Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, kembali mencatatkan inovasi teknologi memukau dengan menghabiskan dana riset sekitar 23 juta dolar AS atau setara Rp411 miliar.
Anggaran fantastis tersebut dialokasikan untuk mengembangkan dua unit toilet canggih yang sanggup mengolah air kencing para astronaut menjadi air minum yang layak konsumsi.
Sistem pemrosesan air mandiri ini dirancang guna mendukung keberlangsungan hidup para kru selama menjalankan misi jangka panjang di ruang hampa udara.
Pengembangan teknologi bernilai ratusan miliar rupiah tersebut mencakup pembuatan dua unit toilet khusus, yakni satu unit untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan satu unit lagi disiapkan untuk kapsul Orion pada misi Artemis II.
Sistem pemulihan air tertutup ini merupakan hasil penyempurnaan riset panjang NASA yang telah memakan waktu hampir empat dekade. Inovasi ini hadir sebagai solusi krusial dalam mengatasi keterbatasan pasokan air bersih di luar angkasa.
Spesifikasi Titanium UWMS dan Kenyamanan Astronaut Perempuan
Toilet canggih yang kini beroperasi secara penuh di stasiun ISS diberi nama Universal Waste Management System(UWMS).
Alat ini resmi mendarat di stasiun luar angkasa sejak tahun 2020 setelah diangkut menggunakan kapsul kargo Cygnus milik Northrop Grumman.
Dari segi spesifikasi, UWMS memiliki bobot relatif ringan sekitar 45 kilogram dan mayoritas komponen utamanya dibalut material titanium kokoh agar tahan terhadap sifat korosif urine serta bahan kimia asam.
Selain memiliki ketahanan material yang sangat tinggi, desain corong penampung urine pada unit UWMS ini juga mengalami perombakan ergonomis yang cukup signifikan.
Bentuk corong diklaim telah disesuaikan agar jauh lebih praktis dan nyaman digunakan oleh astronaut perempuan jika dibandingkan dengan desain toilet buatan Rusia generasi sebelumnya.
Kehadiran inovasi ini makin mempermudah higienitas seluruh anggota tim saat bertugas di orbit Bumi.
Tahapan Canggih Mengubah Air Kencing Menjadi Air Minum
Proses pengolahan air minum di luar angkasa membutuhkan mekanisme teknis yang sangat kompleks karena ketiadaan gaya gravitasi Bumi.
Sistem UWMS memanfaatkan daya hisap udara berkecepatan tinggi untuk menyedot urine langsung ke dalam Urine Processor Assembly.
Di dalam sistem tersebut, cairan dimasukkan ke dalam komponen centrifuge untuk menciptakan gravitasi buatan, lalu dipanaskan dalam kondisi vakum sebagian agar uap air terpisah pada suhu rendah.
Uap air yang telah terpisah kemudian dikondensasi dan disaring kembali secara ketat melalui Water Processor Assemblylewat beberapa tahap filtrasi, reaksi katalitik, hingga pemberian dosis iodin untuk membunuh mikroba.
Luar biasanya, gabungan dari urine, keringat, hingga uap air hasil pernapasan kru mampu diolah kembali hingga 98 persen menjadi air minum segar yang aman dikonsumsi. Sisa cairan pekat yang tak dapat diproses lebih lanjut dikenal sebagai brine.
Evaluasi Panjang Riset 40 Tahun hingga Misi Artemis II
Teknologi daur ulang air yang canggih ini tidak tercipta dalam sekejap, melainkan melalui sejarah riset panjang sejak era 1970-an.
Pada Stasiun Luar Angkasa Skylab tahun 1973, NASA belum memiliki sistem daur ulang sama sekali sehingga seluruh kebutuhan air harus dikirimkan dari Bumi.
Setelah melewati berbagai kegagalan purwarupa pada era 1980-an dan 1990-an, metode berbasis centrifuge akhirnya sukses dipasang secara bertahap di ISS hingga mencapai tingkat efisiensi daur ulang maksimal.
Kendati telah dirancang sangat matang, unit toilet versi kapsul Orion yang dibawa pada misi Artemis II sempat mengalami kendala teknis pada selang saluran urine hingga membuat kru menggunakan alat penampung darurat.
Pihak NASA tetap membela besarnya nilai anggaran pembangunan toilet ini karena metode lama seperti kantong penampung era Apollo sudah tidak relevan lagi untuk Misi Antariksa jangka panjang.
Statement:
Laporan Resmi NASA (Dikutip dari Space Daily)
“Desain corong penampung urine pada unit ini telah disesuaikan agar lebih mudah digunakan oleh astronaut perempuan, dibanding desain toilet Rusia sebelumnya. Dari total cairan yang masuk ke sistem ini, sekitar 98 persen berhasil diubah kembali menjadi air minum.”
Pihak Manajemen NASA (Penjelasan Anggaran Toilet Antariksa)
“Alternatif tanpa sistem daur ulang ini, seperti penggunaan kantong penampung sebagaimana era misi Apollo, bukan pilihan yang layak untuk misi jangka panjang.”
3 Poin Penting:
-
Investasi Toilet Antariksa Rp411 Miliar: NASA mengembangkan dua unit toilet canggih UWMS berteknologi tinggi seharga 23 juta dolar AS untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan kapsul Orion pada misi Artemis II.
-
Efisiensi Daur Ulang 98 Persen: Sistem UWMS mengolah urine, keringat, serta uap pernapasan astronaut melalui tahapan centrifuge, filtrasi, hingga reaksi katalitik untuk menghasilkan air minum layak konsumsi.
-
Penyempurnaan Riset 40 Tahun: Riset sistem daur ulang air ini telah dikembangkan sejak era 1970-an guna menggantikan metode pengiriman air konvensional demi keberlangsungan misi antariksa jangka panjang.



