Search

Gim Online Anak-Anak Roblox dan Rencana Pemblokiran yang Tuai Pro Kontra

Sabtu, 9 Agustus 2025

Ilustrasi anak bermain roblox (Shutterstock)

Pemerintah Indonesia melalui beberapa menteri dan pejabat tinggi berencana memblokir gim onlineRoblox. Wacana ini muncul karena gim tersebut dinilai mengandung banyak konten kekerasan dan kata-kata kasar, yang dikhawatirkan dapat memengaruhi perilaku anak.

Namun, rencana ini menuai perdebatan pro dan kontra, baik di kalangan pejabat, orang tua, maupun publik secara umum.

Alasan Pemblokiran dan Penolakan dari Berbagai Pihak

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, serta Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mendukung wacana pemblokiran ini dengan alasan melindungi generasi muda dari konten berbahaya.

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian, yang menolak pemblokiran dan berpendapat bahwa Roblox juga dapat mengasah kreativitas dan menjadi media interaksi anak.

Ada pula usulan dari Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, yang mengedepankan pembatasan usia ketat daripada pemblokiran total.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Orang Tua

Di kalangan orang tua, terdapat perbedaan pendapat. Aryani dan Fadly Rahman mendukung pemblokiran karena merasa anak-anak mereka kecanduan dan terpengaruh konten negatif. Fadly bahkan mengeklaim pernah melihat perilaku asusila di dalam gim.

Sebaliknya, komedian Sule dan sutradara Ernest Prakasa menemukan manfaat dari Roblox, seperti melatih kreativitas dan mengasah kemampuan berbahasa Inggris serta negosiasi. Mereka lebih memilih menerapkan aturan ketat dan pendampingan, bukan melarang total.

Pendekatan Solusi dari Pakar: Edukasi dan Pendampingan

Pakar pengasuhan dan psikolog anak, Damar Wahyu Wijayanti dan Roslina Verauli, sepakat bahwa pemblokiran bukanlah solusi jangka panjang yang efektif. Mereka menekankan pentingnya edukasi dan pendampingan aktif oleh orang tua.

Orang tua disarankan untuk memahami cara kerja Roblox, menggunakan fitur keamanan yang tersedia, serta menjalin komunikasi terbuka dengan anak. Menurut mereka, solusi terbaik adalah membekali anak dengan literasi digital agar mampu melindungi diri sendiri di dunia online yang kompleks.

Statement:

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti

  • “Banyak kekerasan di gim itu. Kadang anak tidak memahami yang mereka lihat itu kan tidak nyata. Yang terjadi, mereka meniru yang mereka lihat dan memicu kekerasan di kehidupan sehari-hari.”

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi

  • “Pemerintah mau melindungi generasi kita. Kalau memang itu mengandung unsur kekerasan, ya kita tutup.”

Fadly Rahman – Orang Tua

  • “Saya sudah sebulan melarang anak bermain Roblox. Sempat tantrum, dia marah-marah, tapi ya sudah, enggak apa. Sekarang dia masih sering bertanya boleh main sebentar saja, tapi saya dan istri tetap tidak memberinya.”

Ernest Prakasa –  Selebriti

  • “Snow belajar banyak keterampilan kehidupan melalui interaksinya dengan orang banyak: negosiasi, waspada penipuan, grinding objectives, dan hal lain yang menurut gue cenderung positif.”

Pakar pengasuhan, Damar Wahyu Wijayanti

  • “Jadi melarang atau menghukum tidak akan menjadi jalan keluar karena anak-anak bisa curi-curi nanti.”
  • “Anak-anak harus diberitahu alasan sebenarnya kenapa mereka dilarang atau kenapa mereka hanya bolehnya main jika bersama ayah-ibu, atau kenapa dibatasi. Ini bisa dijelaskan kalau orang tua sudah riset dulu.”

 Psikolog anak, Roslina Verauli

  • “Libatkan anak dalam proses menetapkan aturannya agar ia belajar bertanggung jawab. Ajak anak merefleksikan perasaannya setelah main game dan mengenali kapan waktunya berhenti, misalnya saat tubuh pegal, mata lelah, atau waktunya tidur.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan