Search
Search
Search

Pasang Radar Pemantau Tsunami 150 Km, BMKG Pastikan Gelombang Laut Selat Sunda Masih Aman

Rabu, 9 September 2026

Radar Tsunami (NOAA)

Ancaman erupsi Gunung Anak Krakatau yang kembali menunjukkan lonjakan aktivitas vulkanik terus menyedot perhatian warga di kawasan pesisir Banten dan Lampung.

Menyikapi kekhawatiran publik terhadap potensi gelombang tinggi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa hingga pertengahan September 2026 ini, tidak terdeteksi adanya anomali kenaikan muka air laut yang mencurigakan di sepanjang perairan Selat Sunda.

Pengawasan ketat dilakukan secara intensif oleh BMKG guna mengantisipasi segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Langkah siaga penuh ini diambil mengingat rekam jejak geologis Gunung Anak Krakatau yang pernah memicu gelombang tsunami vulkanik hebat akibat runtuhan tubuh gunung (flank collapse) pada tahun 2018 silam.

Cara kerja radar tsunami (NOAA)

Pemasangan Radar Canggih Berjangkauan 150 Km dari Carita Hingga Tanjung Lesung

Sebagai benteng pertahanan informasi awal, BMKG telah mengoperasikan sistem radar berteknologi tinggi yakni High Frequency Radar yang diset khusus dalam mode pemantauan tsunami.

Perangkat radar maritim ini dipasang membentang di titik-titik krusial, mulai dari garis Pantai Carita hingga kawasan Tanjung Lesung, dengan jangkauan deteksi gelombang laut mencapai radius 150 kilometer dari bibir pantai.

Hadirnya teknologi radar mutakhir ini memungkinkan tim ahli geofisika memantau dinamika pergerakan air laut secara real-time dan sangat presisi.

Jika terjadi fenomena gelombang tak biasa di tengah laut akibat letusan maupun longsoran bawah laut, sistem radar ini bakal langsung mengirimkan sinyal bahaya secara cepat sebelum gelombang tersebut menyapu daratan.

Penyiapan 20 Sensor Tsunami Gauge dan Seismograf Terintegrasi

Tak cuma mengandalkan radar jarak jauh, BMKG juga menyiagakan jaringan pemantauan komprehensif di sepanjang perairan dan daratan terdampak.

Sebanyak 20 unit tsunami gauge pengukur pasang surut air laut serta lebih dari 20 sensor seismograf pendeteksi getaran bumi disebar di kawasan strategis untuk mengawal aktivitas Gunung Anak Krakatau secara nonstop selama 24 jam penuh.

Integrasi puluhan instrumen pemantau ini bertujuan untuk meminimalkan risiko keterlambatan peringatan dini (early warning system).

Setiap getaran seismik yang terdeteksi di perut gunung akan langsung disandingkan dengan indikator elevasi muka air laut, sehingga potensi ancaman tsunami vulkanik dapat dikalkulasi secara ilmiah dan akurat.

Imbauan BMKG Agar Masyarakat Tetap Tenang dan Tidak Termakan Hoaks

BMKG mengimbau seluruh masyarakat yang bermukim di pesisir Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan dapat menjalankan aktivitas harian secara wajar namun tetap waspada.

Warga diminta untuk tidak mudah membagikan atau memercayai kabar burung dan narasi hoaks yang tidak jelas sumbernya terkait isu darurat tsunami yang kerap beredar di platform media sosial.

Pemerintah menjamin bahwa seluruh kanal komunikasi resmi BMKG, PVMBG, serta BNPB disiagakan penuh untuk menyampaikan informasi terkini secara transparan.

Kesiapsiagaan sistem mitigasi bencana yang telah dibangun diharapkan mampu menjaga keselamatan warga pesisir sekaligus memberikan rasa aman di tengah dinamika aktivitas geologis Gunung Anak Krakatau.

Statement:

Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, S.T., M.T., Ph.D., Kepala BMKG

“Hingga saat ini belum ada anomali kenaikan muka air laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Kami telah menyiagakan 20 tsunami gauge dan lebih dari 20 sensor seismograf untuk terus memantau aktivitas Anak Krakatau serta potensi longsoran atau flank collapse.”

“Selain itu, High Frequency Radar dari Pantai Carita hingga Tanjung Lesung diatur dalam mode tsunami untuk mendeteksi gelombang hingga jarak 150 kilometer sebagai bagian dari kesiapsiagaan di Selat Sunda.”

3 Poin Penting:

  • Kondisi Muka Air Laut Normal: BMKG memastikan hingga saat ini tidak ditemukan anomali kenaikan muka air laut atau ancaman tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

  • Pemasangan High Frequency Radar: BMKG mengoperasikan High Frequency Radar bermode tsunami dari Pantai Carita hingga Tanjung Lesung dengan jarak jangkauan deteksi mencapai 150 km.

  • Instrumen Pemantau Terintegrasi: Sebanyak 20 unit tsunami gauge dan lebih dari 20 sensor seismograf terus disiagakan secara intensif untuk mengantisipasi potensi flank collapse di Selat Sunda.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan