Bencana alam dan gangguan layanan publik bisa terjadi tanpa banyak peringatan.
Gempa bumi, banjir, cuaca ekstrem, hingga serangan siber yang melumpuhkan layanan penting dapat membuat masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih, makanan, listrik, dan akses komunikasi.
Karena itu, sejumlah negara mulai memperkuat edukasi kesiapsiagaan dengan mendorong warganya menyiapkan kebutuhan darurat di rumah. Pesannya sederhana: jangan menunggu keadaan genting untuk mulai bersiap.
Jepang, Inggris, dan Irlandia menjadi contoh negara yang mendorong masyarakat memiliki persediaan darurat.
Meski ancaman yang dihadapi berbeda, ketiganya menekankan pentingnya kemampuan rumah tangga bertahan ketika bantuan belum bisa menjangkau wilayah terdampak atau layanan sehari-hari terputus.
Pendekatan ini juga relevan bagi Indonesia yang menghadapi risiko gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, dan bencana hidrometeorologi.
Kesiapsiagaan bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan mengurangi kepanikan melalui perencanaan yang masuk akal.
Jepang Minta Persediaan untuk Tiga Hari hingga Satu Minggu
Pemerintah Jepang berencana mengimbau masyarakat menyiapkan persediaan makanan dan air untuk sedikitnya tiga hari, bahkan hingga satu minggu jika memungkinkan.
Menteri Penanggulangan Bencana Jepang, Goshi Hosono, menyampaikan bahwa masyarakat perlu mampu memenuhi kebutuhan dasar ketika bantuan publik belum tersedia.
Imbauan tersebut direncanakan disampaikan pada 2 November 2026, bertepatan dengan peluncuran badan penanggulangan bencana yang baru.
Langkah Jepang dilatarbelakangi potensi gempa besar di sepanjang Palung Nankai, gempa di bawah wilayah ibu kota, aktivitas seismik di sekitar Palung Kuril dan Palung Jepang, serta kemungkinan letusan Gunung Fuji.
Bencana berskala besar dapat merusak jalan, jaringan komunikasi, dan infrastruktur penting sehingga distribusi bantuan terhambat.
Dari sini, ada pelajaran penting bagi masyarakat: persediaan darurat sebaiknya tidak hanya berupa makanan instan, tetapi juga air minum, obat-obatan yang diperlukan, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan khusus anggota keluarga.
Persiapan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi rumah, jumlah penghuni, serta risiko di lingkungan masing-masing.
Inggris dan Irlandia Perkuat Edukasi Kesiapsiagaan
Pemerintah Inggris juga mendorong masyarakat mempersiapkan kebutuhan untuk menghadapi keadaan darurat selama sedikitnya 72 jam melalui kampanye Be Ready yang diluncurkan pada Oktober 2026.
Persediaan yang direkomendasikan meliputi air minum sekitar tiga liter per orang per hari, makanan yang dapat dikonsumsi tanpa dimasak, senter, baterai cadangan, pengisi daya portabel, radio, dan uang tunai.
Persiapan ini ditujukan untuk menghadapi berbagai gangguan, mulai dari badai dan hujan lebat hingga serangan siber yang dapat menghambat layanan listrik, air, dan telekomunikasi.
Pemerintah Inggris juga menekankan bahwa masyarakat tidak harus membeli semua perlengkapan sekaligus.
Sementara itu, Irlandia meluncurkan kampanye Be Emergency Ready pada akhir Agustus 2026 dan mulai mendistribusikan panduan kesiapsiagaan kepada rumah tangga sejak akhir September.
Panduan tersebut mencakup persediaan makanan tahan lama, air bersih, obat-obatan, serta perlengkapan alternatif untuk menjaga tubuh tetap hangat.
Pendekatan kedua negara ini menunjukkan bahwa edukasi publik sama pentingnya dengan penyediaan barang. Warga perlu mengetahui apa yang harus disiapkan, bagaimana menggunakannya, dan ke mana mencari informasi resmi ketika keadaan darurat terjadi.
Tanpa edukasi yang jelas, imbauan kesiapsiagaan berisiko hanya menjadi daftar belanja yang mudah dilupakan.
Indonesia Perlu Persiapan yang Realistis dan Inklusif
Bagi Indonesia, kesiapsiagaan darurat tidak harus dimulai dengan membeli perlengkapan mahal atau menimbun barang dalam jumlah besar.
Masyarakat bisa menyusun persediaan secara bertahap, misalnya menambahkan makanan tahan lama, air minum, senter, baterai, perlengkapan kebersihan, dan salinan dokumen penting saat berbelanja kebutuhan rutin.
Keluarga juga sebaiknya memiliki rencana komunikasi, mengetahui lokasi berkumpul jika terpisah, serta memahami jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal.
Persediaan perlu diperiksa berkala agar makanan tidak kedaluwarsa dan obat-obatan tetap layak digunakan.
Namun, tanggung jawab kesiapsiagaan tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada individu.
Pemerintah perlu memastikan informasi kebencanaan mudah diakses, sistem peringatan dini berfungsi, jalur evakuasi terawat, dan bantuan tetap menjangkau kelompok rentan, termasuk lansia, penyandang disabilitas, serta keluarga berpenghasilan rendah.
Persediaan darurat juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rumah tangga, bukan menjadi standar yang justru membebani masyarakat.
Pelajaran dari Jepang, Inggris, dan Irlandia adalah bahwa kesiapsiagaan terbaik menggabungkan persiapan keluarga, edukasi yang berkelanjutan, dan layanan publik yang tangguh.
Bencana memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi jika masyarakat dan pemerintah sama-sama siap.
Statement:
Goshi Hosono, Menteri Penanggulangan Bencana Jepang
“Saya ingin mengimbau masyarakat untuk menyiapkan persediaan setidaknya untuk tiga hari, dan jika memungkinkan, untuk satu minggu. Mohon siapkan makanan, perlengkapan toilet, dan air yang cukup di rumah agar Anda tetap dapat memenuhi kebutuhan meskipun tidak mendapatkan bantuan publik dari pemerintah.”
3 Poin Penting:
- Jepang, Inggris, dan Irlandia mendorong kesiapsiagaan rumah tangga: Persediaan makanan, air, obat-obatan, dan perlengkapan darurat diperlukan ketika bantuan atau layanan publik terhambat.
- Persiapan dapat dilakukan bertahap: Inggris menganjurkan persediaan untuk 72 jam, sementara Jepang mendorong persediaan setidaknya tiga hari hingga satu minggu jika memungkinkan.
- Indonesia membutuhkan strategi menyeluruh: Persiapan keluarga harus didukung edukasi kebencanaan, peringatan dini, jalur evakuasi, serta bantuan yang inklusif bagi kelompok rentan.



