Search
Search
Search

Batal Bikin Pabrik Sendiri di Malaysia, BYD Pilih Uji Strategi Gandeng Partner Lokal

Minggu, 13 September 2026

BYD Malaysia (BYD)

Persaingan pasar kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara mendadak memanas setelah raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, membuat keputusan strategis yang mengejutkan.

Rencana pembangunan pabrik perakitan mandiri di Tanjung Malim, Perak, Malaysia, dipastikan resmi dibatalkan demi beralih ke skema perakitan lokal bersama mitra setempat.

Keputusan drastis ini mengundang perhatian besar bagi para pemerhati industri otomotif dan pengguna electric vehicle(EV) regional.

BYD menegaskan bahwa ekspansi mereka di Negeri Jiran tidak surut sama sekali, melainkan hanya beradaptasi melalui jalur kerja sama yang jauh lebih efisien.

Pembatalan Proyek Tanjung Malim dan Penjajakan Mitra Lokal

Pihak manajemen BYD mengonfirmasi secara langsung bahwasanya pendirian fasilitas manufaktur secara mandiri di Tanjung Malim tidak lagi dilanjutkan.

Konfirmasi ini disampaikan oleh Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma, dalam sesi taklimat media pada Kamis (10/9/2026) malam waktu setempat.

Sebagai gantinya, BYD memilih untuk menjajaki kerja sama perakitan lokal bersama mitra bisnis di Malaysia yang sudah memiliki kapabilitas memadai.

Langkah perakitan lokal ini dinilai lebih fleksibel untuk merespons pasar sekaligus mempercepat proses perakitan kendaraan di dalam negeri.

Aturan Impor CBU Ketat dan Urgennya Rakit Lokal

Perubahan strategi BYD ini tidak terlepas dari berlakunya regulasi baru pemerintah Malaysia per 1 Juli lalu terkait impor utuh atau completely built up (CBU).

Kebijakan tersebut menetapkan nilai cost, insurance, and freight (CIF) minimal 200.000 ringgit atau sekitar Rp865,8 juta untuk EV impor.

Mengingat sebagian besar model terlaris BYD dipasarkan di bawah ambang batas harga regulasi tersebut, pemenuhan proses perakitan lokal menjadi agenda yang sangat mendesak.

Tanpa fasilitas perakitan dalam negeri, penetrasi harga kompetitif BYD di pasar Malaysia bakal terhambat oleh beban pajak impor.

Negosiasi Tahap Akhir dan Isu Ganjalan Ketentuan Ekspor

Jacob Ma membeberkan bahwa proses diskusi bersama calon mitra lokal sudah memasuki tahap yang sangat maju dan tinggal menuntaskan aspek legalitas dokumen.

Meski sempat beredar rumor kerja sama dengan Sime Motors melalui pabrik Inokom di Kedah, nama mitra resmi masih dirahasiakan hingga pengumuman final.

Sebelumnya, proyek pabrik mandiri BYD di Tanjung Malim sempat diterpa isu negosiasi yang alot dengan pihak Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia.

Salah satu poin ganjalan utama yang dilaporkan media setempat adalah syarat ekspor hingga 80% bagi unit hasil rakitan lokal.

Beda Nasib Malaysia dan Indonesia hingga Penjualan EV yang Tetap Merekor

Beda cerita dengan Malaysia, komitmen investasi BYD di Indonesia justru telah terealisasi lebih cepat lewat pembangunan pabrik mandiri.

Fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat, sudah resmi beroperasi sejak awal September 2026 dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun.

Kendati skema investasi di Malaysia berubah jalur, performa penjualan BYD di Negeri Jiran tetap mengukuhkan posisinya sebagai raja pasar EV.

Dengan total penjualan melampaui 35.000 unit sejak 2022 serta tambahan lebih dari 7.000 unit di semester I 2026, Malaysia tetap menjadi pasar strategis bagi BYD.

Statement:

Jacob Ma, Managing Director BYD Malaysia

“Untuk meluruskan, fasilitas Tanjung Malim tidak akan dilanjutkan. Diskusinya sudah berada pada tahap yang sangat lanjut, dan kami tengah menuntaskan dokumen-dokumen yang diperlukan. Kami akan membuat pengumuman resmi begitu semuanya siap.”

“Lokasi dan pengaturannya mungkin berubah, tapi niat kami tetap sama. Kami terus melihat Malaysia sebagai pasar penting dan bagian strategis dari pertumbuhan BYD ke depan.”

3 Poin Penting:

  • Batal Pabrik Mandiri: BYD resmi membatalkan proyek pembangunan pabrik perakitan mandiri di Tanjung Malim, Perak, dan beralih ke skema kerja sama perakitan bersama mitra lokal Malaysia.

  • Terdesak Regulasi Impor CBU: Perubahan strategi dipicu oleh regulasi ketat impor CBU Malaysia serta berakhirnya insentif pajak EV impor, sehingga merakit secara lokal menjadi langkah wajib demi menjaga efisiensi harga.

  • Penjualan dan Perbandingan RI: Meski skema investasi berubah, BYD tetap menjadi merek EV terlaris di Malaysia. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang telah sukses mengoperasikan pabrik mandiri BYD di Subang berkapasitas 150.000 unit per tahun.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan