Sulis Cinta Rasul Kolaborasi dengan Musisi Lintas Agama di KMI 2026, Sholawat Badar Jadi Simbol Toleransi

Penyanyi religi Sulis Cinta Rasul menghadirkan momen berbeda dalam penutupan Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 di kawasan Cagar Budaya Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (30/10/2026) malam.

Ia tampil bersama tiga musisi lintas agama, yakni Chrischof Lawalata dari Worship Nite Project, Joshua Artono dari IFG Praise, dan Ardy Wong dari Kalyana Project.

Keempatnya membawakan Sholawat Badar dalam satu panggung. Kolaborasi ini bukan hanya menjadi sajian musik, tetapi juga menghadirkan pesan tentang persaudaraan di tengah keberagaman.

Momen tersebut terasa istimewa karena keempat musisi mengaku baru pertama kali membawakan Sholawat Badar bersama-sama. Bagi Sulis, yang selama ini dikenal melalui lagu religi dan selawat, pengalaman ini menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan kariernya.

Ia menyebut kolaborasi tersebut sebagai pengalaman yang membuka ruang pertemanan dan kreativitas baru.

Di tengah masyarakat yang masih kerap dihadapkan pada persoalan perbedaan keyakinan, penampilan ini mengingatkan bahwa perjumpaan dan kerja sama bisa menjadi cara sederhana untuk membangun hubungan yang lebih terbuka.

Sholawat Badar Menyatukan Musisi Berbeda Keyakinan

Sulis mengaku tidak menyangka bisa membawakan selawat tersebut dengan iringan musisi yang memiliki latar belakang agama berbeda.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman lintas iman bukan sekadar agenda pertunjukan, melainkan peristiwa personal yang memiliki arti penting bagi para pelakunya.

Hal menarik lainnya muncul dari proses persiapan yang berlangsung sangat singkat. Sulis mengungkapkan bahwa mereka hanya membutuhkan sekitar 15 menit untuk mempelajari aransemen Sholawat Badar sebelum naik panggung.

Cerita ini memperlihatkan bahwa keterbukaan untuk belajar dan saling mendengarkan dapat membuat kolaborasi berjalan lebih cair. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang ketika setiap orang datang dengan rasa hormat dan kemauan bekerja sama.

Musik sebagai Ruang Dialog dan Toleransi

Penampilan di Fort Rotterdam tersebut mendapat perhatian karena menghadirkan pesan toleransi melalui medium yang dekat dengan banyak orang, yaitu musik.

Keempat musisi tidak perlu menghilangkan identitas masing-masing untuk tampil bersama. Mereka justru membangun harmoni melalui karya yang dibawakan dengan saling menghargai.

Pesan semacam ini penting, terutama ketika perbedaan agama, budaya, dan pandangan masih mudah dijadikan alasan untuk membangun jarak.

Musik memang tidak otomatis menyelesaikan persoalan intoleransi, tetapi dapat membuka ruang perjumpaan yang selama ini mungkin jarang terjadi.

Respons positif juga bermunculan di media sosial. Nama Sulis dan tagar #SholawatBadar dilaporkan menjadi trending topic di platform X, sementara sejumlah warganet memberikan apresiasi terhadap kolaborasi tersebut.

Meski begitu, dukungan di dunia maya sebaiknya tidak berhenti pada komentar dan unggahan sesaat.

Masyarakat dapat menerjemahkan pesan toleransi itu ke dalam tindakan sehari-hari, seperti menghormati kegiatan ibadah orang lain, membuka ruang dialog, serta tidak mudah menyebarkan ujaran kebencian.

Dengan begitu, pesan dari panggung musik tidak hanya menjadi tren, tetapi juga kebiasaan sosial.

Apresiasi Perlu Diikuti Ruang Kolaborasi yang Lebih Luas

Bagi industri musik Indonesia, kolaborasi Sulis bersama Chrischof Lawalata, Joshua Artono, dan Ardy Wong menunjukkan bahwa kerja kreatif lintas keyakinan memiliki peluang untuk dikembangkan.

Festival, konferensi musik, dan pertunjukan publik dapat menjadi ruang pertemuan bagi musisi dengan latar belakang berbeda.

Penyelenggara juga bisa menghadirkan lebih banyak program kolaboratif yang tidak sekadar mengejar sensasi, tetapi memberi kesempatan kepada para seniman untuk saling mengenal, bertukar gagasan, dan menciptakan karya bersama.

Pada akhirnya, kolaborasi Sholawat Badar di KMI 2026 menjadi pengingat bahwa persatuan tidak harus dibangun dengan menyeragamkan keyakinan atau identitas.

Justru, keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika setiap pihak bersedia saling menghormati.

Publik pun perlu melihat momen ini secara proporsional: mengapresiasi keberanian para musisi, menjaga ruang diskusi tetap sehat, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan perdebatan yang memecah belah.

Dari panggung Fort Rotterdam, Sulis dan ketiga rekannya menyampaikan pesan sederhana, tetapi relevan: harmoni bisa tercipta ketika manusia memilih untuk saling mendengarkan.

Statement:

Sulis

“Saya bernyanyi diiringi oleh teman-teman dari Nasrani. Jadi KMI 2026 ini merupakan sejarah dalam hidup dan karier saya.”

“Teman-teman ini waktu ngulik Sholawat Badar cuma butuh waktu 15 menit. Saya jadi curiga, jangan-jangan mereka sering main lagu ini.”

3 Poin Penting:

  • Kolaborasi lintas agama: Sulis Cinta Rasul tampil bersama Chrischof Lawalata, Joshua Artono, dan Ardy Wong membawakan Sholawat Badar pada penutupan KMI 2026 di Fort Rotterdam, Makassar.
  • Pengalaman berkesan: Sulis menyebut kolaborasi tersebut sebagai sejarah dalam hidup dan kariernya. Proses mempelajari aransemen lagu hanya membutuhkan sekitar 15 menit.
  • Pesan toleransi: Penampilan ini mendapat perhatian di media sosial dan menjadi pengingat bahwa musik dapat membuka ruang dialog, persaudaraan, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Kategori

PODCAST