Search

Supergirl Gagal Terbang Tinggi Akibat Eksekusi yang Membingungkan

Minggu, 28 Juni 2026

supergirl (ist)

Ekspektasi besar para pencinta sinema pahlawan super terhadap rilisan terbaru DC Universe tampaknya harus membentur realitas yang cukup pahit.

Sebagai proyek fiksi ilmiah yang sangat diantisipasi tahun ini, Supergirl sesungguhnya punya potensi besar menjadi dobrakan dalam menampilkan sosok pahlawan yang rapuh dan punya celah emosional.

Sayangnya, modal awal yang menjanjikan tersebut justru tersesat dalam eksekusi yang membingungkan, membuat hasil akhirnya terasa hambar.

Film ini memang bukan sebuah tontonan yang sepenuhnya mengecewakan atau gagal total di pasaran. Namun, narasi yang disajikan gagal meninggalkan kesan mendalam atau menyajikan tensi ketegangan yang berarti bagi penonton saat keluar dari studio bioskop.

Eksekusi kisah sepupu Superman ini justru terasa membosankan di tengah labirin plot yang gamang serta sajian visual yang teramat pekat sepanjang durasi tayang.

Pesona Edgy Milly Alcock yang Menjadi Penyelamat di Tengah Kelesuan

Satu-satunya magnet utama yang berhasil menahan film berdurasi 108 menit ini agar tidak jatuh bebas adalah performa luar biasa dari aktris Milly Alcock sebagai Kara Zor-El.

Alcock dengan sangat cerdas menyuntikkan gaya edgy yang berpadu sempurna dengan estetika film berkonsep punk rock yang kumuh.

Kara versi Alcock tampil tidak sempurna sebagai pahlawan urakan yang sering bangun kesiangan dalam kondisi mabuk, serta menyembunyikan trauma masa lalu di balik kacamata hitam besar yang eksentrik.

Keputusan casting Alcock sebagai Kara terasa makin solid berkat dukungan desain kostum yang mendetail serta tata produksi yang apik di lapangan.

Tim kreatif berhasil memadukan efek praktis dan visual secara seimbang, terutama untuk riasan para karakter monster yang tampak meyakinkan.

Namun, di sanalah akhir dari segala pujian untuk proyek ini, karena poin-poin krusial lainnya justru memperlihatkan penurunan kualitas yang cukup mengganggu kenyamanan menonton.

Naskah Rapuh Ana Nogueira dan Konflik Antagonis yang Terasa Hambar

Masalah mendasar yang menjadi jangkar pemberat film ini berakar pada naskah perdana film panjang tulisan Ana Nogueira yang terasa sangat lemah.

Alih-alih mengeksplorasi proses Kara keluar dari jerat depresi dan rasa dukanya secara mendalam, skripnya justru memperlakukan narasi hanya sebagai wadah kosong untuk menumpuk efek visual.

Transformasi emosional Kara, mulai dari menghentikan lingkaran setan merusak diri sendiri hingga menemukan kembali tujuan hidupnya, terasa seperti asal tempel tanpa perkembangan organik.

Ironisnya, perjalanan karakter Ruthye yang dimainkan oleh Eve Ridley justru konsisten menjadi penggerak utama seluruh roda narasi film.

Akibat dominasi tersebut, Kara Zor-El malah terlihat seperti sosok asing yang berkeliaran tanpa arah yang jelas dalam filmnya sendiri.

Ditambah lagi, kehadiran aktor Matthias Schoenaerts sebagai Krem of the Yellow Hills selaku villain utama juga tidak meninggalkan kesan apa pun karena konflik kejam kelompoknya hanya diolah di permukaan.

Adegan Aksi Datar yang Melelahkan dan Hilangnya Percikan Magis DCU

Meskipun menampilkan kemunculan aktor karismatik Jason Momoa yang tampil natural sebagai Lobo, kehadirannya dinilai terlalu aman dan mudah ditebak oleh penonton.

Nuansa menyenangkan dan percikan magis yang sebelumnya berhasil dibangun oleh James Gunn lewat film Superman (2025) sama sekali tidak membekas di sini.

Isu sederhana digulirkan dalam plot yang tidak cukup menarik, lengkap dengan dialog kaku yang ditulis berlebihan serta pengulangan kalimat yang menjengkelkan tanpa urgensi jelas.

Secara keseluruhan, formula sinematik yang ditawarkan oleh proyek teranyar ini tidak menyajikan sesuatu yang baru, termasuk dari sektor efek visualnya yang terasa melelahkan.

Rentetan adegan aksi di dalamnya berjalan sangat datar, hambar, serta tidak menyisakan impresi kuat saat lampu bioskop kembali dinyalakan.

Pada akhirnya, pahlawan super perempuan ini gagal terbang tinggi bukan karena kekurangan modal atau buruknya CGI, melainkan akibat naskah yang rapuh dan arah kreatif yang gamang.

3 Poin Penting:

  • Kegagalan Eksekusi Narasi: Meskipun memiliki potensi besar sebagai pendobrak karakter pahlawan yang rapuh, film Supergirl dinilai gagal karena memiliki plot yang membingungkan dan membosankan.

  • Performa Brilian Milly Alcock: Akting Milly Alcock sebagai Kara Zor-El dengan gaya edgy punk rock menjadi penyelamat utama di tengah rapuhnya naskah tulisan Ana Nogueira.

  • Karakter Pendukung Kurang Kuat: Penampilan karakter antagonis Krem oleh Matthias Schoenaerts serta interaksi dengan tokoh pendukung lainnya terasa hambar dan hanya menyentuh konflik permukaan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan