Sebuah momen penuh haru (dan juga penuh kode etik politik) baru saja terjadi di sela-sela perayaan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM.
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), dengan senyum khasnya yang seolah menyimpan ribuan makna, menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-74 kepada suksesornya, Presiden Prabowo Subianto.
Doa yang diucapkan Jokowi sungguh mulia: “Semoga beliau selalu diberikan kekuatan, kesehatan dalam mengemban tugas besar, mengelola pemerintahan dan negara kita. Selamat ulang tahun.”
Doa ini terdengar begitu tulus, seolah Jokowi tahu persis seberapa besar dan berat tugas yang diemban Prabowo, terutama setelah warisan yang ditinggalkan rezim sebelumnya.
Kita semua berharap, kekuatan ini mencakup kekuatan untuk menahan godaan menambah program spektakuler baru.
Jokowi kemudian melanjutkan evaluasinya terhadap satu tahun masa jabatan Prabowo yang akan genap pada 20 Oktober 2025. Menurut Jokowi, secara keseluruhan, pemerintahan Prabowo berjalan cukup baik.
Ia melihat “kebijakan-kebijakan dan gagasan-gagasan besar yang beliau kerjakan” berjalan dengan baik. Namun, di tengah banjir pujian, Jokowi menyelipkan kalimat penyejuk: “bahwa ada hal yang kecil-kecil yang perlu dievaluasi, perlu dikoreksi saya kira sudah dijalankan oleh beliau.”
Sebuah pernyataan yang humanis, seolah memberi tahu publik bahwa pekerjaan mengurus negara itu seperti membuat kopi: ada ampas kecil yang perlu dibuang.
Program Unggulan yang Berjalan dengan Baik
Bagian paling menarik dari evaluasi Jokowi adalah saat ia menyoroti program unggulan Prabowo. Evaluasi, kata Jokowi, mencakup pelaksanaan Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Dengan mata berbinar optimistis, Jokowi meyakini semua program ini “berjalan dengan baik” dan “diapresiasi oleh masyarakat.” Tentu saja, “berjalan dengan baik” di sini harus dimaknai dengan kacamata politis yang tebal.
Sebab, faktanya, program unggulan tersebut memang tak luput dari sorotan tajam. Terutama MBG, yang hingga kini masih terus menimbulkan kasus keracunan pangan di beberapa daerah.
Jadi, ketika Jokowi mengatakan MBG “berjalan dengan baik,” kita harus mengasumsikan bahwa yang dimaksud “berjalan” adalah programnya terus berjalan meskipun ada tantangan “kecil-kecil” berupa insiden keracunan.
Barangkali yang dimaksud “diapresiasi” adalah apresiasi terhadap upaya pemerintah yang tak kenal lelah mendanai program semacam itu, bukan apresiasi perut masyarakat yang kadang harus merasakan sensasi kejutan setelah menyantap makanan yang seharusnya “bergizi.”
Harapan untuk Kekuatan Fisik dan Kekuatan Spiritual
Ucapan ulang tahun dari Jokowi ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga membawa pesan tersirat tentang transisi kekuasaan dan dukungan moral.
Jokowi menempatkan dirinya sebagai mentor yang memberikan review positif dengan sedikit catatan kaki.
Ini adalah cara elegan untuk mengatakan, “Saya tahu Anda berusaha, dan saya tetap di sini untuk mengingatkan hal-hal kecil yang terlewat.”
Kita semua mendoakan agar Presiden Prabowo tidak hanya diberikan kekuatan fisik di usia 74 tahun untuk mengemban “tugas besar,” tetapi juga kekuatan spiritual untuk terus melihat ampas kecil yang perlu dikoreksi.
Semoga di tahun-tahun mendatang, program-program unggulan ini benar-benar bisa “berjalan dengan baik” tanpa perlu melibatkan ambulans atau pemberitaan tentang insiden yang mengganggu selera makan publik.
![BBM Pertamina [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/kenaikan-harga-bbm-nonsubsidi-maret-2026-dinamika-minyak-global-dorong-penyesuaian-di-seluruh-spbu-300x206.webp)


