Search
Search
Search

Darurat Karhutla Kalsel! Kabut Asap Pekat Ganggu Penerbangan Hingga Bikin Kualitas Udara Berbahaya

Kamis, 20 Agustus 2026

Karhutla Kalsel (Ditjen Cipta Karya)

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Selatan kian mengkhawatirkan di tengah terpaan cuaca ekstrem dan fenomena kekeringan.

Situasi kian pelik setelah serbuan kabut asap pekat memicu gangguan signifikan pada berbagai sektor vital publik, mulai dari jadwal penerbangan di bandara hingga kesehatan warga.

Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah kini bergerak cepat mengetatkan koordinasi guna memadamkan kobaran api yang kian meluas.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, secara tegas meminta seluruh jajaran Satgas Karhutla Kalsel untuk mengerahkan seluruh sumber daya secara masif.

Penanganan kebakaran lahan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi terpadu antara pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat.

Respons cepat langsung ditunjukkan dengan aksi pemadaman langsung di titik api kawasan Pengayuan, Banjarbaru.

Belasan Penerbangan Terdampak dan Saran Waktu Tiba di Bandara

Dampak karhutla di Kalsel dirasakan langsung oleh sektor transportasi udara di Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin.

Jarak pandang yang sangat terbatas akibat kepungan asap pekat memicu keterlambatan belasan jadwal penerbangan.

Tercatat ada empat penerbangan kedatangan dan delapan penerbangan keberangkatan yang sempat tertunda jadwal operasionalnya demi menjaga keselamatan penumpang.

General Manager Bandara Syamsudin Noor, Stephanus Millyas Wardana, mengonfirmasi bahwa seluruh penerbangan yang sempat tertunda saat ini telah berhasil lepas landas dengan selamat.

Guna mengantisipasi gangguan lanjutan, pihak pengelola bandara mengimbau para calon penumpang untuk hadir lebih awal, setidaknya tiga jam sebelum jadwal keberangkatan.

Pengguna jasa penerbangan juga diminta disiplin memakai masker demi menjaga kesehatan pernapasan.

Kesaksian Warga Soal Jarak Pandang Miring dan Sesak Nafas

Kondisi memprihatinkan juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang bermukim di sekitar titik kebakaran, salah satunya di kawasan Liang Anggang, Banjarbaru.

Menurut kesaksian warga setempat bernama Windy, kabut asap tebal bahkan sempat memangkas jarak pandang berkendara hingga tersisa kurang lebih tiga meter saja.

Ketebalan asap ini memicu kemacetan parah hingga memicu insiden kecelakaan lalu lintas di jalan raya.

Asap pekat tersebut juga masuk ke dalam rumah-rumah warga sehingga memicu rasa sesak pada dada dan iritasi mata. Meski warga sudah berupaya mengenakan masker, aroma sangit dan pekatnya udara kotor tetap terasa menyengat.

Petugas pemadam kebakaran gabungan bersama warga lokal terus berjuang di jalur darat, dibantu unit helikopter water bombing untuk memadamkan kobaran api di pinggir jalan.

Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya Menurut Data BMKG

Parahnya dampak karhutla ini diperkuat oleh rilis data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kondisi kualitas udara di Banjarbaru.

Konsentrasi partikulat halus (PM2.5) dilaporkan melonjak drastis hingga menyentuh angka 389,4 mikrogram per meter kubik.

Angka ini jauh melampaui ambang batas 250,5 mikrogram per meter kubik, yang mengategorikan kualitas udara berada pada level Berbahaya.

Atas kondisi udara yang sangat tidak sehat ini, BMKG mengimbau publik untuk membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak.

Penggunaan masker medis berspesifikasi tinggi sangat disarankan bagi masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah demi meminimalkan paparan partikel mikro bahaya.

Penanganan komprehensif terus dilakukan untuk menurunkan tingkat polusi udara di wilayah terdampak.

Komitmen Sinergi Lintas Sektor Demi Pengendalian Karhutla

Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fathimatuzzahra, menegaskan kesiapan jajarannya dalam memperkuat kolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).

Penanganan intensif di area hutan terus dilakukan secara terpadu agar kobaran api tidak makin merembet ke kawasan pemukiman padat penduduk serta fasilitas umum vital lainnya.

Langkah mitigasi bencana karhutla ini diharapkan mampu menekan angka kerusakan lingkungan serta memulihkan stabilitas mobilitas masyarakat Kalsel.

Sinergi ketat antara pemerintah pusat dan daerah menjadi fondasi utama agar darurat kabut asap ini dapat segera diatasi secara tuntas dan berkelanjutan.

Statement:

Hanif Faisol Nurofiq, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan

“Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, masyarakat, hingga unit usaha agar pengendalian berjalan terpadu.”

Fathimatuzzahra, Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan

“Keberhasilan pengendalian kebakaran hutan dan lahan sangat bergantung pada kekompakan pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat sehingga koordinasi bersama pemerintah pusat terus diperkuat untuk meminimalkan dampak kebakaran.”

3 Poin Penting:

  • Mobilisasi Masif Satgas Karhutla: Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq menginstruksikan penguatan sumber daya terpadu untuk menanggulangi karhutla di Kalsel yang makin meluas akibat kekeringan.

  • Gangguan Operasional Bandara: Kabut asap pekat sempat menunda 12 jadwal penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor serta memangkas jarak pandang jalan raya hingga 3 meter.

  • Kualitas Udara Kategori Berbahaya: BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru menyentuh 389,4 µg/m³, menembus level Berbahaya dan mengancam kesehatan pernapasan warga.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan