Tren kendaraan ramah lingkungan di tanah air makin menunjukkan dinamika yang menarik untuk diikuti.
Produsen elektronik sekaligus kendaraan listrik nasional, Polytron, baru-baru ini memberikan tanggapannya terkait dorongan pemerintah agar Motor Listrik Nasional (Molinas) memanfaatkan baterai berbasis nikel atau Nickel Manganese Cobalt (NMC) buatan dalam negeri.
Langkah ini menjadi sorotan hangat di kalangan pecinta otomotif dan pegiat teknologi bersih.
Head of Group Product EV 2W Polytron, Ilman Fachrian Fadly, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini masih mantap memilih teknologi baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) untuk seluruh lini produk motor listriknya.
Keputusan krusial ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari riset komprehensif serta kajian mendalam terhadap berbagai varian teknologi baterai yang ada di pasar global sebelum resmi meluncurkan kendaraan ke publik.
Riset Panjang Sebelum Peluncuran dan Pertimbangan Utama
Sebelum melangkah ke proses manufaktur massal, tim riset Polytron telah mempelajari karakteristik berbagai jenis penyimpanan daya yang umum digunakan secara global, termasuk LFP dan nikel.
Dari hasil evaluasi internal yang dilakukan, Polytron menilai bahwa teknologi baterai LFP menawarkan tingkat keamanan (safety) yang jauh lebih ideal untuk penggunaan harian jika dibandingkan dengan tipe baterai NMC pada kondisi saat ini.
Keandalan serta faktor keamanan yang tinggi pada baterai LFP menjadi prioritas utama produsen lokal ini dalam memberikan rasa aman bagi pengguna motor listrik di Indonesia.
Meskipun demikian, pemilihan LFP untuk saat ini tidak lantas membuat Polytron menutup mata terhadap inovasi teknologi berbasis nikel yang terus dikembangkan oleh para ilmuwan di industri kendaran listrik.
Dinamika Teknologi Baterai dan Keterbukaan Pada Inovasi
Ilman menegaskan bahwa perkembangan teknologi otomotif bersifat sangat dinamis dan terus bergerak mencari formula terbaik. Polytron dipastikan bakal terus memantau tren serta evolusi teknologi baterai nikel secara berkala.
Jika di masa mendatang riset menunjukkan bahwa baterai NMC sudah dapat diadaptasi dengan tepat, efisien, serta memenuhi standar keamanan maksimal, peluang penggunaan baterai berbasis nikel tentu akan dipertimbangkan kembali.
Sikap fleksibel ini menunjukkan bahwa Polytron sangat mengedepankan kualitas produk serta keselamatan konsumen di atas segalanya.
Sambil memantau pematangan teknologi NMC di pasar, ekosistem motor listrik berbasis LFP yang mereka hadirkan tetap berjalan optimal untuk memenuhi kebutuhan mobilitas harian masyarakat perkotaan.
Hilirisasi Nikel Nasional dan Target TKDN Pemerintah
Di sisi berseberangan, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian terus mendorong optimalisasi penggunaan baterai nikel hasil produksi lokal untuk menyukseskan program Molinas.
Langkah strategis ini dirancang guna mendukung agenda besar hilirisasi nikel nasional sekaligus menggenjot persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada industri otomotif tanah air.
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian, Atong Soekirman, mengakui bahwa mayoritas kendaraan listrik dunia saat ini memang masih mengandalkan baterai LFP.
Namun, Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar dari sisi pasokan bahan baku nikel, sehingga pemanfaatannya perlu didorong agar rantai pasok dari hulu hingga hilir dapat terhubung secara berkelanjutan.
Menyeimbangkan Potensi Lokal dan Kebutuhan Industri EV
Dorongan pengintegrasian baterai nikel lokal pada program Molinas diharapkan mampu menciptakan ekosistem industri kendaran listrik yang mandiri dari rantai bahan baku, manufaktur sel baterai, hingga perakitan unit kendaraan.
Sinergi antara kebijakan hilirisasi pemerintah dan kebutuhan teknis para produsen motor listrik menjadi kunci utama dalam memajukan industri EV nasional.
Pada akhirnya, dialog terbuka antara pembuat kebijakan dan pelaku industri seperti Polytron menjadi langkah penting untuk menyelaraskan idealisme hilirisasi dengan realitas teknis di lapangan.
Anak muda Indonesia tentu berharap dinamika ini mampu melahirkan inovasi motor listrik lokal yang tak hanya tangguh dan terjangkau, tetapi juga aman serta memanfaatkan kekayaan sumber daya alam negeri sendiri.
Statement:
Ilman Fachrian Fadly, Head of Group Product EV 2W Polytron
“Kami lihat perkembangannya, karena saat ini kami pilih LFP sudah dari banyak penelitian. Sebelum launching di awal itu, kami pelajari dulu jenis baterai ada apa saja di dunia. Salah satunya LFP dan nikel…”
“Sampai saat ini NMC atau nikel, menurut kami LFP masih lebih aman daripada NMC. Karena faktor itu, kami memilih LFP… Kalau misalnya sudah bisa kami adopsi dengan benar, dengan tepat, dengan aman, itu pasti akan kami pertimbangkan.”
3 Poin Penting:
-
Alasan Pilihan Baterai Polytron: Polytron masih memilih menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) ketimbang Nickel Manganese Cobalt (NMC) pada motor listriknya karena pertimbangan faktor keamanan yang lebih sesuai.
-
Keterbukaan Terhadap Inovasi: Polytron tidak menutup kemungkinan untuk beralih atau menggunakan baterai nikel di masa depan jika teknologinya sudah terbukti aman dan tepat untuk diadopsi.
-
Dorongan Hilirisasi Pemerintah: Kemenko Perekonomian mendorong penggunaan baterai nikel lokal untuk program Motor Listrik Nasional (Molinas) demi mengoptimalkan agenda hilirisasi nikel serta meningkatkan nilai TKDN.
![sengketa merk denza byd [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/denza-d9-2026-3Vvvp-300x169.webp)


