Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa yang dilepas oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak pada Februari 2025 telah mendapatkan hasil yang menggembirakan.
Melalui pemasangan 40 kamera jebak di kawasan Pegunungan Sanggabuana, Karawang, tim berhasil mendokumentasikan 19 individu macan tutul dan macan kumbang, termasuk dua di antaranya adalah anak macan.
Hasil ini menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk menyusun program perlindungan satwa prioritas dan terancam punah.
Survei populasi ini tidak hanya mendapatkan data individu, tetapi juga melakukan mitigasi ancaman dan pemetaan preferensi pakan.
Data dari ekspedisi ini diharapkan menjadi dasar kuat untuk mengusulkan perubahan status hutan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi.
Penetapan ini akan memberikan kepastian hukum dan perlindungan maksimal terhadap keanekaragaman hayati di sana.
Habitat yang Butuh Perlindungan
Meskipun populasi macan tutul masih bertahan dalam jumlah signifikan, temuan ini juga menjadi pengingat bahwa habitat mereka perlu lebih dilindungi agar tidak terjadi ancaman ekologis akibat kepadatan populasi.
Kehadiran prajurit Menlatpur Kostrad dalam ekspedisi ini juga membawa dampak positif.
Selain terlibat dalam penelitian, mereka juga berperan aktif dalam patroli antiperburuan dan pencegahan perambahan hutan, yang terbukti mampu menekan angka perburuan liar di kawasan Sanggabuana.
Survei populasi dengan metode ilmiah dan standar protokol ini merupakan yang pertama kali dilakukan di kawasan tersebut.
Selain macan tutul, kamera jebak juga berhasil mendokumentasikan satwa langka lainnya, seperti Elang Jawa, yang semakin memperkuat status Pegunungan Sanggabuana sebagai kawasan konservasi bernilai tinggi.
Kegiatan ini menunjukkan komitmen TNI AD terhadap kelestarian alam dan ekosistem, sesuai dengan arahan KSAD yang ingin mendukung penuh upaya pelestarian hutan lindung.
Statement:
Koordinator Tim Survei Macan Tutul Jawa Sanggabuana, Bernard T Wahyu Wiryanta (dalam CNN Indonesia)
“Dengan adanya survei populasi ini, selain mendapat data individu Macan Tutul Jawa, juga dilakukan mitigasi ancaman dan pemetaan preferensi pakan.”
“…data ini akan menjadi dasar penting dalam usulan perubahan fungsi hutan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi, sehingga ada kepastian hukum terhadap status hutan dan upaya perlindungan keanekaragaman hayati dapat lebih maksimal.”



