Search

Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah Bikin Hari Pertama Masuk Kelas Makin Seru

Selasa, 14 Juli 2026

Ilustrasi ayah Antar Anak sekolah (generate AI)

Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, ada pemandangan unik dan super positif yang terjadi di berbagai gerbang sekolah dari Sabang sampai Merauke.

Pemerintah pusat hingga daerah kompak menggalakkan sebuah program keren bernama Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS).

Kampanye ini sukses membalikkan stereotipe lama bahwa urusan domestik sekolah hanya urusan ibu, sekaligus mengajak para bapak untuk ambil peran aktif dalam momen krusial sang buah hati.

Fenomena sosial ini bukan sekadar imbauan lisan di media sosial belaka, melainkan didukung penuh oleh regulasi resmi dari jajaran menteri dan kepala daerah.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/BKKBN meluncurkan panduan khusus agar para aparatur sipil negara (ASN) pria mendapatkan kelonggaran waktu.

Alhasil, para ayah yang bekerja sebagai abdi negara diperbolehkan sedikit terlambat masuk kantor demi mendampingi anak mereka melangkah di hari pertama sekolah.

Regulasi Resmi Daerah dari Serambi Mekah hingga Tanah Banten

Kebijakan fleksibilitas waktu kerja ini langsung direspons cepat oleh berbagai pemerintah daerah dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) resmi.

Di Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya menerbitkan SE Bupati Nomor 395 Tahun 2026 yang mengizinkan para ayah berstatus ASN untuk fokus mengantar anak terlebih dahulu.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh menegaskan bahwa kehadiran figur ayah di gerbang sekolah pada hari pertama merupakan suntikan moral yang luar biasa besar bagi rasa percaya diri dan masa depan akademis anak.

Tak mau ketinggalan, Pemerintah Kota Tangerang, Banten, juga menerbitkan SE Nomor 15310 Tahun 2026 demi menyukseskan gerakan ini secara masif.

Regulasi ini merupakan kelanjutan dari program kementerian yang mencakup GAMAS serta Gerakan Ayah Mengambil Rapor ke Sekolah (GEMAR).

Melalui penyesuaian jam kedinasan ini, para bapak di Tangerang didorong memanfaatkan momen langka tersebut untuk berdialog langsung dengan wali kelas mengenai perkembangan akademis maupun potensi emosional anak.

Antusiasme Nyata di Lapangan dan Cerita Hangat dari Sudut Ibu Kota

Kehangatan program ini sangat terasa di kawasan Jakarta Timur, di mana para ayah tampak antusias mengantarkan anak mereka, salah satunya di SMP Tarakanita Rawamangun.

Warga Pisangan Baru bernama Rio Manik (33) rela bersiap sejak pukul 06.00 WIB demi menerjang kemacetan ibu kota dan memastikan anaknya tiba tepat waktu di jenjang sekolah yang baru.

Momen mengobrol santai di atas sepeda motor selama 20 menit perjalanan menjadi ruang komunikasi intens yang sangat berharga untuk memicu semangat belajar anak.

Gelombang dukungan serupa juga mengalir deras dari wilayah Jawa Tengah hingga pelosok Sulawesi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan SE khusus sebagai payung hukum pemberian dispensasi waktu kerja bagi ASN, yang dinilai sebagai bagian dari kesejahteraan keluarga pekerja.

Sementara itu di Sulawesi Selatan, Bupati Luwu Patahudding bahkan turun langsung mengantarkan anaknya ke sekolah seraya mengingatkan bahwa peran ayah sangat penting dalam memberikan rasa aman dan motivasi psikologis.

Dukungan Penuh Pemerintah Pusat Lewat Jam Kerja Fleksibel

Di tingkat nasional, Menteri PANRB Rini Widyantini memperkuat fondasi gerakan ini dengan menerbitkan surat imbauan Nomor B/257/M.KT.02/2026 kepada seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah.

Surat tersebut meminta para Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) memberikan kelonggaran jam kerja bagi ASN yang memiliki anak di jenjang PAUD, pendidikan dasar, hingga menengah.

Kebijakan ini merujuk pada regulasi induk Peraturan Menteri PANRB Nomor 4 Tahun 2025 yang mengatur tentang pelaksanaan tugas kedinasan pegawai secara fleksibel.

Pada akhirnya, GAMAS terbukti bukan sekadar program seremonial, melainkan sebuah gerakan kultural yang berhasil merekatkan kembali hubungan emosional dalam keluarga modern.

Keterlibatan aktif figur ayah dalam dunia pendidikan anak diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang lebih tangguh, mandiri, dan berkarakter kuat.

Kolaborasi yang apik antara ayah, ibu, dan pihak sekolah kini menjadi pilar baru dalam membangun ekosistem pendidikan yang jauh lebih sehat dan berkualitas di Indonesia.

Statement:

Murthalamuddin, Kepala Disdik Provinsi Aceh

“Kehadiran ayah di hari pertama sekolah adalah langkah kecil yang memberi semangat besar bagi masa depan anak. Gerakan mengantar anak ke sekolah tersebut menjadi momentum membangun hubungan emosional orang tua, anak, dan pihak sekolah, sekaligus menciptakan ruang kolaborasi, dan menyelaraskan pembinaan karakter anak antara di rumah dan di sekolah.”

Teuku Raja Keumangan, Bupati Nagan Raya

“Mengantar anak ke sekolah bukan hanya mengantarkan secara fisik, tetapi juga memberikan rasa aman, semangat, dan motivasi agar mereka siap mengikuti proses belajar.”

3 Poin Penting:

  • Sinergi Kebijakan GAMAS: Pemerintah pusat dan daerah menerbitkan Surat Edaran resmi untuk mendukung Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) demi membangun kedekatan emosional anak dan bapak.

  • Dispensasi Khusus ASN: Para ayah yang berstatus sebagai ASN mendapatkan kelonggaran atau fleksibilitas jam kerja pada hari pertama masuk sekolah tanpa mengganggu sistem pelayanan publik.

  • Dampak Positif Psikologis: Keterlibatan aktif figur ayah terbukti meningkatkan rasa percaya diri, memberikan rasa aman, serta memicu motivasi belajar yang tinggi bagi anak-anak di jenjang pendidikan baru.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan