Search
Search
Search

Nikmati Wisata Wellness di Perbukitan Dlingo! Litto Jogja Tembus Top 25 WISH 2026

Selasa, 15 September 2026

Perbukitan Dlingo (ist)

Di tengah riuhnya rutinitas dan ritme hidup yang makin cepat, gaya hidup untuk berhenti sejenak demi memulihkan energi makin digandrungi anak muda dan masyarakat modern.

Menjawab kebutuhan slow living tersebut, Litto Jogja hadir menawarkan pengalaman retreat unik di kawasan perbukitan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kawasan ini tak sekadar menjadi tempat bermalam biasa, melainkan memadukan unsur hospitality, wellness, gastronomi, hingga eco-learning yang menyatu dengan alam serta kearifan lokal.

Konsep ciamik tersebut sukses mengantarkan Litto Jogja masuk dalam jajaran Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026 setelah menyisihkan 570 pelaku usaha pariwisata dari berbagai pelosok Indonesia.

Harmoni Satoyama Jepang Berjiwa Lokal Yogyakarta

Salah satu pilar utama yang memperkuat fondasi keunikan Litto Jogja adalah penerapan konsep satoyama.

Pendekatan asal Negeri Sakura ini menempatkan hubungan harmonis antara manusia, alam, pangan, dan komunitas dalam sebuah ekosistem yang saling menjaga.

Kerennya, satoyama di Litto Jogja tidak hanya diterjemahkan sebagai dekorasi visual bernuansa Jepang semata.

Nilai filosofis tersebut dipadukan secara pas dengan karakter lokal Yogyakarta dan kehidupan warga Dlingo melalui aktivitas kebun pangan serta pengalaman garden-to-table.

Solusi Wellness Membumi Tanpa Jarak dengan Alam

Mengusung tema wellness, tempat ini berfokus pada aktivitas pemulihan kesadaran dan ketenangan fisik maupun mental.

Pengunjung diajak meredakan stres melalui berbagai program berbasis alam, seperti mindful walking, forest bathing, hingga sesi refleksi diri di tengah rimbunnya perbukitan.

Rangkaian kegiatan ini kemudian dikemas secara apik ke dalam berbagai program edukatif.

Mulai dari corporate retreat, executive wellness retreat, eco-learning day untuk pelajar, hingga professional learning escape bisa dinikmati untuk mengisi ulang energi tubuh.

Pengalaman Gastronomi Menggugah Selera dari Kebun ke Meja Makan

Sisi gastronomi di Litto Jogja menjadi daya tarik tersendiri yang wajib dicoba.

Melalui pendekatan garden-to-table, para pelancong diajak mengenal perjalanan bahan pangan sebelum disajikan hangat di atas meja makan.

Kebun serta sumber pangan lokal tak cuma berfungsi sebagai lanskap pemandangan indah, tetapi juga media edukasi untuk memahami asal-usul makanan.

Cara ini secara otomatis membuka ruang kolaborasi ekonomi yang luas bersama masyarakat sekitar kawasan Dlingo.

Belajar Menjaga Ekosistem Lewat Program Eco-Learning

Litto Jogja juga merancang program eco-learning interaktif yang ramah bagi berbagai kalangan, mulai dari sekolah, komunitas, hingga rombongan perusahaan.

Materi edukasi mencakup pengenalan keanekaragaman tanaman, hewan, hingga pentingnya merawat keseimbangan lingkungan.

Dengan begitu, agenda liburan berubah menjadi momen bermakna karena pengunjung pulang membawa pengetahuan baru.

Ke depan, pengelola terus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai instansi dan operator travel untuk memperluas jangkauan pembalajaran lingkungan ini.

Langkah Komitmen Menuju Wisata Berkelanjutan

Keberhasilan menembus Top 25 WISH 2026 menjadi batu loncatan penting bagi Litto Jogja untuk naik kelas.

Ke depan, pengelola akan mengikuti pendampingan intensif one-on-one, penguatan model bisnis, dan presentasi Demo Day guna meningkatkan standar operasional.

Meski terus berkembang, arah pertumbuhan kawasan ini dipastikan tetap berpijak pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Perbukitan Dlingo pun kini siap menjadi destinasi utama bagi siapa saja yang ingin mencari kedamaian.

Pertumbuhan Berbasis Dampak Nyata Bagi Masyarakat

Inisiatif pengembangan ini membuktikan bahwa bisnis pariwisata modern dapat berjalan seiring dengan perlindungan alam.

Litto Jogja membuktikan komitmennya untuk tumbuh bukan sekadar memperluas ekspansi fisik, melainkan memperbesar manfaat sosial bagi warga sekitar.

Destinasi ini memberikan alternatif segar bagi wisatawan yang ingin menikmati momen liburan lebih bermakna. Langkah berani ini diharapkan memicu lebih banyak pelaku wisata lokal untuk menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan.

Statement:

Irma Devita, Founder Litto Jogja

“Masuk Top 25 WISH 2026 bukanlah garis akhir. Bagi kami, ini merupakan validasi sekaligus tanggung jawab untuk membangun Litto dengan konsep yang semakin matang, pelayanan yang semakin baik, dan dampak yang semakin nyata bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.”

“Satoyama bagi Litto bukan sekadar nuansa Jepang. Nilai utamanya terletak pada bagaimana manusia membangun kembali hubungan yang sehat dengan alam, makanan, komunitas, dan dirinya sendiri. Kerangka tersebut kami hadirkan dengan jiwa lokal Jogja.”

3 Poin Penting:

  • Top 25 WISH 2026: Litto Jogja terpilih masuk jajaran Top 25 Wonderful Indonesia Scale-Up Hub (WISH) 2026 dari total 570 peserta pelaku usaha pariwisata se-Indonesia.

  • Perpaduan Satoyama & Jiwa Lokal: Memadukan konsep keseimbangan satoyama asal Jepang dengan kearifan lokal perbukitan Dlingo melalui aktivitas alam dan garden-to-table.

  • Wisata Wellness & Eco-Learning: Menyajikan pengalaman pemulihan diri seperti mindful walking dan forest bathing, serta program edukasi lingkungan untuk sekolah hingga perusahaan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan