Unggahan Facebook yang menyebut seorang profesor di Singapura bernama Li Jie mengaku tidak pernah melihat Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersekolah di negara tersebut ramai diperbincangkan.
Narasi itu beredar melalui sejumlah akun media sosial sejak awal Oktober 2026, lengkap dengan foto seorang pria yang diklaim sebagai profesor dan tulisan yang seolah-olah menggambarkan percakapannya dengan Gibran.
Namun, klaim yang terlihat meyakinkan di media sosial belum tentu didukung bukti yang valid.
Salah satu unggahan yang disebarkan akun Facebook Sugeng Isdiyanto pada 4 Oktober 2026 memuat pernyataan yang diklaim berasal dari profesor tersebut: “Saya 20 tahunan mengajar di semua sekolah Singapura belom pernah lihat siswa bernama Gibran.”
Unggahan itu juga menyertakan narasi bernada sindiran mengenai keberadaan Gibran di perpustakaan. Sampai 13 Oktober 2026, unggahan tersebut tercatat memperoleh 311 tanda suka, 175 komentar, dan 28 kali dibagikan.
Angka interaksi ini menunjukkan bagaimana sebuah klaim dapat menjangkau banyak orang, meskipun kebenarannya belum tentu teruji.

Penelusuran Fakta Tidak Menemukan Identitas yang Terverifikasi
Berdasarkan penelusuran Tim Riset Tirto, pencarian gambar terbalik melalui Google tidak menemukan pemberitaan media kredibel yang membenarkan pernyataan tersebut.
Penelusuran terhadap laman akademik Singapore Management University (SMU) dan National University of Singapore (NUS) juga tidak menemukan pengajar tetap bernama Prof. Li Jie yang dapat dikaitkan dengan klaim dalam unggahan.
Selain itu, unggahan tidak menjelaskan secara spesifik kampus tempat sosok yang dimaksud mengajar.
Meski demikian, tidak ditemukannya nama tersebut di dua kampus bukan berarti dapat dipastikan bahwa tidak ada akademisi bernama Li Jie di seluruh Singapura.
Temuan itu hanya menunjukkan bahwa identitas profesor dalam unggahan dan atribusi pernyataannya belum terverifikasi.
Sejumlah akademisi bernama Li Jie memang ditemukan di institusi pendidikan di Tiongkok, tetapi tidak ada bukti yang menghubungkan mereka dengan foto atau klaim mengenai Gibran.
Karena itu, publik sebaiknya tidak buru-buru menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan nama dan foto yang beredar.
Foto Profesor Terindikasi Dihasilkan oleh Kecerdasan Buatan
Keanehan lain ditemukan pada gambar yang menyertai klaim tersebut. Tirto mengamati tekstur kulit, pakaian, dan pencahayaan latar belakang yang terlihat terlalu mulus serta memiliki distorsi yang tidak wajar.
Untuk memeriksa indikasi manipulasi, Tirto menggunakan alat pendeteksi konten AI dari Hive Moderation. Hasilnya menunjukkan bahwa gambar tersebut terindikasi sebagai gambar hasil generasi kecerdasan buatan dengan probabilitas mencapai 99,9%.
Hasil alat pendeteksi AI tetap perlu dipahami secara proporsional karena skor probabilitas bukan bukti mutlak yang berdiri sendiri.
Namun, ketika hasil tersebut disandingkan dengan tidak adanya identitas akademik yang terverifikasi dan ketiadaan sumber kredibel yang mengonfirmasi pernyataan itu, klaim dalam unggahan semakin tidak memiliki dasar yang kuat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa foto yang terlihat realistis dapat direkayasa menggunakan teknologi AI. Sebelum membagikan konten serupa, pengguna perlu memeriksa sumber asli, konteks gambar, dan bukti pendukungnya.
Riwayat Pendidikan Gibran dan Pentingnya Memisahkan Fakta
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tirto dari pemberitaan sebelumnya dan catatan pendidikan yang dirujuk, Gibran melanjutkan pendidikan menengah di Orchid Park Secondary School, Singapura, pada 2002–2004.
Ia kemudian menempuh pendidikan di Insearch, lembaga yang berafiliasi dengan University of Technology Sydney (UTS), Australia.
Sementara itu, Management Development Institute of Singapore (MDIS) mengonfirmasi bahwa Gibran pernah menjadi mahasiswa penuh waktu pada periode 2007–2010 dan menyelesaikan pendidikan diploma lanjutan sebelum melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar sarjana.
MDIS juga menyebut bahwa ia menyelesaikan program Bachelor of Science (Honours) bidang Pemasaran dari University of Bradford, Inggris, melalui lembaga tersebut.
Di sisi lain, perkara pendidikan Gibran pernah menjadi bagian dari proses hukum di Mahkamah Konstitusi (MK).
Dalam pertimbangan yang dibacakan Hakim Konstitusi Ridwan Mansyur pada 6 Oktober 2026, MK menyatakan tidak menemukan dokumen yang menunjukkan Gibran memiliki ijazah atau sertifikat pendidikan luar negeri yang dapat disetarakan dengan jenjang SMA atau sederajat di Indonesia.
Temuan hukum tersebut perlu dibedakan dari klaim tentang profesor Li Jie karena keduanya merupakan persoalan dengan konteks dan bukti berbeda.
Kesimpulan pemeriksaan fakta Tirto adalah klaim bahwa profesor Singapura bernama Li Jie mengaku tidak pernah melihat Gibran bersekolah di Singapura tidak berdasar dan tidak didukung informasi kredibel.
Sikap paling bijak adalah mengandalkan dokumen, sumber yang dapat diperiksa, dan putusan resmi, bukan sindiran atau gambar yang belum terverifikasi.
3 Poin Penting:
-
Klaim tidak memiliki dasar yang terverifikasi: Tidak ditemukan sumber kredibel yang mengonfirmasi pernyataan profesor bernama Li Jie mengenai Gibran.
-
Foto terindikasi dibuat dengan AI: Pemeriksaan Hive Moderation menunjukkan probabilitas 99,9 persen bahwa gambar yang beredar merupakan hasil generasi AI, meski skor alat bukan bukti mutlak.
-
Riwayat pendidikan dan persoalan hukum harus dibedakan: Informasi pendidikan Gibran serta pertimbangan MK perlu diperiksa berdasarkan sumber masing-masing, bukan disimpulkan dari unggahan media sosial.



