Hasil asesmen internasional Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 resmi dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Laporan ini memperlihatkan jurang kesenjangan kemampuan matematika siswa usia 15 tahun di kawasan Asia Tenggara yang terbilang cukup lebar.
Singapura tampil melesat dan mendominasi di posisi puncak, sementara kemampuan matematika pelajar Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk bisa bersaing secara global.
Berdasarkan data resmi OECD, siswa di Singapura berhasil mencatatkan skor matematika rata-rata mencapai 563 poin, yang merupakan salah satu capaian tertinggi di dunia.
Angka fantastis ini tidak hanya menempatkan Negeri Singa di atas negara-negara tetangga, tetapi juga sukses melampaui rata-rata negara anggota OECD yang berada di angka 463 poin.
Posisi Negara Tetangga dan Capaian Indonesia di PISA 2025
Mengekor di posisi kedua kawasan Asia Tenggara, Vietnam berhasil membukukan skor matematika sebesar 443 poin, yang kemudian disusul oleh Brunei Darussalam dengan 435 poin.
Sementara itu, Thailand berada di peringkat berikutnya dengan capaian 407 poin, diikuti oleh Malaysia yang mengantongi skor 397 poin, serta Filipina yang mencatatkan lonjakan performa hingga mencapai 371 poin.
Di sisi lain, skor matematika Indonesia dalam PISA 2025 tercatat sebesar 364 poin, yang menempatkan Indonesia berada di posisi kedelapan dari delapan negara Asia Tenggara yang diukur.
Capaian ini menunjukkan penurunan tipis sebesar 2 poin jika dibandingkan dengan hasil PISA 2022 yang berada di angka 366 poin, meski pihak OECD menilai perubahan skor tersebut tidak signifikan secara statistik.
Tantangan Literasi Matematika Dasar dan Kategori Berprestasi
Capaian skor Indonesia ini menyingkap fakta bahwa selisih kemampuan matematika siswa tanah air masih terpaut 99 poin dari rerata standar OECD.
Pihak OECD mencatat baru sekitar 17 persen siswa Indonesia yang sanggup mencapai standar kemampuan minimal atau Level 2.
Sebagai pembanding, rerata siswa di negara-negara anggota OECD yang mencapai level dasar tersebut sudah menyentuh angka 65 persen.
Pada indikator Level 2, siswa idealnya sudah mampu mengenali dan memecahkan representasi matematis sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengonversi harga atau membandingkan rute perjalanan.
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa hampir belum ada siswa Indonesia yang mampu menembus kategori berprestasi tinggi di Level 5 dan Level 6, yang di negara-negara maju reratanya sudah mencapai 8 persen.
Kontras Dominasi Singapura dan Dinamika Regional Asia Tenggara
Dominasi Singapura di panggung pendidikan internasional terbilang sangat solid dan sulit tertandingi oleh negara tetangga. Sebanyak 89 persen siswa di Singapura tercatat telah menguasai setidaknya Level 2 kemampuan matematika.
Bahkan, jarak atau selisih skor matematika antara Singapura dan Vietnam di posisi kedua mencapai 120 poin, sedangkan jarak dengan Indonesia membentang jauh hingga 199 poin.
Dinamika berbeda justru ditunjukkan oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya pada PISA 2025 kali ini. Thailand berhasil mengukir tren positif dengan kenaikan 13 poin dari periode sebelumnya, dan Filipina melesat dengan kenaikan 16 poin.
Sebaliknya, Malaysia harus rela mengalami penurunan skor sebesar 11 poin bila dibandingkan dengan hasil tes pada tahun 2022 lalu.
Mengenal Asesmen PISA sebagai Alat Ukur Keterampilan Riil
PISA sendiri merupakan studi dan asesmen internasional berkala besutan OECD yang dirancang khusus untuk menguji pengetahuan serta keterampilan siswa berusia 15 tahun.
Penilaian ini tidak sekadar menguji hafalan rumus pelajaran di sekolah, melainkan mengukur sejauh mana pelajar mampu mempraktikkan penalaran dan pengetahuan mereka guna menyelesaikan persoalan nyata di kehidupan sehari-hari.
Pada gelaran PISA 2025, tercatat lebih dari 760.000 siswa dari 91 negara dan entitas ekonomi turut berpartisipasi, menjadikannya asesmen dengan jumlah peserta terbesar sepanjang sejarah.
Meski fokus utama studi 2025 tertuju pada bidang sains, penilaian pada bidang matematika dan membaca tetap menjadi pilar utama untuk mengukur kualitas pendidikan suatu bangsa secara obyektif.
Statement:
Laporan Resmi OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)
“PISA tidak semata-mata mengukur kemampuan siswa mengerjakan soal pelajaran di sekolah. Tes ini menilai sejauh mana siswa dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk menghadapi persoalan dalam kehidupan nyata.”
Pernyataan Kementerian Pendidikan Brunei Darussalam (Dikutip dari Laporan PISA 2025)
“Kementerian Pendidikan Brunei menyebut negaranya masuk dalam tiga besar Asia Tenggara untuk matematika dan sains pada PISA 2025.”
3 Poin Penting:
-
Singapura Memimpin Asia Tenggara: Singapura mencatatkan skor matematika tertinggi sebesar 563 poin dalam PISA 2025, jauh melampaui rata-rata negara OECD sebesar 463 poin.
-
Skor Matematika Indonesia: Indonesia memperoleh skor 364 poin (turun 2 poin dari PISA 2022) dan berada di peringkat kedelapan di Asia Tenggara, dengan baru 17 persen siswa yang mencapai standar Level 2.
-
Peningkatan di Negara Tetangga: Filipina dan Thailand mencatatkan peningkatan skor matematika yang signifikan, masing-masing naik 16 poin dan 13 poin dibanding edisi PISA sebelumnya.



