Search
Search
Search

Ekspor Minyak Teluk Mulai Ngebut, Tapi Harga Brent Masih di Atas 100 Dolar

Kamis, 1 Oktober 2026

minyak dunia [dok. web]
minyak dunia [dok. web]

Arus minyak dari negara-negara Teluk mulai kembali deras meski ketegangan di sekitar Selat Hormuz belum sepenuhnya reda.

Data Kpler menunjukkan pengiriman minyak mentah dan produk olahan dari negara-negara Arab mencapai rata-rata sekitar 17 juta barel per hari (bpd) sepanjang September.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Februari dan mulai mendekati level sebelum konflik yang berada di kisaran 21 juta bpd.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sebagian jalur ekspor energi di kawasan Teluk mulai beradaptasi dengan situasi keamanan yang belum stabil.

Pengiriman dilakukan melalui Selat Hormuz maupun jalur pipa yang dapat menghindari selat tersebut.

Namun, pemulihan itu belum sepenuhnya mengembalikan pasokan ke level normal, sementara ekspor minyak Iran dilaporkan hanya sekitar 200.000 bpd atau kurang dari sepersepuluh dibandingkan sebelum konflik.

Ekspor Naik, Harga Minyak Belum Ikut Turun

Menariknya, meningkatnya ekspor negara-negara Teluk belum otomatis membuat harga minyak kembali normal. Harga minyak mentah Brent masih berada di atas USD100 per barel dan sekitar 43% lebih tinggi dibandingkan Juni.

Situasi ini menunjukkan bahwa pasar masih memasukkan premi risiko akibat ketatnya pasokan serta ancaman gangguan perdagangan energi.

Arab Saudi menjadi salah satu penggerak pemulihan pasokan. Saudi Aramco dilaporkan telah menjual lebih dari 90 juta barel dalam dua putaran dan kembali menawarkan kargo kepada penyuling China.

Sebagian minyak Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dikirim melalui Selat Hormuz dengan pengawalan kapal negara Amerika Serikat, kemudian dipindahkan ke kapal lain di kawasan Teluk Oman.

Skema tersebut membantu menjaga arus pasokan, tetapi membutuhkan biaya dan logistik yang tidak sederhana.

China Kembali Berburu Minyak Mentah

Tekanan pasar juga datang dari China. Setelah memangkas pembelian minyak mentah hampir 40 persen selama musim panas, permintaan dari Negeri Tirai Bambu kembali meningkat ketika persediaan avtur, diesel, dan bensin domestik mulai menurun.

Kilang-kilang China kemudian meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus memanfaatkan peluang ekspor produk bahan bakar.

China juga harus mencari sumber alternatif untuk menggantikan sebagian pasokan minyak dari Iran. Akibatnya, pembeli China menjadi lebih aktif di pasar terbuka dan harus bersaing dengan pembeli dari negara lain.

Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dengan karakteristik yang mirip dengan produksi Iran, sementara kontrak berjangka Dubai dilaporkan berada di sekitar US$116 per barel.

Pasokan Fisik Jadi Titik Panas Baru

Persaingan mendapatkan minyak juga terasa di pasar Eropa. Dated Brent, yang mencerminkan harga minyak Brent untuk pengiriman fisik dalam waktu dekat, dilaporkan mencapai sekitar USD124 per barel, jauh di atas harga kontrak Brent berjangka.

Selisih yang lebih lebar dari kondisi normal ini menjadi indikasi bahwa ketersediaan minyak fisik untuk kebutuhan jangka pendek sedang ketat.

Tekanan tersebut kemudian merembet ke pasar produk olahan, terutama diesel. Terbatasnya pasokan dari kawasan Teluk dan pembatasan ekspor Rusia telah mendorong harga diesel grosir mendekati USD200 di sejumlah pasar utama.

Di Amerika Serikat, harga bensin juga dilaporkan mendekati US$6,50 per galon, sementara wacana pembatasan ekspor diesel AS berpotensi menambah tekanan terhadap pasar global.

Selat Hormuz Masih Jadi Kartu Risiko

Meski ekspor kembali meningkat, pemulihan tersebut tidak berarti Selat Hormuz sudah sepenuhnya aman.

Laporan mengenai kemungkinan pemasangan atau persiapan ranjau oleh Iran masih belum terverifikasi, sedangkan pemantauan Windward mendeteksi puluhan kapal cepat di lepas pantai Oman pada 26 September.

Infrastruktur energi seperti pipa East-West dan pelabuhan Saudi serta jalur Bab al-Mandab juga masih menghadapi potensi gangguan.

3 Poin Penting:

  • Ekspor minyak negara-negara Arab mencapai sekitar 17 juta bpd pada September, tertinggi sejak Februari, tetapi masih sekitar 4 juta bpd di bawah level sebelum konflik.
  • Harga minyak belum kembali normal, dengan Brent masih di atas US$100 per barel dan pasar fisik menghadapi persaingan pasokan yang semakin ketat.
  • Selat Hormuz tetap menjadi sumber risiko utama, sementara peningkatan permintaan China dan potensi gangguan ekspor produk bahan bakar ikut menjaga tekanan di pasar energi global.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan