Langkah berani dan taktis kembali ditunjukkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam menyusun roda pemerintahan.
Orang nomor satu di Indonesia ini secara terbuka mengaku banyak menempatkan para profesor dan guru besar pada posisi-posisi strategis di dalam kabinetnya.
\Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan karena kesadaran penuh bahwa para ilmuwan memiliki peran yang sangat krusial dalam membantu pemerintah merumuskan solusi atas berbagai persoalan pelik yang dihadapi bangsa saat ini.
Prabowo menegaskan bahwa tujuan utama dari penyelenggaraan negara adalah untuk mewujudkan kehidupan yang layak, adil, dan sejahtera bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai kepala pemerintahan, beliau merasa wajib untuk menghadapi setiap tantangan global maupun domestik dengan kesiapan penuh.
Kehadiran para akademisi bergelar profesor di pos-pos kunci pemerintahan diharapkan mampu memberikan sudut pandang yang berbasis data, ilmiah, dan objektif dalam pengambilan keputusan penting negara.
Kesadaran Peran Guru Besar dan Analogi Nakhoda Kapal yang Andal
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang berlangsung di JCC, Senayan, Jakarta Pusat.
Beliau mengungkapkan bahwa sejak awal kepemimpinannya, ia sudah sangat sadar akan potensi besar yang dimiliki oleh para pemikir dan peneliti tanah air.
Oleh sebab itu, jika masyarakat menyimak dengan saksama struktural kabinet saat ini, hampir di setiap kementerian atau lembaga penentu kebijakan diisi oleh para pakar di bidangnya.
Lebih lanjut, Prabowo membagikan filosofi kepemimpinannya yang diibaratkan seperti seorang nakhoda yang sedang mengemudikan kapal besar di tengah lautan.
Agar kapal tersebut bisa berlayar dengan aman dan selamat sampai ke pelabuhan tujuan, sang nakhoda mutlak membutuhkan awak kapal yang memiliki kompetensi tinggi dan bisa diandalkan.
Ilmu kepemimpinan yang matang inilah yang mendasari keputusan besarnya untuk tidak sembarangan dalam memilih para pembantu presiden di kabinet kerja.
Belajar dari Filosofi Sepak Bola dan Pentingnya Kualitas Manusia
Tidak hanya menggunakan analogi kelautan, Presiden juga membandingkan prinsip manajemen pemerintahan ini dengan dunia olahraga populer, yaitu sepak bola.
Menurut beliau, sebuah tim sepak bola tidak akan pernah bisa meraih gelar juara jika hanya mengandalkan kemampuan individu pemain di lapangan saja.
Kemenangan besar sebuah tim merupakan buah kerja sama dari ekosistem yang kompeten, mulai dari manajer yang cerdas, pelatih yang jeli, hingga tim pendukung seperti penyedia nutrisi dan fisioterapi yang andal.
Prinsip kerja kolektif yang solid tersebut dinilai sangat relevan untuk diterapkan dalam mengelola sebuah negara kepulauan sebesar Indonesia.
Prabowo menggarisbawahi bahwa keberhasilan suatu organisasi atau kementerian jauh lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang menjalankan sistem tersebut, bukan semata-mata karena kecanggihan teknologi atau peralatan modern yang dimiliki.
Pola pikir yang berfokus pada kualitas manusianya (human-centered) ini menjadi pondasi utama jalannya birokrasi pemerintahan saat ini.
Menatap Masa Depan Bangsa Melalui Kekuatan Unsur Manusia di Balik Teknologi
Menutup pemaparannya, Presiden Prabowo melontarkan sebuah kalimat diplomatis berbahasa Inggris yang menegaskan kembali esensi dari sebuah kepemimpinan modern.
Beliau mengingatkan bahwa secanggih apa pun sistem atau alat utama sistem persenjataan yang dimiliki negara, semuanya akan berakhir sia-sia jika operator yang mengendalikannya tidak memiliki kapasitas yang mumpuni.
Hal ini menjadi pengingat penting bagi seluruh instansi agar terus memprioritaskan pengembangan kapasitas talenta internal secara berkelanjutan.
Langkah taktis kabinet yang bertabur profesor ini diharapkan mampu membawa dampak instan terhadap efisiensi kinerja birokrasi yang selama ini sering dinilai kaku.
Bagi generasi muda, kebijakan ini memberikan sinyal positif bahwa dunia akademis dan riset kini mendapatkan tempat terhormat di panggung politik praktis.
Kolaborasi apik antara ketegasan pemimpin dan kecerdasan para ilmuwan diharapkan mampu membawa Indonesia melompat lebih tinggi menuju gerbang kesejahteraan yang dicita-citakan.
Statement:
Presiden RI Prabowo Subianto
“Saya dari awal sangat sadar peran dan penting para ilmuwan, para guru besar. Dan karena itu, kalau saudara simak, hampir di setiap bidang pemerintahan yang kunci, saya ikut sertakan profesor-profesor dalam posisi-posisi yang sangat menentukan. It is not the technology, it is not the equipment, it is the man and the women behind the equipment. Ini yang kita sadari. Percuma kita punya pesawat yang paling canggih, pilotnya tidak handal.”
3 Poin Penting:
-
Dominasi Profesor di Kabinet: Presiden Prabowo Subianto secara sengaja menempatkan banyak ilmuwan dan profesor di posisi strategis kabinet untuk membantu mencari solusi ilmiah bagi persoalan bangsa.
-
Analogi Kepemimpinan: Keberhasilan pemerintah dianalogikan seperti nakhoda kapal dan tim sepak bola yang membutuhkan awak serta kru pendukung yang kompeten untuk mencapai target kemenangan.
-
Fokus pada Kualitas SDM: Presiden menegaskan bahwa kesuksesan sebuah organisasi ditentukan oleh kualitas manusia di balik sistem (the man behind the gun), bukan sekadar kecanggihan teknologi atau alat yang dimiliki.



