan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), James Cook University, dan Universitas Borneo Tarakan saat melakoni agenda riset lapangan.

Penemuan ini langsung bertengger di kasta tertinggi lini masa diskusi para pencinta alam jaman sekarang karena statusnya yang sangat krusial.

Bagaimana tidak? Dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu saja, tim ilmuwan sukses mengamati sebanyak 43 spesimen Hiu Gangga secara interaktif di aliran sungai tersebut.

Rekor penemuan harian ini dinilai sebagai keajaiban besar mengingat sejak tahun 2000, kemunculan predator eksotis ini tercatat kurang dari 10 kali di seluruh wilayah persebaran globalnya dari Pakistan hingga Myanmar.

Mengenal Karakteristik Predator Sungai Tropis dan Pengakuan Istimewa Kawasan ISRA 2024

Secara silsilah biologi, Hiu Gangga merupakan spesies hiu sungai tropis unik yang memilih habitat di wilayah hilir sungai, muara, hingga kawasan pesisir dengan kedalaman 50 meter.

Karakteristik fisiknya terbilang sangat estetik dengan bentuk moncong pendek yang membulat serta panjang maksimum tubuh yang bisa mencapai 275 sentimeter.

Fase pertumbuhan hiu muda umumnya dihabiskan secara fungsional di perairan tawar, sedangkan kelompok hiu dewasa lebih banyak menghuni kawasan air payau dan laut.

Berkat kelimpahan data spesimen yang ditemukan, kawasan Sungai Sesayap kini resmi mengantongi predikat internasional yang sangat gahar.

Wilayah perairan Kalimantan Utara ini ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area(ISRA) oleh otoritas global.

Pengakuan prestisius ini menegaskan bahwa ekosistem Sungai Sesayap memegang peran vital sebagai daerah asuhan (nursery ground) alami tempat tumbuh kembangnya anakan hiu sungai yang terancam punah tersebut.

Ironi Populasi Kritis Terancam Punah Akibat Ancaman Nyata Jaring Insang Nelayan

Di balik euforia penemuan tersebut, tersimpan fakta miris mengenai kondisi populasi global Hiu Gangga yang saat ini bener-bener berada di titik nadir.

Lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) bahkan tanpa ragu memasukkan spesies ini ke dalam kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah.

Bayangkan saja, populasi dewasa di seluruh dunia diperkirakan tersisa kurang dari 250 individu, dengan angka kemerosotan populasi yang melampaui 80 persen dalam setengah abad terakhir.

Ancaman utama yang memicu hancurnya ekosistem predator ini sebagian besar berasal dari aktivitas tangkapan tidak sengaja (bycatch) lewat jaring insang dan pancing nelayan.

Selain faktor operasional perikanan, degradasi habitat akibat pembukaan lahan pertanian masif ikut memperparah keadaan dengan meningkatkan sedimentasi air sungai.

Pembangunan bendungan komersial di hulu juga dituding menjadi biang kerok terganggunya aliran alami sungai yang memicu kepunahan massal spesies air tawar.

Solusi Strategis Konservasi Kolaboratif Tanpa Mematikan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Melihat urgensi yang ada, tim peneliti Unhas bersama mitra internasionalnya langsung bergerak satset untuk merumuskan model perlindungan yang adaptif.

Pendekatan perlindungan yang disiapkan dipastikan tidak akan memakai metode ekstrem berupa larangan total aktivitas penangkapan ikan di sepanjang muara.

Skema yang ditawarkan justru lebih realistis dan humanis, seperti sosialisasi pelepasan kembali anakan hiu, pengaturan ukuran mata jaring, serta pembatasan alat tangkap tertentu.

Langkah taktis ini sengaja diambil agar kelestarian Hiu Gangga bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan stabilitas ekonomi harian masyarakat pesisir.

Pembentukan konsorsium riset hiu dan pari di tanah Borneo diharapkan mampu melahirkan regulasi berbasis data ilmiah yang kuat dan berkelanjutan.

Sinergi interaktif antara akademisi, pemerintah, dan warga lokal jaman sekarang menjadi kunci utama agar sang predator eksotis tetap bisa berenang bebas di bumi nusantara, valid no debat!

Statement:

Prof. Rohani Ambo Rappe, perwakilan resmi Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas)

“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat. Keterlibatan Unhas dalam penelitian ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang universitas dalam mendukung konservasi berbasis kolaborasi internasional dan penguatan riset kelautan berkelanjutan. Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan.”

3 Poin Penting:

  • Tim peneliti gabungan berhasil menemukan kembali 43 ekor Hiu Gangga (Glyphis gangeticus) yang sangat langka di Sungai Sesayap, Kalimantan Utara.

  • Sungai Sesayap resmi ditetapkan sebagai kawasan Important Shark and Ray Area (ISRA) karena menjadi daerah asuhan vital bagi spesies berkategori kritis terancam punah ini.

  • Strategi konservasi yang diterapkan mengedepankan skema perlindungan terbatas dan pelibatan warga pesisir agar kelestarian lingkungan dan ekonomi tetap berjalan seimbang.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan